Senja di akhir tahun

Guntur Eka Arif Saputra
Karya Guntur Eka Arif Saputra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Januari 2018
Senja di akhir tahun

   Sore itu ia terlihat masih mengenakan sarung hijau ber-merk Gajah duduk lengkap dengan peci hitam dan kaus hitam polos, karna selepas melaksanakan sholat ashar satu setengah jam yang lalu. Bukan karena malas untuk berganti baju, ia memang lebih suka menggunakan sarung saat sedang santai dirumah.

Sarung boleh jadi adalah salah satu busana favoritnya sedari dulu hingga kini, wajar saja mengingat ia yang pernah mengenyam pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) hingga Madrasah Aliyah (MA) di suatu Pondok Pesantren Modern di daerah Bogor tersebut.

Senja itu wajahnya terlihat sedikit kucel, rambutnya pun demikian, acak-acakan tak tertata setelah ia melepas pecinya. maklum saja, dia memang belum mandi sedari kemarin, hanya saja air wudhu selepas melaksanakan sholat ashar tadi membuat penampilan wajahnya tidak terlalu buruk.

Hal itu sedikit wajar mengingat hari itu ia memang sedang tidak memiliki aktivitas yg menyibukkan dan mengharuskan ia untuk pergi mandi, termasuk aktivitas perkuliahannya yg sedang libur total, dan beberapa kegiatan organisasi yg ia ikuti kala itu. 

-

   Sore itu ia memilih untuk bersantai dan menikmati senja terakhir akhir tahun di rumahnya saja, bagian halaman di lantai 3 rumahnya yg sederhana memang bisa berhadapan langsung dengan indahnya langit dan mentari sore itu. Ditemani secangkir kopi, tapi tidak dengan rokok. Karena memang ia bukan seorang pecandu rokok, ia hanya menjadi seorang pecandu rindu saja (muehehe). 

Beberapa kali ponsel butut miliknya berbunyi menandakan ada pesan masuk, dilihatnya satu-persatu pesan whatsapp-nya, ada beberapa yang berisi ajakan dan undangan yang dibacanya untuk bersama melakukan perayaan malam pergantian tahun yang belum ia iya-kan, mulai dari teman-teman kelurahan, sahabat, kerabat organisasi, hingga ajakan personal.

Ia terlihat sedikit bingung sore itu, bukan karena belum menentukan rencananya kemana dan dengan siapa ia akan pergi, tapi karna memang saat ini ia sedang tidak terlalu antusias dalam menyambut dan merayakan malam pergantian tahun, entah karna apa. Karena ia belum mempunyai pasangan mungkin haha.

duduk disebuah kursi besi sembari menatap langit sore, diletakkanya ponsel tersebut lalu ia menyeruput kopi yang nampaknya sudah tidak sepanas tadi tapi tetap dengan rasa yang masih sama nikmatnya (rasanya persis dengan rasa rindu ini yang tidak pernah berubah) apa si? wkwk. 

Setelah itu ia kembali memandangkan matanya ke awan dan terlihat begitu menikmati senja diakhir tahun ini, "kapan lagi aku menikmati momen senja terakhir yg indah di akhir tahun seperti ini", gumamnya dalam hati. 

Sembari sesekali ia ingat-ingat momen-momen yang terjadi di tahun 2017. Meski tak selalu berjalan mulus, ada banyak momen ditahun itu yg mungkin sulit untuk ia lupakan, diingatnya beberapa momen yang memang menyenangkan, seraya tersenyum simpul kala ia mengingat betapa hebatnya ia saat itu karna mampuh melewati momen-momen sulit sepanjang tahun 2017.

Mulai dari jadwal kuliah yang padat, tuntutan pekerjaan, hingga kegiatan eksternal kuliah lainnya yang tak kalah menuntut prioritas ia lewati dengan berbagai macam cerita yang tentunya harus diapresiasi oleh dirinya sendiri. Baginya ritual melakukan apresiasi terhadap diri sendiri memang wajib dilakukan, hal itu sebagai wujud penghargaan terhadap kemampuan pribadi kita, agar senantiasa mendapatkan suntikan moral dan kepercayaan diri berlebih.

Tapi selepas itu ia berhenti tersenyum, ia mengingat bahwa dipertengahan tahun lalu ia punya sebuah kegagalan besar (entah kenapa ia sebut sebuah kegagalan besar). Karna ia telah gagal meyakinkan seseorang untuk tetap tinggal, hingga memilih beranjak pergi meninggalkan sepenggal cerita dan kenangan yang kini mulai lusuh.

"Ah mungkin ia sudah bahagia pada saat-saat pergantian tahun seperti ini, lantas kenapa aku masih saja enggan beranjak dari masa itu, sebuah masa yang 'aku dan kamu' hanya hidup diwaktu itu" gumamnya keras dalam hati.

Sekali lagi ia sedikit menghibur hatinya, dengan kembali berfikir, bahwa ia tidak pernah kehilangan masa depan yang ia rencanakan, ia hanya sedang kehilangan seseorang yg belum pasti menjadi (bagian) masa depan yg ia cita-citakan.

Sesaat setelahnya ia kembali tersenyum, tersenyum karna rasa konyol, konyol ia pikir kenapa bisa dengan begitu mudah ia percaya dan  berani berjudi dengan hatinya terhadap bualan ketidakpastian sebuah rasa.

-

   Tapi tentu saja ia amat sangat berterimakasih untuknya, meski tak bertahan selamanya , ia berhasil memberi banyak 'tamparan' yang ia anggap sebagai pelajaran berharga untuk menyikapi persoalan kehidupan kedepannya. Agar ia lebih berhati-hati memberikan hati, agar ia bisa lebih berhati-hati dalam bermain hati, sekali lagi terimakasih!

Terima kasih, teruntuk seseorang yang pernah tinggal di hati. Kau telah memberikan banyak pelajaran berharga, terimakasih juga telah berhasil meyakinan bahwa selama ini memang benar kau memang bukan satu-satunya keindahan yang pernah kugenggam, terimakasih telah memberitahu bahwa masih terlalu banyak keindahan yang dapat ku miliki.

dan sekarang semua sudah kembali berjalan lebih menyenangkan seperti sedia kala.

terimakasih juga telah meyakinkan bahwa rasa (cinta) saja terkadang tidak cukup.

karna keindahan saja bukan merupakan jaminan seseorang akan betah tinggal dan bertahan lama di dalamnya, Namun mungkin juga rasa (cinta) yang masih terlalu lemah untuk dapat bersama bertahan di derasnya arus berbagai godaan.

-

      Setelah berfikir dan merenungi beberapa kenangan tidak penting di masa lalu, adzan maghrib pun berkumandang. "Allahu Akbar, Allahu Akbar" didengarnya suara adzan, ia pun bergegas membalas pesan whatsapp nya dan meng-iya-kan beberapa ajakan tadi, sembari bersiap turun untuk melaksanakan kewajiban sholatnya. 

Seperti tersadar setelah mendengar adzan, ia pun berujar dalam hati, bagaimanapun semua yang terjadi di masa lalu harus tetap disyukuri, semua pasti akan mendatangkan berkah dan pelajaran tersendiri. Karna kegagalan dan kesalahan akan membuatmu tumbuh semakin tangguh!

Hari itu ia pun kembali sumringah, dan begitu semangat menyambut pergantian tahun dengan gairah baru tentunya, ia pun sudah sangat siap melupakan kenangan masa lalu dan berharap menggantinya dengan sesuatu yang lebih hebat di tahun 2018 !

 

-geas-

  • view 179