SEBELUMNYA

Mohammed Guerrero
Karya Mohammed Guerrero Kategori Puisi
dipublikasikan 11 Mei 2016
SEBELUMNYA

Sepasang camar memisalkan pertemuan
di antara kita sore itu, dan yang terjadi seterusnya .....

 

Sejak mengenal puisi kerap aku mengunjungi tepi pantai
tuk melabuhkan resah, mencari ruang sepi sejenak
menjauh dari keakuan di kota ramai
Tak nyana sore itu kau di sana, mendirikan istana pasir,
bermain bersama gelombang pasang
di atas batas mata kaki

 

Jauh kutatap ke arahmu, aku kehilangan bait pertama puisiku
hanyut dalam penghayatan liuk ombak beriak di dadaku,
dibias pesona cahaya senja di pipimu, laut di matamu.
Segera kau paling menunduk, namun senyum
yang baru saja kulihat jelas melayang-layang di
ujung jilbab hitammu diterpa angin

 

“O, Tuhan, rupanya ada yang jauh ebih indah dari
sekedar panorama sore tepi pantai saat matahari
terbenam, adalah senyumnya!”

Aku menulis itu, ketika beberapa hari selanjutnya
tak lagi melihatmu bermain di sana
 
Aku menemukanmu, di hari biasa tanpa perisitiwa
yang dikenang atau dirayakan oleh orang banyak, tanpa petir,
dan kilat menyala-nyala di kaki langit
 
Jikapun ada yang sepatutnya merayakan hari itu,
hanya aku; merangkai senyum wajah teduhmu di dalam puisi
Seperti senantiasa kuteriakkan namamu di hadap laut,
namamu:
samar kutelaah di pasir putih usai kau tinggal pergi,
Maitalea.

 

Maitaleaaa ....
datang seekor burung camar, tanpa pasangannya
yang ia ajak bertamasya sebagaimana kemarin.
Pun, aku berlari-lari ke hari itu, mencari-cari kau
dan diriku sendiri.
 

 

Bumi Tuhan 2016