KENAPA PETERNAK AYAM BANGKRUT??

Gus Lim
Karya Gus Lim Kategori Ekonomi
dipublikasikan 13 April 2016
KENAPA PETERNAK AYAM BANGKRUT??

Kepada sobat peternak ayam dan itik harap waspada! krn virus flu burung sdg melanda Lamongan dan Banyuwangi.

Yg lebih penting lagi, hal berikut ini anda harus ketahui:

Kapitalisasi bisnis ayam dari bibit, pakan, vaksin, sampai daging olahan, mencapai Rp 450T/thn,80 % uang hanya dikuasai 2 PMA,Busyeet !!.....Dari tahun 2009-2016 yg tadinya ada 100ribuan peternak ayam rakyat menyusut hingga tinggal 5ribuan peternak.
Rumah potong ayam atau unggas yg penuhi standar hanya ada 110 RPA,ini salah satu penyebab harga ayam tinggi. Selain ayam hidup & daging ayam perusahaan PENGUASA unggas ini penguasa 80% DOC (anakan ayam) dan pakan ayam. Dengan nilai bisnis Rp.450 triliun, bisnis ayam ini dikuasai 80% perusahaan PENGUASA dengan model integrator. Akibat pengurangan stock bibit ayam atau DOC Day Old Chick ke peternak banyak daerah kekurangan pasokan ayam potong.

Iniilah 12 perusahaan PENGUASA ayam pedaging Indonesia : 1.Charoen Pokphand 2.Japfa Comfeed 3.Sierad Produce 4.Wonokoyo Jaya 5. Cheil Jedang 6. Malino Feedmills 7. Cibadak Farm 8. Taat Indah 9. Hybro Indonesia 10. Missouri 11. Mustika Group 12. Sido Agung group.
Kini..., ada 2.5 juta peternak ayam rakyat terancam BANGKRUT karena harga daging ayam mereka tak mampu bersaing dg perusahaan ayam yg terintegrasi. Fenomena daging ayam Indonesia saat ini di produsen atau peternak ayam harga rendah, smtr di konsumen harga tinggi.
Bisnis unggas diIndonesia capai 450 T,80% didominasi petani mandiri tapi 4 tahun akhir dikuasai perusahaan besar. Ketika harga daging ayam Rp.36-39.000/kg rakyat 'iri' dg harga Malaysia yg hanya 13.500/kg,atau Thailand 14.000/kg.
Di MEA, Thailand dan Malaysia adl eksportir terbesar ayam broiler,Indonesia termasuk 10 besar produsen broiler dunia namun bkn eksportir. Inilah biaya produksi ayam broiler di Malaysia ($0.63),Thailand ($0.50),Filipina ($0.62),Indonesia ($0.80) per kg,pantas harga ayam mahaaal!

Disamping itu, dalam operasi pasar bulog m'perbolehkan peternak unggas skala kecil secara kolektif membeli jagung lgsg ke Bulog dg harga Rp.3.750/kg. Karena jagung / pakan ternak unggas mahal, peternak ayam menyiasatinya dg menggunakan nasi aking dan limbah makanan peternak unggas skala kecil mulai b'tumbangan krn kesulitan membayar cicilan pinjaman bank dan tdk mampu membeli pakan unggasnya. Jk komoditi jagung sepenuhnya mengikuti pasar maka petani jagung dan peternak unggas akan gulung tikar.
Satu hal lagi terkait persoalan distribusi yg begitu panjang dan tdk efektif. Ada 6 rantai distribusi biang kerok harga ayam mahal: 1.Peternak 2.Broker 3.Bandar 4.Bakul 5.Pemotong/pedagang 6.Konsumen. Jadi miris, Petani,nelayan,petambak bahkan peternak Indonesia terjerat rantai pemasaran yg dikuasai tengkulak hingga 5-7 tingkatan. Warbiyazaa negeri kita ini......! smile emotikon

#‎Salam !

*Penulis adalah Founder @santri_beternak 

Medio @KakiBukitArjuno_12/4/2016
(*Data diolah dr berbagai sumber)

  • view 1.1 K