Persaingan Berbasis Jender Zaman Nabi Muhammad

M Guntur Romli
Karya M Guntur Romli Kategori Agama
dipublikasikan 21 Januari 2016
Persaingan Berbasis Jender Zaman Nabi Muhammad

Persaingan dan pertarungan yang berbasis pada jender pun berlangsung sengit pada zaman Nabi Muhammad Saw. Salah satu kebiasaan dari tata bahasa Arab mencukupkan pemakaian bentuk maskulin (mudzakkar) meskipun di dalamnya ada perempuan. Misalnya penggunaan kata ?hai orang-orang yang beriman? dengan bentuk yang maskulin, firman ini sebenarnya mencakup juga perempuan, namun kalangan perempuan saat itu ?menggugat? karena tidak disebutkan secara khusus.?

Diriwayatkan dari Umm Salamah, salah seorang istri Nabi Muhammad Saw berkata, ?Mengapa aku selalu mendengar laki-laki disebutkan dalam Al-Quran, namun para perempuan tak pernah disebut?? Allah Swt, menurunkan ayat 35 surat Al-Ahz?b (33):?

"Sungguh bagi orang muslim laki-laki dan perempuan, bagi orang mukmin laki-laki dan perempuan, bagi laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatan, bagi orang laki-laki dan perempuan yang benar, bagi orang laki-laki dan perempuan yang sabar, bagi orang laki-laki dan perempuan yang khusyu?, bagi orang laki-laki dan perempuan yang memberi sedekah, bagi orang laki-laki dan perempuan yang berpuasa, bagi orang laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, bagi orang laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, bagi mereka itu Allah menyediakan ampun dan pahala yang besar."

Pada zaman itu ada kebiasaan para suami memukuli istrinya, karena menuding istrinya membangkang, cemburu, dengan alasan ?meluruskan? karakter perempuan. Nabi Muhammad Saw, Rasulullah melarang pemukulan pada istri. Tapi kaum laki-laki yang diwakili Umar menggugat, dalihnya kalau tidak dipukuli perempuan akan terus membangkang. Nabi Muhammad Saw terpaksa memperbolehkan pemukulan itu, merespon keputusan Nabi Muhammad Saw para perempuan mengelilingi rumahnya sebagai ?unjuk-rasa?. Nabi Muhammad Saw pun bersabda suami yang baik tidak akan memukuli istrinya.

?Jangan memukul perempuan!? Umar datang dan berkata: ?Para perempuan membangkang pada suami mereka? diizinkanlah ?memukul perempuan. Maka para perempuan pun mengerumuni rumah Nabi Muhammad Saw dengan jumlah yang banyak. Nabi Muhammad Saw bersabda: ?Sungguh telah mengelilingi rumah Rasulullah Saw sebanyak 70 orang perempuan yang mengadu perihal suami (yang memukuli mereka), sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian tidak akan menjumpai mereka itu (orang-orang yang memukuli istrinya) (HR Abu Dawud)

Kadang Kompromi Tanpa Mengabaikan Prinsip

Persaingan dalam relasi jender antara laki-laki dan perempuan kadang harus kompromi, karena saking kerasnya. Prinsip kesetaraan jender yang tak jarang membentur tembok keangkuhan laki-laki yang sebelumnya sangat dominan dan tanpa batas.?

?

Dalam sebuah riwayat seorang perempuan datang mengadu pada Nabi Muhammad Saw bahwa suaminya telah memukul wajahnya dan tamparan itu masih membekas di wajahnya. Nabi Muhammad Saw berkata, ?al-qish?hsh?, maksudnya beri balasan yang setimpal, yang artinya perempuan itu boleh melakukan menampar balik pada suaminya sebagai realisasi dari perintah Allah dalam surat al-M?idah ayat 45.?

Hukuman ini menimbulkan gejolak dalam masyarakat akhirnya turun ayat al-rij?lu qaww?m?n ?al? al-nis? yang maksudnya: tidak boleh ada balasan balik. Kata Qaww?m diartikan laki-laki bisa ?meluruskan dan memperbaiki? istrinya. Nabi Muhammad Saw pun bersabda, ?Aku ingin suatu tindakan (yakni: qish?sh), namun Allah menghendaki hal lain.? Kasus pemukulan pada istri saat itu mungkin ada sebabnya, namun yang pasti Nabi Muhammad Saw melarang pemukulan itu, malah awalnya dia ingin istri itu bisa melakukan balasan, tapi dilarang oleh ayat Al-Quran. Ayat ini menunjukkan ada ?kompromi? untuk menghindari konflik yang bisa terus berlanjut.?

