Mimpi Musim Semi di Amerika

Gunawan Primasatya
Karya Gunawan Primasatya Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 01 Februari 2016
Mimpi Musim Semi di Amerika

Mimpi melihat dunia mungkin menjadi mimpi banyak orang, begitupun halnya dengan saya, termasuk sebagai seorang yang punya obsesi untuk melihat bayak kehidupan dari berbagai tempat dibelahan dunia ini. Setiap orang punya cara masing masing untuk mewujudkan mimpi tersebut. Tipenya macam ? macam, ada yang benar bersungguh sungguh mengejar mimpinya, ada yang sekedar menunggu keberuntungan atau sekedar Mujizat namun ada pula yang sekedar bermimpi menjadi angan angan indah yang semu. Saya ingat pertama kali diberikan kesempatan belajar di India 2010 lalu kemudian kesempatan itu membuka pintu untuk saya berkunjung ke beberapa negara seperti Nepal, Thailand, Malaysia, Singapura, Taiwan, Kamboja hingga tahun kemarin terwujudkan mimpi untuk berkunjung ke negara idaman masa kecil yaitu Jepang. Mungkin benar saya beruntung tapi niat itu juga dilalui dengan kerja keras yang tak mudah. Berkarya dan mendedikasikan diri ini untuk membangun Kampung, yah karena memang saya anak kampung yang datang jauh dari salah satu sudut timur negeri Indonesia yang mau belajar dari dunia untuk membangun tanah kelahiran.

Amerika, hampir semua orang pasti mengenal negara Paman Sam ini, negara adidaya yang menjadi salah satu kiblat negera berkembang seperti Indonesia, saya juga selalu memimpikan untuk bisa melihat bagaimana dia bisa memiliki control yang luar biasa di dunia. Tentunya berharap dengan uang sendiri tak akan mungkin bisa mewujudkan mimpi itu sekarang, yang bisa saya lakukan adalah mencari jaringan dan peluang untuk mengantarkan saya bisa belajar langsung di negeri patung Liberty. Saya pertama kali mendengar soal YSEALI ( Young Southeast Asian Leaders Initiative) ketika mengikuti program bersama kedutaan besar amerika di Jawa Tengah beberapa tahun lalu, YSEALI adalah sebuah Program yang digagas oleh Presiden Obama memberikan kesempatan banyak kaum muda potensial untuk bisa belajar di USA. Saya pun mendaftar menjadi member di Portal online resminya dan selalu diberikan kabar soal adanya peluang pertukaran yang sesuai dengan latar belakang karir, pengalaman dan usia saya. Akhirnya saya berkesempatan untuk mencoba mengikuti program profesional fellowship program, ini kegiatan magang yang diberikan kepada profesional untuk meningkatkan keahlian dan belajar dari pengalaman di Amerika, sesuai dengan latarbelakang saya bekerja di isu pendidikan maka saya sangat ingin belajar bagaimana pendidikan di sana sangat berdampak kepada kualitas sumberdaya manusianya. Usahapun saya mulai dengan banyak membaca referensi terkait pendidikan di amerika, belajar memahami soal konten program itu lalu mulai menulis essay dan mengisi form aplikasi. Usaha ini tak berhenti disitu saya selalu menghubungi beberapa orang kawan dan relasi yang baik hati membantu memperbaiki dan memberikan saran untuk essay yang saya tulis (terimakasih banyak kepada Eva Bachtiar, Elizarni & bruce van voorhis) dan juga meminta referensi dari tokoh senior yaitu pak Dicky dan Max Ediger yang memberikan surat rekomendasi saya untuk mengikuti kegiatan ini.

Sampai akhirnya suatu pagi saya mendapatkan email bahwa saya masuk menjadi 27 semifinalist dari ratusan pendaftar, senang tentunya usahapun berlanjut dengan sesi wawancara melalui skype sesuai dengan tanggal yang diberikan panitia. Mengumpulkan materi, latihan saya lakukan terimakasih buat kak Ely dan Mom Julia dua senior saya yang sekarang sedang mengambil program doktoralnya di amerika dengan sabar meluangkan waktunya untuk selalu memberi motivasi dan juga melatih saya untuk wawancara. Semakin dekat hari wawancara rasa gugup makin terasa, berdoa kepada Allah dan juga memohon restu dari mama tentunya menjadi hal wajib hingga akhirnya wawancara berjalan sekitar 30 menit dengan berasa sedikit kurang puas proses itu selesai. Kunci dari semua usaha ini adalah selalu sabar dan tekun. Sambil menunggu pengumuman lolos atau tidaknya semua sudah saya serahkan kepada Allah SWT tentunya hasilnya akan terjadi berkat ijin NYA walaupun secara manusiawi saya masih sedikit pesimis untuk bisa terus melaju. Saya ingat sekali pagi itu saya masih tidur ketika beberapa kali telp saya berdering karena kawan saya Ningsih yang juga ikut program ini menelfon dan benar dia mengabarkan bahwa pengumuman sudah dikirimkan via email. Rasanya tak percaya ketika membaca dengan detail email itu yang menyetakan saya lolos sebagai salah satu finalis dari 25 orang di 10 negara di Asean. Sujud syukur berterimakasih tentunya saya haturkan bahwa setiap niat harus di bawa kedalam setiap usaha dan Doa akan menjawab semua mimpi mimpi.

Hari berjalan perasaan makin bercampur aduk ada gugup, semangat, senang semua bercampur aduk menjadi satu. Entahlah ini mungkin hal yang sangat wajar, berkunjung kenegeri besar untuk pertama kali membuat semuanya berasa sangat emosional. Bagi saya tak ada yang tak bisa ketika kita memulai membangun mimpi bukan untuk membuat kita kembali tidur tapi untuk bangun dan mengejar mimpi. Tahun lalu di 2015 saya sempat untuk merasakan musim Semi di Jepang bersama mekarnya bunga Sakura, Tahun ini di 2016 Insya Allah di berikan kesempatan untuk merasakan musim semi di negeri Paman Sam bersama hati dan pikiran yang bermekaran, bermain dengan mimpi mimpi lama di masa kecil. Semoga semua berjalan lancar dan selalu bernilai Ibadah.

?Tak ada yang tak mungkin bagi orang yang selalu mencari jalan untuk segala kemungkinan?

GP First of february 2016

?

  • view 346