kesadaranku

erwin budihabsoro
Karya erwin budihabsoro Kategori Motivasi
dipublikasikan 01 Februari 2016
kesadaranku

pengalaman pribadi ketika aku sedang sakit....

Suatu hari saya bersenggolan dengan seseorang yang tidak saya kenal. ?Oh, maafkan saya,? reaksi spontan saya. Ia juga berkata: ?Maafkan saya juga.? Orang itu dan saya berlaku sangat sopan. Kami pun berpisah dan mengucapkan salam.

Namun cerita jadi lain, begitu sampai di rumah. waktu itu kakiku sedang sakit karena terluka, lebam membiru hingga bengkak dan susah untuk digerakkan, badanku agak demam dan sakit sekali walau untuk hanya menggerakkan atau menapakkan kaki. saat saya sedang menelpon salah satu partner terbaik saya, dengan bahasa sangat lembut dan santun karena beliau sudah berumur, tiba2 anak bungsuku berdiri diam-diam di belakang saya. Saat saya berbalik, hampir menabraknya dan
hampir saja membuatnya jatuh karena kakinya menyenggol kakiku yang sedang sakit. "Minggir!!! Daddy lagi telpon urusan kerja, Main atau nonton TV atau Hp saja sana, jangan ganggu daddy!!!" saya dengan emosi karena menahan sakit. Ia pun pergi dengan hati hancur dan merajuk.

Saat itu karena terlalu lama mengupload file untuk dikirimkan, sambil menunggu saya berbaring di tempat tidur malam itu, dengan sakit kurasakan pada kaki kiriku yang membengkak dan membiru, dengan halus, ada berbisik, "malaikat akan menyabut nyawamu dan mengambil hidupmu sekarang, namun sebelumnya, aku akan izinkan kau melihat lorong waktu sesudah kematianmu. Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan. Tetapi dengan anak yang engkau kasihi, engkau perlakukan dengan sewenang-wenang, akan kuberi lihat setelah kematianmu hari ini, bagaimana keadaan partner kerjamu, kolegamu, sahabat dunia mayamu, serta keadaan keluargamu"
Lalu aku pun melihat, hari itu saat jenazahku masih diletakkan di ruang keluarga, hanya satu orang sahabat dunia mayaku yg datang, selebihnya hanya mendoakan lewat grup, bahkan jg ada yg tdk komentar apapun atas kepergianku,
Lalu sahabat-sahabatku yang pernah aku tolong atau bantu, hampir semua datang, sekejap melihat jenazahku, lalu mereka asik foto-foto dan mengobrol, bahkan ada yg asik membicarakan aibku sambil tersenyum-senyum. beberapa orang pejabat yg aku hormati, hanya datang sebentar, melihat jenazahku dalam hitungan menit langsung pulang. Dan kolegaku, tidak ada satupun dari mereka yang aku lihat.
Lalu kulihat anak-anakku menangis dipangkuan ibuku, yang kecil berusaha menggapai2 jenazahku meminta aku bangun, namun istriku menghalaunya. ibuku pingsan berkali-kali, aku tidak pernah melihat beliau seperti sejak ditinggal almarhum bapak waktu aku kecil dulu.
Lalu aku teringat betapa sering aku acuhkan panggilan beliau yg mengajakku sekedar mengobrol berbagi cerita tentang keadaan rumah, adik-adikku dan mungkin kangennya beliau kepadaku. dan aku selalu sibuk dengan pekerjaanku, dengan kolega2 dan teman2 dunia mayaku, lalu aku lihat anak2ku.. walau tidak terlalu Sering kuhardik dan kubentak mereka saat aku sedang asik dengan laptop/komputer kerjaku, saat mereka ribut meminta ku temani. Oh Ya Allah.. Maafkan aku.

lalu aku melihat beberapa hari sejak kematianku, teman-teman sudah melupakanku, sampai detik ini aku tidak mendengar aku mendapatkan doa mereka untukku, partner kerjaku telah menggantiku dengan partner yang lain, teman-teman dunia maya masih sibuk dengan lelucon2 digrup, tanpa ada yg mbahasku ataupun bersedih terhadap ketiadaanku di grup mereka.
Namun, aku melihat ibuku masih pucat dan menangis, airmatanya selalu menetes saat anak2ku bertanya dimana daddy mereka? Aku melihat beliau begitu lunglai dan pucat, kemana lelucon dan suara khas ibuku walau sedikit ketus, galak dan terlihat cuek?
Oh Ya Allah Maafkan aku..

Puluhan hari sejak aku tiada
Teman FB ku lenyap secara drastis, semua memutuskan pertemanan denganku, seolah tidak ingin lagi melihat kenanganku semasa hidup, partnerku, teman2 kerja, tdk ada satupun yang mengunjungiku kekuburan ataupun sekedar mengirimkan doa.

Lalu kulihat istriku sudah bisa tersenyum karena sudah ada pengganti aku di sisinya, dan anak-anakku diasuh oleh ibuku yang semakin menua, karena bidadari-bidadariku kecilku takut menjadi bebannya menjadi bahagia dengan pasangan baru-nya orang yang ber'punya' seperti impiannya yang selalu memanjakannya, mengajak pergi jalan-jalan, traveling atau shopping, yang tidak mengharuskannya untuk mengurusi rumah. walo selalu kuajarkan bahagia itu bukan itu, tapi tidak pernah sedikitpun mind-setnya bisa berubah, dan selama ini akupun mengalah....

