TANAM KOPI UNTUK BELI KOPIAH

Gus Lim
Karya Gus Lim Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 22 April 2016
TANAM KOPI UNTUK BELI KOPIAH

Ida Rohani 28 tahun, Salah satu buruh Kopi Ijen yang di lokasi kebun kopi afdeling Kampung baru yang ada di sempol kawah ijen ini dari sekian banyak buruh yang ada menceritakan bagaimana nasibnya menjadi buruh pemetik kopi. Pagi – pagi sekali kami harus bangun mas sekitar jam 04.00 untuk mempersiapkan semua kebetuhan rumah tangga dari memasak,menyapu halaman, hingga mempersiapkan keperluan anak – anak untuk sekeloh.Selesai itu semua kami mempersiapkan bekal makan untuk di bawa ke kebun buat sarapan pagi dan makan siang,setelah jam 05.00 kami beragkat dari rumah ke afdeling masing untuk absen terlebih dahalu sebelum berangkat ke kebun untuk memetik kopi. Nah dari sanalah kegiatan kami di maulai, kami berjalan kaki hampir 1 km setiap harinya untuk bekerja baik memetik kopi ataupun merawat kopi yang ada di kebun ini”tuturnya.Ida menambahkan kalau pekerjaan menjadi buruh pemetik kopi ini sudah di jalani selama bertahun – tahun”kami disini bekerja dari jam6 pagi sampe jam 3 sore dengan gaji 25/perhari hal itu kami jalani walaupun kerasa tidak cukup untuk kebetuhan sehari dah masih jauh dari kata layak untuk biaya kehidupan kami.Baru setelah panen raya kopi tiba sekitar bulan agustus kami sangat senang karena dengan adanya musim panen kopi tersebutlah kami bisa mendapatkan upah yang lebih,ya kalau di uangkan hampir mendapatkan 60-80 ribu setiap harinya dari hasil memetik kopi tergantung sedikit banyaknya hasil panen yang di dapatkan “imbuhnya.

Itulah sekelumit gambaran bahwa ternyata Kwalitas kopi ijen yang sudah mendunia terkenal di beberapa negara di eropa dan Amerika ini tidak bisa mengangkat buruhnya untuk hidup yang layak. Hal ini jauh terbalik 1800 dari kehidupan para buruh yang bekerja di tempat tersebut, ini perlu menjadi perhatian penuh pemerintah untuk memperbaiki sistem yang ada agar para buruh bisa mempunyai kehidupan yang lebih layak. Karena kita tahu bahwa kwalitas kopi ijen sudah tidak diragukan lagi, dengan berada di ketinggian sekitar 1800M dari permukaan laut, kwalitas kopi ijen menjadi salah satu kopi terbaik di dunia karena perkebunan kopi didaerah ijen ini  tidak pernah terkena hama karena ada bau belerang di sekitar lereng kebun kopi ijen,hal itulah yang bisa membedakan rasa kopi ijen dengan kopi – kopi di daerah lainnya.

Terlepas dari permasalahan makro yang membelit tatanan komoditas perkopian di negeri kita ini, saya justru terinspirasi dari fakta yang dialami buruh pemetik kopi tersebut, bahwa sejatinya kalau ditelusur dari kesejarahannya, ternyata KOPI sangat erat kaitannya dengan masa kejayaan dari sebuah peradaban, yaitu cerita yang berawal dari sebuah legenda populer tentang seorang gembala kambing bernama Kaldi pada abad ke-9. Suatu hari dia melihat kambing-kambingnya berperilaku aneh. Kambingnya menjadi lebih berenergi, saling berkejaran, dan mengembik dengan keras. Ia melihat mereka sedang makan buah merah dari semak-semak di dekatnya.

Merasa lelah dan sedikit penasaran, Kaldi memutuskan mencoba beberapa buah. Ia pun menjadi segar kembali. Kisah tertulis mengenai Kaldi baru muncul dalam manuskrip bertahun 1671. 
Alih-alih memakan buah kopi begitu saja, biji kopi direbus sehingga tercipta al-qahwa. Kaum sufi di Yaman meminum al- qahwa dengan alasan yang sama dengan kita saat ini, yakni agar tetap terjaga saat berzikir dan shalat malam.

Tidak diketahui dengan pasti kapan kopi ditemukan. Kopi mulai dibudidayakan di Yaman sekitar 575 Masehi. Sebuah legenda Islam dalam manuskrip Abdul al- Kadir menuturkan tentang bagaimana Syekh Omar menemukan kopi tumbuh liar saat ia bertapa di dekat pelabuhan Mocha di Yaman. Ia kemudian merebus beberapa buah dan merasakan minuman tersebut memiliki efek merangsang dan menyembuhkan.

Kemungkinan lain, kopi menyebar ke Yaman melalui budak-budak Sudan. Para budak memakan biji kopi untuk membantu tetap hidup karena mereka mendayung kapal menyeberangi Laut Merah, di antara Afrika dan Semenanjung Arab.

