Persija juara Piala Presiden 2018, Jakarta Berpesta atau Indonesia Bersedih?

Guntur Eka Arif Saputra
Karya Guntur Eka Arif Saputra Kategori Bola
dipublikasikan 26 Februari 2018
Persija juara Piala Presiden 2018, Jakarta Berpesta atau Indonesia Bersedih?

Bagi masyarakat pecinta sepakbola khususnya mereka yang mengikuti perkembangan dunia sepakbola dalam negri, tentu saja mereka tau bahwa klub ibukota Persija Jakarta mengakhiri turnamen pramusim yang bertajuk Piala Presiden 2018 dengan keluar sebagai juara setelah mengandaskan perlawanan Bali United 3-0 di partai final.
Ini terhitung menjadi yang pertama bagi klub besutan Stefano 'Teco' Cugurra menjadi juara di pagelaran turnamen berskala besar atau yang termasuk perhelatan turnamen sepakbola akbar nasional sejak terakhir kali mereka merasakan manisnya prestasi juara pada era Liga Indonesia di Tahun 2001 atau Liga Bank Mandiri 2001, dimana kala itu final yang dihelat pada tanggal 07 oktober 2001 di stadion yang sama, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Persija berhasil keluar sebagai pemenang setelah mengalahkan klub tangguh dari timur indonesia PSM Makassar dengan skor 3-2.
Persija Jakarta memang tergolong klub yang menjadi langganan juara pada era kompetisi perserikatan, tapi setelah menjuarai liga Indonesia pada edisi 2001, Persija praktis seperti macan yang kehilangan taringnya, karna Persija cukup lama tak pernah menyabet gelar juara pada turnamen atau kompetisi bergengsi Nasional, sebelum akhirnya mereka menyudahi penantian panjang dengan menjuarai Piala Presiden 2018.
Tidak puas hanya juara, pemain rekrutan ayar mereka Marko Simic juga berhasil menggondol dobel penghargaan individu berupa gelar topskor dengan raihan 11 gol, serta pencapaian sebagai pemain terbaik selama turnamen. Tidak hanya itu pemain muda potensial mereka M. Rezaldi Hehanusa juga didaulat sebagai pemain muda terbaik, ini menjadi yang kedua kalinya bagi Rezaldi memenangi penghargaan serupa. Sebelumnya Rezaldi juga memenangi penghargaan pemain muda terbaik pada Kompetisi Liga 1 2017.

-

The Jakmania (sebutan supporter Persija) yang terkenal dengan fanatisme serta militansi-nya dalam mendukung tim kebanggaan mereka tentu saja menyambutnya dengan penuh suka cita, karna dahaga serta penantian bertahun-tahun mereka telah dibayar lunas oleh para pemain yang mengakhiri turnamen dengan raihan gelar juara. Apalagi sebelumnya Persija juga telah berhasil memenagi turnamen pramusim bergengsi lain nya di Malaysia, yaitu berupa gelar juara Boost Sportsfix Supercup 2018 di Kuala Lumpur. Turnamen pramusim ini tergolong bergengsi karena diisi dua tim penghuni kasta tertinggi Liga Thailand dan Liga Malaysia.

Malam itu warga jakarta atau the jakmania khususnya tentu saja bergembira, bersuka cita, dan berpesta karna telah melepaskan penantian panjang mereka akan gelar juara.

