Membincang Orang Besar di Sekeliling Kita

M.G Adib
Karya M.G Adib Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 Desember 2016
Membincang Orang Besar di Sekeliling Kita

 

Apa yang anda bayangkan ketika mendengar kata pahlawan? Mungkin di benak anda akan langsung meloncat jauh teringat sejarah proklamasi, perang dan nama-nama besar pejuang yang ikut di dalamnya. Untuk menyebut sebagian anda mungkin akan teringat nama Soekarno, Jendral Soedirman, KH Wahid Hasyim dan banyak nama lain yang pernah anda baca atau dengar.  Mereka, beliau-beliau yang telah berjuang mengorbankan apapun yang dimiliki dari harta sampai nyawa untuk memperoleh kemerdekaan bangsa ini. Mereka bersatu, gigih dan tak mengharap imbalan apapun dari perjuangannya. Mereka adalah pahlawan yang jasa dan pengabdiannya sangat besar pada Negeri ini.

Kini bangsa kita sudah merdeka. Dengan pertanyaan yang sama apa jawaban anda? Menurut imanjinasi saya ada 2 kemungkinan. Pertama kata pahlawan bagi sebagian dari anda akan mengingatkan pada sosok pemimpin daerah yang cukup fenonemal seperti Pak Jokowi, Bu Risma atau Pak Emil Wali Kota Bandung. Di tengah miskinnya gebrakan para kepada daerah beliau-beliau hadir sebagai sosok inspiratif yang berhasil melakukan perubahan nyata. Ketegasan, gebrakan serta sikap-sikap pro-rakyat beliau tunjukkan dalam keputusan-keputusan yang beliau ambil. Dan mungkin seperti itulah imaji sosok pahlawan yang cenderung hadir dalam pikiran anda.

Atau kemungkinan kedua. Boro-boro anda menemukan jawabannya, asosiasi yang teringat di benak anda malah sebaliknya. Pahlawan menjadi terasosiasi negative. Kemunafikan dan penghianatan dari pemimpin negeri ini menghantui bayang-bayang anda. Ada kemungkinan anda akan segera teringat nama-nama besar pada kasus megakorupsi mulai dari Hambalang yang menyeret Mantan Menpora Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum atau kasus suap ketua MK Akil Mokhtar. Beliau dahulunya adalah pahlawan yang dipuja-puji. Namun, kemunafikan dan pengkhianatan pada Negeri ini membuat mereka  balik dibenci.

Menurut penelitian ahli neurotika. Ketika otak mengingat suatu objek maka otak kita akan bekerja dan mengasosiasikan objek tersebut dengan objek lain yang tersimpan dalam otak. Asosiasi yang paling dekat menunjukkan adanya pola hubungan yang kuat antar objek di otak kita. Baik hubungan yang bersifat anonim ataupun antonim.

Perluasan

Definisi menentukan arti. Kamus besar bahasa Indonesia menjelaskan kata pahlawan sebagai “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani”. Definisi ini yang menuntun kita selalu mengasosiasikan kata pahlawan dengan kejadian masa lampau. Hal ini diperkuat dengan penjelasan guru-guru kita sewaktu di sekolah yang selalu menampilkan pahlawan sebagai orang-orang yang berjuang dalam perang kemerdekan bangsa ini. Mereka yang membawa senjata dan masuk kemedan pertempuran. Kemudian yang terjadi adalah penyempitan pemahaman kita akan pahlawan yang terbatas pada sosok-sosok itu saja.

Anda akui atau tidak bahwa itulah yang terjadi sekarang. Padahal waktu terus berlari tanpa henti bukan. Bisa saja seorang pada masa kini akan diberikan penghargaan sebagai pahlawan atau “dipahlawankan” pada masa mendatang karena jasa-jasa yang telah dilakukannya selama ini. Hal itu sangat mungkin terjadi.

Dalam pikiran saya definisi pahlawan sangat luas. Tidak hanya terbatas pada seorang yang menonjol dalam pengorbanan dan keberanian saja tetapi pada setiap anak bangsa yang telah berkorban untuk sesamanya. Dari definisi yang saya buat itu saya kemudian memasukkan tukang becak, penjual sayur keliling, pasukan kuning, kuli bangunan, penjual pentol, tukang tambal ban, buruh pabrik, pemulung, mbok-mbok penjual jamu keliling, nelayan kecil, guru di daerah pelosok negeri, penjual asongan di bus-bus dan banyak yang lainnya sebagai pahlawan. Pahlawan yang telah berjasa pada sesama.

Kenapa saya bisa berpikir seperti itu? karena tidak mudah untuk menjadi manusia yang mau berkorban untuk sesama. Apalagi dengan keterbatasan yang dimiliki. Pengorbanan yang mungkin kita anggap kecil artinya bisa jadi adalah segalanya untuk mereka. Mungkin adalah hidup mereka sendiri.

Menjadi Pahlawan

Mahasiswa adalah salah satu pewaris utama harta para pahlawan –nilai-nilai kepahlawanan. Hal ini telah terbuktikan oleh lembaran-lembaran sejarah bangsa. Ketika itu banyak organisasi kepemudaan (yang anggotanya kebanyakan mahasiswa) berdiri di era pra-kemerdekaan dan melakukan tugas-tugas kepahlawanan. Berjuang untuk rakyat dan bangsa.

Selanjutnya, Lembaran paska-kemerdekaan masih mencatat kepahlawanan mahasiswa dalam konteks pengabdian pada negara dan bangsa. Sampai terakhir kita terperangah bagaimana heroiknya mahasiswa dan rakyat merebut demokrasi pada tahun 1998. Gerakan besar yang timbul oleh internalisasi nilai kepahlawanan selama bertahun-tahun.

Sayang, paska gerakan 1998 itu kepahlawan mahasiswa seolah terputus dan hilang dari belantara sosial masyarakat. Rakyat tidak lagi merasakan kehadiran pahlawan-pahlawan mereka (baca : mahasiswa) membela seperti yang dulu-dulu. Pahlawan-pahlawan dari golongan mahasiswa itu seakan ditelan bumi, hilang tanpa bekas. Mahasiswa saat ini semakin terpisah dengan rakyat. Mahasiswa terlalu asyik dengan kelasnya sendiri tanpa mau peduli dan kembali lagi ketengah-tengah masyarakat.

Lebih dari sekedar tugas akademik. Mahasiswa juga bertugas meneruskan perjuangan para pahlawan. Kenapa? Karena pada pundak mahasiswa inilah masa depan bangsa ini dipertaruhkan. Jika sekarang mahasiswa hanya asyik dengan diri sendiri. Tidak peduli pada masyarakat saya khawatir ketika mereka nanti menjadi pemimpin mereka akan mudah terlena dengan fasilitas/godaan dan melupakan tanggungjawabnya pada masyarakat.

Mahasiswa sebagai calon future leaders bangsa ini harus bersiap diri menjadi pahlawan. Mengabdi pada Bangsa dan Negara, memperjuangkan hak-hak rakyat, mempelopori kesetaraan dan keadilan, menanam dan menumbuhkan nasionalisme, membangun bersama masyarakat. Gotong royong bersama rakyat, untuk rakyat dengan ikhlas, kebesaran hati dan keteladanan patriotik.

Setiap orang mempunyai pilihan. Termasuk pilihan untuk menjadi pahlawan. Tetapi bagi mahasiswa itu bukanlah pilihan. Menjadi pahlawan adalah sebuah kewajiban. Siapkah mahasiswa menjadi pahlawan?

  • view 162