Bukti menunjukkan kopi tidak dinikmati sebagai minuman hingga sekitar abad ke-10. Dokumen tertua yang menulis tentang minuman kopi juga berasal dari abad ini. Dua filsuf Arab, Muhammad bin Zakariya al-Razi (850-922) dan Ibnu Sina dari Bukham (980-1037) menyebutkan minuman "bunchum" yang diyakini sebagai kopi.

Sebagaimana Alquran melarang Muslim meminum alkohol, efek menenangkan dari kopi menjadikannya sebagai minuman pengganti anggur bagi negara Muslim.

Kedai kopi pertama didirikan di Konstantinopel pada 1475. Kedai itu dikenal dengan Kaveh Kanes. Kedai kopi menjadi ajang berkumpul di mana Muslim bisa bersosialisasi dan mendiskusikan masalah-masalah agama.

Biji kopi pertama kali diekspor dari Ethiopia ke Yaman. Pedagang Yaman membawa kopi kembali ke tanah air me reka dan mulai menanamnya. Pelarangan kopi Hubungan antara Islam dan kopi tidak selalu berjalan mulus. Beberapa Muslim percaya kopi memabukkan dan harus dilarang. Pada 1511, Gubernur Makkah Khair Beg melihat beberapa jamaah minum kopi di sebuah Masjid saat akan beribadah malam. Dengan marah ia mengusir mereka dari Masjid dan memerintahkan semua kedai kopi di Makkah ditutup.

Namun, larangan itu dibatalkan pada 1524 atas perintah penguasa Ottoman Turki Sultan Selim I dan Imam Besar Mehmet Ebussuud el-Imadi. Keduanya mengeluarkan fatwa yang membolehkan mengonsumsi kopi. Larangan serupa juga terjadi di Kairo (Mesir) pada 1532. Kedai kopi dan gudang yang berisi biji kopi ditutup. Gereja Ortodoks Ethiopia juga pernah melarang kopi pada abad ke-18.  Pada akhir abad ke-16, penggunaan kopi tersebar luas di seluruh Tmur Tengah, Afrika Utara, Persia, dan Turki. Kopi kemudian menyebar ke Balkan, Italia, seluruh Eropa, Indonesia, dan Amerika.

Kedai kopi pertama di Eropa dibuka di Venesia pada 1645 setelah kopi masuk ke Eropa melalui hubungan dagang dengan Afrika Utara dan Mesir. Kedai kopi Edward Lloyds di Inggris dibuka di London pada akhir abad ke-17.

Lloyds menjadi tempat bertemunya para pedagang dan pemilik kapal. Kedai kopi menjadi cikal bakal berdirinya pub. Tempat-tempat ini menjadi tempat bertukar pikiran mengenai politik dan turut andil pula atas terbentuknya gerakan liberal. Manfaat kopi yang dianggap begitu besar dianggap sama pentingnya dengan roti dan air. Bahkan, jika suami menolak kopi buatan istrinya dapat menjadi alasan perceraian dalam hukum Turki.

Nah, dari fakta sejarah tentang KOPI sebagai warisan cultur umat islam ini. Maka tak ada alasan bagi kita bahwa spirit pembaharuan untuk turut terlibat memperbaharui sistem tatakelola dan tataniaga perkopian ditanah air harus diposisikan agar berpihak pada kepentingan buruh/petani (sebagai pihak yang termarginalkan) dalam tatanan sistem ini. Entah, bagaimana bentuk solusi teknis dan strategisnya dalam memperbaiki sistemnya, ini nantinya merupakan bahasan tersendiri yang menjadi tantangan kita semua dalam memainkan peran sebagai individu pengemban misi rahmatan lil alamin. Bagi saya (penulis-red), alangkah bahagianya kita jika bisa berkiprah dibidang perKOPIan dengan gigih dan penuh kesungguhan membantu meberdayakan, sehingga Buruh pemetik kopi seperti Bu ida bisa meningkatkan taraf hidup dan pendidikan keluarganya, bahkan kemudian bisa membelikan KOPIAH anaknya cukup hanya dari sebatang pohon kopi yang ia tanam di belakang rumahnya. Sebab bagi seorang ibu seperti Ida, membelikan Kopiah/Songkok/Peci adalah sebuah kebanggan, karena dalam tradisi jawa KOPIAH lazim dikenakan sebagai bagian pelengkap pakaian saat beribadah. Dimana, penggunaannya selalu ditempatkan dikepala yang merupakan bagian badan paling atas dan terhormat.  Bagi Bu Ida, orang yang mengenakan KOPIAH bisa menjadi perlambang bahwa ia selalu menempatkan diri pada tingkat derajat kemuliaan yang tinggi. Tentu dalam hal ini KOPI dan KOPIAH memiliki kesan tersendiri bagi bu Ida dan keduanya sama penting dalam kehidupannya, mungkin juga dalam kehidupan kita semua. Sebab KOPI dan KOPIAH keduanya symbol kejayaan dan kehormatan suatu kaum/umat dan bangsa. Mari Bersatu kita Ngopi!

 

*Tulisan ini didedikasikan untuk Tim Ekspedisi Kopi2016 - ISMI (Ikatan Saudagar Muslim Indonesia)JATIM.

  (Penulis adalah Sekretaris Div.Agrobisnis / Project Leader Ekspedisi Kopi2016)

  

  • view 214