Bidadari-bidadari kecilku masih selalu ribut menanyakan kapan daddy-nya pulang kepada ibuku, yang paling kecil yang paling lucu karena aktif dan pintar mengambil hati, masih selalu suka melihat dan berlari ke jendela/pintu kalau ada yang membuka pagar atau pintu, menantikan aku datang untuk teriak "daddy, Dipta Kangen daddy, I LOVE You too" sambil memeluk dan mencium kedua pipi dan dahiku dengan suara dan tingkah khasnya seperti selama ini dia bergembira kalau aku datang dari bepergian.

Lalu bertahun tahun setelahnya
Kulihat ibuku menyiapkan makanan untuk anak2ku, sudah mulai kelihatan memutih semua rambut beliau, guratan tua dan lelah diwajahnya, beliau tidak pernah lupa mengingatkan bidadari-bidadari kecilku, jangan lupa berdoa setiap waktu, doakan daddy kalian selalu, agar bahagia di akherat"

lalu aku melihat anak sulungku tertidur di meja belajarnya, lalu aku membaca tulisan disecarik kertas milik putri sulungku itu, dia menulis.. "Seandainya saja aku masih punya daddy, pasti tidak akan ada teman yang berani tidak sopan dan nakal denganku, mami yang dari dulu keras dan kasar kepadaku sekarang asyik dan bahagia sendiri dengan keluarga barunya dan melupakan aku dan adikku, Daddy yang tegas yang selalu memberi nasehat dan semangat ketika aku malas dan nakal...kalau daddy masih ada di sini Ya Allah tidak akan aku lihat Uti (sebutan untuk ibuku) bersusah payah mencari nafkah menyekolahkan kami, oh Ya Allah.. Kenapa Kau ambil daddy-ku, aku butuh daddy ku Ya Allah.." kertas itu basah, pasti karena airmatanya..
Ya Allah maafkanlah aku..

Sampai bertahun2 anak2 dan ibuku pun masih terus mendoakanku setiap waktu (karena itu yang selalu kuajarkan untuk berdoa dan berdzikir setiap waktu) agar aku selalu berbahagia diakherat sana.

Lalu seketika,, aku terbangun.. Dan terjatuh dari kursi kerjaku.. Oh Ya Allah Alhamdulillah.. Ternyata aku cuma bermimpi..

Pelan-pelan aku pergi ke kamar tidur dan berlutut di dekat tempat tidurnya, masih aku lihat airmata disudut matanya, kasihan sekali, terlalu kencang aku menghardik si kecil..dalam hati aku berkata ?Anakku, daddy sangat menyesal karena telah berlaku kasar pada Dipta, I Love You.?Si kecilku pun terbangun dan berkata, ?Oh daddy, I Love You too.? dengan suara cempreng khasnya dan langsung memelukku
?Anakku, aku mencintaimu juga. Aku benar-benar mencintaimu, maafkan aku anakku? Dan kupeluk anakku. Kuciumi pipi dan keningnya.
Lalu kulihat bidadari sulungku, dalam tidurnya selalu merengut, mungkin karena kesehariannya menghadapi beban berat, sekolahnya, maminya yang memperlakukannya dengan sangat keras dan kasar, dan mungkin dariku karena terlalu sibuknya aku untuk bekerja dan bepergian. jarang sekali kuajak sulungku untuk mengobrol sekedar menjadi temen curhatnya karena saking sibuknya aku.

Air mataku tak bisaku bendung lagi.
Apakah kita menyadari bahwa jika kita mati besok pagi, perusahaan di mana kita bekerja akan dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Teman2 akan melupakan kita sebagai cerita yang sudah berakhir, beberapa masih menceritakan aib2 yang sengaja atau tidak sengaja kita lakukan. Teman2 dunia maya pun tak pernah membahas lagi seolah, aku tidak pernah mengisi hari2 mereka sebagai badut di grup.
Lalu aku rebahkan diri disamping anak-anakku, laptopku mengeluarkan suara, berpuluh puluh notifikasi masuk menyapaku, menggelitik untuk aku buka, tapi tidak.. tidak.. Aku matikan laptopku, hapeku dan aku pejamkan mata, maaf.. Bukan kalian yang akan membawaku ke surga, bukan kalian yang akan menolongku dari api neraka, tapi ini dia.. Keluargaku..anak-anakku, ibuku....mereka yang selalu mendoakan aku
keluarga yang jika kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka.

dan untuk itu aku ingin meluangkan waktuku untuk sekedar mengobrol dengan anakku, melibatkan mereka dalam kegiatan-kegaitan senggangku dan berusaha untuk ada ketika mereka membutuhkanku...
akan banyak kutelpon ibuku....karena dalam keadaannya sekarang, beliau mungkin butuh teman berbagi cerita, mendengarkan suara anak-anaku pasti akan membuat beliau senang....

walau sakitku di kakiku masih kurasakan, tapi pencerahan ini seolah menyembuhkanku...walo masih kesulitan untuk kugerakkan dan kulangkahkan, tapi ada bahagia dalam hatiku, karena aku tahu apa yang harus aku lakukan ke depannya, menjaga bidadari-bidadari kecilku dan pintu sorga-ku...ibuku...

please, tolong jangan di comment atau di-like"

  • view 195