DAULAT WORTEL

Gus Lim
Karya Gus Lim Kategori Ekonomi
dipublikasikan 24 Maret 2016
DAULAT WORTEL

?Hi..Pren, tahukah anda wortel impor itu lebih berwarna cerah, tidak berserat dan renyah, sedangkan wortel kita kecil-kecil, banyak akar serabut, berserat atau bahkan berkayu, harganyapun murah bahkan kita bisa mudah beli di sekitar ?taman safari? untuk pakan kelinci....? celotehan seorang sahabat.

Sebegitukah apresiasi kita terhadap wortel lokal sebagai ?animal feed? ?. Bahkan dari kita sendiri terkadang apresiasi itu masih saja kurang berpihak ke produk domestik. Padahal kalau kita cinta produk lokal, kita beli wortel domestik, kandungan gizi pun tidak kalah karena kita yakin dengan membeli hasil petani hortikultura kita berarti menyumbang sedikit konsumsi sayuran lokal yang kemudian secara berbarengan pada gilirannya akan menyumbang besar terhadap tingkat konsumsi sayuran nasional. Dan inilah pasar domestik kita yang potensial.

Tapi apa lacur ?? Data impor wortel dari china yang masuk ke Pulau Jawa saja 300 ton per bulan. Dan bukan hal yang mustahil jika kita menemukan fakta lapangan bahwa negara tetangga seperti singapura dengan bandrol negaranya malah bisa memasukkan wortel dan jenis sayur lainnya ke kota-kota besar di pulau kalimantan dan jawa hingga Papua meski ngulaknya di Sumatra, itu sudah sejak duluuuuu....apalagi sekarang sudah MEA katanya.

Semakin jauh kita mengusutnya, kembali lagi menemukan fakta lucu dan menggelikan diantaranya bahwa:

  1. Alasan pemerintah mengijinkan import wortel masuk ke Indonesia karena justifikasinya tidak ada jenis wortel di Indonesia yang menyerupai wortel impor.
  2. Wortel impor dari China tentu harus menempuh jarak dan waktu yang cukup lama untuk sampai ke Indonesia yang pastinya untuk awet menuntut perlakuan khusus saat packing maupun dalam ekspedisinya, semisal saja lilinisasi (penggunaan lilin).
  3. Beberapa pengalaman ujicoba penanaman wortel di Indonesia yang benihnya impor dari china, ternyata untuk bisa survive sangat membutuhkan perlakuan yang intens terutama dalam pemberian pestisida harus maksimal.
  4. Hasil ujicoba perlakuan sederhana terhadap wortel import dan lokal yang dipanaskan (rebus) dalam suhu 100oC menunjukkan wortel impor melebur seperti bubur dan wortel lokal masih tetap renyah/krispi.
  5. Wortel impor membludak di pasar tradisional dengan harga dan serapan lebih tinggi dari pada wortel lokal, tetapi pada kondisi yang lain pernah dijumpai wortel impor dijual lebih murah dari lokal (diobral) di sebuah super market padahal wortelnya kurus, dekil, kusam dan tidak segar lagi.
  6. Dalam Roadmap pengembangan komoditas hortikultura pemerintah, hampir tidak dijumpai program khusus untuk pengembangan wortel seperti halnya prioritas program pada kentang, bawang dan cabe.

Inilah, beberapa kelucuan dan fakta yang terjadi didunia per-wortel-an kita sekarang, meski tentunya dalam hal ini masih diperlukan data dan argumen ilmiah yang lebih detail untuk bisa menjadi acuan dalam menyusun policy brief. Perlawanan terhadap komoditas import di era MEA ini tak lagi bisa disuarakan dengan jargon #TolakImpor. Justru sebaliknya cara kita menghadapi dan mensikapinya harus dengan cara realitistis dan elegan. Realistis karena alam kita subur, bahkan tongkat kayu jadi tanaman maka niscaya kita sangat bisa menanam dan menghasilkan wortel yang berkualitas (rekomended Wortel Berastagi) . Cara elegan tentunya bisa dilakukan dengan menjadikan gairah harga komoditas impor ini jadi sentimen positif untuk meningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Tetapi yang lebih penting dari semua cara yang dilakukan ini harus bermuara pada kedaulatan petani meski dimulainya dari Daulat Wortel sekalipun.

?

*Penulis: *Sekjend Asosiasi Petani Pengolah Hasil Hortikultura (Asppehorti) - Jatim


  • Dicky Armando
    Dicky Armando
    1 tahun yang lalu.
    Kalau saya bilang, ini sudah cukup jelas, seandainya pun perlu detail, mungkin sajikan saja data penjualan wortel lokal dan jumlah penjualan wortel impor yang masuk ... cuma saran saja Bang.

  • Dicky Armando
    Dicky Armando
    1 tahun yang lalu.
    Tulisan ini mengembalikan kesadaran, cakep!

    • Lihat 1 Respon