Tapi di seluruh dipenjuru NKRI tentu saja masyarakat sangat menyayangkan kerusakan stadion utama milik negara tersebut, ada fasilitas negara yang rusak akibat ulah beberapa oknum suporter.
Perlu dicatat juga karna SUGBK baru saja merampungkan proyek renovasi besar-besaran sebagai persiapan menyambut pesta multi olahraga terbesar se-Asia, yaitu Asian Games yang akan digelar pada tahun ini.
Sangat disayangkan jika fasilitas kebanggaan negara yang baru saja selesai direnovasi dan menelan biaya yang tidak sedikit itu dirusak oleh segelintir oknum tidak bertanggung jawab. Dalam video cctv yang sempat beredar luas memang terlihat jelas puluhan suporter beratribut oranye (the jakmania) berusaha merangsek masuk dengan cara mendorong pintu hingga rusak.
Namun, khusus kerusakan diluar stadion kita tidak dapat sepenuhnya menyalahkan suporter persija, karna dalam pertimbangan hal ini bukan hanya suporter persija yang berada diluar, melainkan juga ada kelompok suporter lain dari Bali United, PSMS Medan, serta Sriwijaya FC Palembang yang memang datang di hari yang bersamaan.
Selain itu antusiasme serta atmosfir laga final memang tidak diimbangi dengan rekayasa pelayanan yang memadai oleh operator pertandingan, hal ini saya rasakan secara langsung ketika sekitar pukul 05.30 WIB saya datang ke stadion, tetapi keadaan sudah sangat ramai oleh suporter yang antre mengular berebut mendapatkan tiket masuk ke stadion, beberapa dari mereka bahkan ada yang sedari malam sudah menginap demi bisa menempati spot terdepan dalam antrean tiket agar dapat mendapatkan satu tiket masuk stadion, ini cukup miris mengingat loket baru akan dibuka pukul 10.00 WIB.
Selain itu panitia juga menyediakan tempat antrean yang relatif sempit untuk puluhan ribu suporter yang lalu lalang serta mengantre, sehingga terasa wajar bila beberapa pembatas antrean jebol dan rusak.
Bayangkan saja, tiket yang dijual on the spot hanya berkisar 4.000 lembar sudah pasti tidak mencukupi puluhan ribu suporter yang membidik tiket dan sudah antre sejak malam hari.
Beberapa masyarakat memang menganggap ini suatu kejadian yang harusnya bisa dihindari, tapi saya mencoba untuk netral karna sepengamatan saya antusiasme pertandingan pada hari itu memang betul-betul sangat gila dan seolah kerusakan sulit dihindari akibat banyaknya suporter yang kecewa karena tidak mendapatkan tiket!
Bahkan Direktur Utama Pusat Pengelola Kompleks Gelora Bung Karno (PPK GBK), Winarto, pun memaklumi kerusakan yang terjadi di kawasan GBK, "Saya apresiasi khususnya Suporter Persija Jakmania yang jadi lebih baik. Kerusakan itu ada, tapi relatif lebih kecil dibandingkan masa-masa lalu. Alhamdulillah tidak ada bentrokan berarti, kerusakan ada dan menurut saya wajar", ujar Winarto kala itu.
"Kerugian juga ditaksir tidak lebih dari 150 juta Rupiah", Winarto menambahkan.

-

Terlepas dari itu semua, sebagai penikmat sepakbola dalam negri kita semua memang pantas bersedih, karna seluruh elemen persepakbolaan kita memang butuh pembenahan.
Tercatat kejadian kerusuhan selalu menghiasi wajah persepakbolaan dalam negri dari tahun ke tahun, lalu sampai kapan hal seperti itu akan berhenti jika bukan kita sendiri yang menyudahi?.
Bukan hanya suporter, melainkan orang-orang yang berkecimpung didalam Badan persepakbolaan Indonesia pun harus selalu berusaha melakukan pembenahan.
Kedewasaan suporter memang yang paling utama, tapi suporter tentu akan lebih dewasa bila mendapatkan suguhan kinerja yang baik dan berujung persembahan prestasi dari para pengurus persepakbolaan negri ini. Sudah saatnya sepakbola kita menanam benih yang berujung prestasi di masa mendatang, karna sudah sangat lama rasanya pecinta sepakbola nasional dibuat kecewa atas kegagalan-kegagalan tim nasional di pentas internasional.

Bravo Sepakbola Indonesia!

  • view 81