Saya ingin mengajak agar kita bisa membayangkan suasana pergeseran relasi jender saat itu yang penuh dengan ketegangan, satu pihak kaum laki-laki tidak senang karena keistimewaan dan hak-haknya terus dikurangi, kaum laki-laki merasa posisinya terancam, di pihak lain kaum perempuan juga menuntut relasi yang benar-benar setara.?

Ada strategi kompromi dan Nabi Muhammad Saw berusaha menenangkan dan mendamaikan suasana persaingan ini yang penuh ketegangan. Saya sebut kompromi, karena Allah dan Rasulullah bagi hemat saya tetap mengingatkan prinsip kesetaraan yang penuh antara laki-laki dan perempuan. Kompromi karena kondisi yang tidak mendukung. Mari kita simak sebab turunnya ayat 32 surat Al-Nis?? (4) yang menurut saya sangat menarik:

Ummu Salamah berkata pada Nabi Muhammad Saw, ?Yaa Rasulallah, para laki-laki ikut berperang, sedangkan kami (perempuan) tidak (boleh) berperang, (biarkan) kami juga bertempur hingga kami bisa mati syahid, dan kami juga hanya memperoleh separoh jatah warisan.? Allah pun menurunkan ayat 32 surat Al-Nis?? (4) dan ayat 35 surat Al-Ahz?b (33): ?

Dalam riwayat lain, ada seorang perempuan mendatangi Nabi Muhammad Saw dan berkata, ?Yaa Nabi Allah, laki-laki memperoleh (jatah warisan) seperti dua orang perempuan, kesaksian dua perempuan sebanding dengan satu orang laki-laki, apakah dalam (menilai) perbuatan kami akan seperti ini juga, kalau seorang perempuan berbuat kebaikan apakah hanya ditulis separohnya saja?? Allah merespon dengan ayat 32 surat Al-Nis?? (4). Ayat 32 surat Al-Nis?? yang dimaksud adalah:

"Janganlah kamu berangan-angan dan iri hati atas kelebihan yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih daripada yang lain, karena bagi laki-laki ada bagian yang mereka usahakan, dan bagi perempuan ada bagian yang mereka usahakan, mohonlah kepada Allah karunia-Nya."

Saat itu kita tidak bisa berangan-angan untuk beberapa kasus, kesetaraan jender antara laki-laki dan perempuan benar-benar bisa penuh (waris dan saksi), karena kondisinya yang tidak mungkin?khususnya karena penentangan kaum laki-laki. Firman ini tampak ingin menenangkan dan membesarkan hati para perempuan. Dan yang paling penting dari ayat ini ada di kalimat ?bagi laki-laki ada bagian yang mereka usahakan, dan bagi perempuan ada bagian yang mereka usahakan? bahwa pada akhirnya bagian, jatah dan hasil akan lahir dari proses dan kerja, tidak pandang laki-laki dan perempuan. Karena laki-laki pada waktu itu usahanya lebih keras misalnya dengan berperang dan berdagang ke luar rumah, maka hasil dan warisannya lebih banyak. Ayat ini menurut hemat saya malah ingin mengajak kita lebih mementingkan pada usaha dan kerja bukan iri pada kelebihan pihak lain. Karena apapun hasil yang kita peroleh berdasarkan usaha yang kita lakukan. ?

Maka dari itu kita perlu membaca kembali ayat-ayat yang bernuansa ?kompromistis? ini secara utuh dan kritis. Kita perlu menemukan pesan utamanya, bukan malah terjebak pada makna lahiriahnya saja. Untuk memperoleh pesan utama, kita perlu membaca sebab dan konteks saat ayat-ayat tersebut turun. Kita tidak bisa berangan-angan bahwa konteks saat ini sama persis dengan konteks saat Al-Quran turun.

  • view 187