Antusiasme rakyat terhadap sepakbola, dan Liga yang terlalu carut marut

Guntur Eka Arif Saputra
Karya Guntur Eka Arif Saputra Kategori Bola
dipublikasikan 04 November 2017
Antusiasme rakyat terhadap sepakbola, dan Liga yang terlalu carut marut

kita semua tau Indonesia adalah Negara paling luas di kawasan Asia Tenggara, jumlah penduduknya bahkan menjadi salahsatu yang terbanyak di Dunia, yang di dalamnya banyak perbedaan mengenai macam-macam Suku, Budaya, Bahasa, hingga Kepercayaan.
 
bukan rahasia umum jika sepakbola adalah olahraga yang paling banyak difavoritkan dikalangan masyarakat Indonesia dari ujung Barat hingga ujung Timur, itu tergambar jelas jika melihat masyarakat Indonesia yang begitu fanatik saat mendukung tim kesayangan mereka bertanding.

Arema FC, Persija Jakarta, PSS Sleman, Persebaya Surabaya dan Persib Bandung adalah beberapa klub besar Tanah air yang terkenal punya nama besar dan basis suporter terbanyak nan amat militan kala mendukung tim jagoan mereka bertanding, basis mereka bahkan tersebar bukan hanya di regional asal klub tersebut, melainkan tersebar hingga ke beberapa penjuru daerah lain.
 
berbicara mengenai sepakbola dalam Negri, tajuk mengenai rivalitas adalah salah satu yang paling menarik baru-baru ini, contohnya adalah rivalitas antara Persija Jakarta menghadapi PersIb Bandung. Rivalitas kedua nya selalu berjalan sengit kala mereka berjumpa dalam sebuah pertandingan.

Selalu ada gengsi dan harga diri yang dipertaruhkan, bahkan tak jarang basis suporter kedua klub (Jakmania dan Bobotoh) terlibat bentrokan yang mengakibatkan korban berjatuhan, Alm. Ricko Andrean tercatat sebagai bobotoh dan menjadi korban terakhir dari akibat pengeroyokan salah sasaran oleh oknum Bobotoh sendiri.

sangat disayangkan memang, disaat nyawa terlalu murah harganya jika dibandingkan dengan nilai sebuah pertandingan sepakbola yang harusnya kita nikmati dengan tenang, tanpa rasa takut diserang dan dipukuli oleh oknum suporter lain.

Tapi inilah realita yang ada, kala dua klub yang mempunyai sejarah rivalitas panjang, mereka selalu datang dengan rasa fanatisme yang berlebihan hingga mereka tak lagi mengingat bahwa mereka mendukung tim kesayangan mereka dengan mempertaruhkan nyawa mereka sekaligus.
 
berbicara kerusuhan yang tiada habisnya, belum lagi jika masalah persepakbolaan Tanah Air masih saja berkutat pada Kompetisi yang tak kunjung membaik, Liga 1 garapan PSSI dengan PT. LIB yang diharapkan sebagai awal perubahan pasca sanksi pembekuan aktivitas kegiatan sepakbola Indonesia oleh FIFA juga masih berjalan amburadul dengan segala keburukan regulasi dan ketidakadilan dalam pengambilan keputusan.
 
Dimulai dari regulasi aneh mengenai pembatasan usia, marque player, hingga pemakaian wasit asing yang banyak diperdebatkan oleh para kontestan Liga 1, PSSI dan PT. LIB tetap bergeming dan melanjutkan liga dengan terkesan "ala kadarnya". bagaimana tidak, selama Liga 1 bergulir selalu saja ada kontoversi di tiap pekan nya.
 
Yang terbaru tentu saja kala laga Big Match sarat gengsi antara Persija Jakarta menjamu Persib Bandung, wasit yang ditugaskan adalah wasit asing yang sudah memiliki lisensi wasit FIFA. PSSI dan PT.LIB tentu sudah membaca potensi pertandingan jika wasit melakukan kesalahan keputusan, maka akan fatal.

Tapi realita yang terjadi lagi-lagi wasit asing juga mengulangi kesalahan wasit-wasit lokal sebelumnya kala memberikan keputusan kontroversial dalam sebuah pertandingan penting.
Kesalahan pengambilan keputusan tentu saja berakibat sangat fatal, tengok bagaimana saat wasit Shaun Evans secara mengejutkan menganulir gol sundulan pemain Persib Ezechiel N'douassel yang seharusnya bisa menjadi keunggulan Persib 1-0 atas Persija pada menit ke-27, padahal dalam tayangan lambat memang jelas bola sudah melewati garis dan sempat mengenai jaring gawang (gol), sebelum bola memantul lalu bergerak keluar gawang.

Keputusan yang dibuat wasit asal Australia tersebut tentu saja sangat merugikan bagi pihak Persib yang memang seharusnya layak mendapatkan satu angka dari Kota Solo jika gol itu disahkan oleh wasit, sebaliknya itu menjadi keputusan yang sangat menguntungkan pihak Persija, karna tanpa gol itu Persija dapat meraup tiga angka dan untuk sementara menggusur Madura United ke peringkat 6 Klasemen sementara Gojek Traveloka Liga 1. Hal itu sontak mengundang reaksi negatif dari kalangan Bobotoh dan pemain Persib yang sempat ingin melakukan aksi Walk Out, namun hal yang patut diapresiasi adalah bagaimana sikap para pemain Persib yang tetap melanjutkan pertandingan meski akhirnya tetap melakukan aksi walk out pada menit ke-83 akibat insiden kartu merah yg diberikan oleh wasit Shaun Evans kepada Vladimir Vujovic.
 
Sejatinya Shaun Evans bukan memang wasit sembarangan, sebelum pergi ke Indonesia ia sempat malang melintang dan memiliki rekam jejak bagus di dua Liga besar Asia, A-League (kasta tertinggi Liga Australia) dan China Super League (kasta tertinggi Liga Tiongkok). Namun lagi-lagi wasit yang memiliki kualitas bagus saja tidak cukup jika memang regulasi liga masih amburadul, perlu adanya pengkajian terlebih dahulu sebelum memastikan regulasi yang akan digunakan dalam sebuah pertandingan.
Hal semacam itu pernah disampaikan oleh Robert Rene Albert (pelatih PSM Makassar) yang berujar "Indonesia tidak butuh wasit asing tapi butuh penerapan sistem VAR (Video Assistant Referee)". 
 
Berangkat dari evaluasi kesalahan-kesalahan sebelumya, semoga PSSI dan PT. LIB bisa melanjutkan sisa kompetisi dengan lebih baik, dan kita tetap berharap pada kompetisi dimasa mendatang ada pembenahan signifikan sehingga memunculkan Liga yang memiliki iklim kompetitif dan profesional dari segi apapun. Karna pesepakbola hebat akan muncul dari liga kompetitif yang memiliki infrastruktur dan regulasi yang baik, sehingga hasilnya akan bermuara untuk kebaikan pembangunan Tim Nasional Indonesia!

  • view 49