Dipecundangi oleh sebuah rasa

Guntur Eka Arif Saputra
Karya Guntur Eka Arif Saputra Kategori Puisi
dipublikasikan 05 November 2017
Dipecundangi oleh sebuah rasa

 
Hari sudah larut gelap, malam ini memang tidak terlalu sunyi, karna rerintikan hujan silih berganti berjatuhan mengenai genting sebuah rumah sederhana yang tetap kokoh melindunginya dari dinginnya udara malam kali ini. 
 
Kedua matanya masih terlalu segar untuk ia pejamkan, jari-jemari nya masih menari lepas diatas keyboard Handpone murah ber-merk Vivo tersebut, seraya diikuti gerakan dahi yang beberapa kali iya kernyitkan disela-sela berfikir dalam memilih kosa kata yg pas. 
 
Malam ini ia nampak begitu syahdu menyusun kata-kata yang ia ingin tumpahkan dari pikiran nya, ia sebenarnya tidak terlalu pintar dalam berpikir, tapi ia tetap saja ngotot menuliskan sesuatu, sesuatu yang sebenarnya juga tidak teramat penting untuk ia sampaikan.
 
menulis sejatinya bukanlah hobi utama bagi pria yang begitu menyukai sepakbola ini. Yang membuat ia sedikit tertarik untuk menulis mungkin saja karena memang ia tidak bisa menulis, atau mungkin ia menulis agar lebih pandai menulis, ah yang penting semacam itulah!
 
Maklum saat ini ia hanyalah anak amatiran, tak pernah punya sesuatu yang wah, atau sebuah pencapaian dan reputasi yg mentereng. 
Terpenting katanya, kita punya kegiatan yang terlihat menyibukkan, sehingga kita dengan mudah melupakan masa lalu hahaha, tentu saja bukan itu jawabannya, agar kita terlihat layaknya orang-orang penting di Ibukota. Ah tapi entahlah hahaha.
 
Syahdunya rerintikan hujan malam ini setidaknya mewakili pikirannya yang sedang kalut, kalut bukan kepalang. 
Tubuhnya boleh saja tetap tegap, ia sangat pintar berpura-pura kuat dengan tetap terlihat riang dimuka publik, dan menjaga kepalanya untuk tetap terlihat tegak.
 
Ia sepertinya sedang merasakan kekecewaan bukan main. Ia merasa bak orang terbodoh di muka bumi, tertolol sejagad, atau bahkan yang terburuk seantero Dunia. "Bagaimana bisa aku dipecundangi oleh asmara" gumamnya dalam hati, seraya meneguk kekosongan di kerongkongannya.
Maklum ini adalah pengalaman pertamanya dikalahkan oleh cinta.
 
Pikiran dan hatinya belum juga stabil, hari demi hari ia lalui dengan emosi yang sangat labil. Dimulai dari aktivitas pagi hingga menjelang malam, ia lewati dengan energi seadanya, tersenyum sebisanya dan semangat ala kadarnya.
 
Salah satu yang membuatnya sedikit melupakan kegundahannya tentu saja keberadaan teman-teman disekitarnya, dan itu pula yg membuatnya merasa sedikit lebih beruntung.
 
Saat sedang kumpul di salah satu Warkop dekat Kampus misalnya, Beberapa kali teman-teman nya ikut menertawai situasinya dengan nasehat yang tentu saja bernada bercanda, "Udah gak usah dipikirin, ntar juga ada ganti nya lagi", Ujar salah satu teman nya. 
"Hahaha, mampus lu, gini kan enak lu jadi bisa lebih sering nongkrong sama kita-kita kalo abis kuliah" temannya yang lain menimpali. 
"Haha, yaelah lu mau gue bantuin nyari yg lebih oke ga?" tanya temannya yang lain. 
"Udah-udah temen lagi begini malah lu kata-katain, bukannya dikubur, eh dihibur maksudnya haha" ujar satu temannya yang kali ini melakukan pembelaan untuknya.
 
Bagi mereka mungkin ini adalah lelucon biasa, juga bukan hal yg serius untuk ukuran pertemanan.
tapi dalam relungnya, tentu saja tetap sakit ia rasakan, sepertinya begitu sulit untuk membohongi dirinya, bahwa ia benar-benar kecewa.
 
Ia berusaha keras mencoba menyudahi kegundahan yang membelenggunya, dan secepatnya kembali menemukan ritme kehidupan seperti semula.
tapi nampaknya proses itu masih terlalu lama, "ah aku bosan, buang ia menjauh dariku!" teriaknya kesal dalam hati.
 
"Lalu sampai kapan aku menjadi pesakitan seperti ini?" tanya nya lagi untuk kesekian kali.
 
 
 

  • view 32