Mimpi Musim Semi Di Amerika. Part II

Gunawan Primasatya
Karya Gunawan Primasatya Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 02 April 2016
Mimpi Musim Semi Di Amerika. Part II

?Visa J1 sebuah Golden Ticket?


Waktu terus bergerak cepat sampai beberapa email masuk dari American Council sebagai institusi yang mengorganisir fellow program ini mengabarkan bahwa Visa akan segera diurus dikedutaan besar Amerika di Jakarta. Dengan semangat 45 tentunya saya mengkroscek satu persatu strategi pengurusannya. Pertama membaca dengan seksama email dari panitia tentang segala kebutuhan kepengurusan visa, kedua memahami segala detail kebutuhan persyaratan mengurus visa melalui website, dan ketiga yang sangat membantu adalah googling untuk membaca sejumlah artikel pengalaman para terdahulu yang sudah pernah ke Negeri Paman Sam dalam mengurus Visanya. Untuk kepentingan pertukaran belajar, budaya dan sejenisnya kami akan diberikan visa J1 (Visitor Exchange). Visa ini hanya bisa didapatkan sekali dalam setahun dan salah satu alasannya, pemerintah Amerika memberikan kesempatan untuk setiap Visitor wajib mengaplikasikan ilmu yang didapatkan selama pertukaran sekembali mereka ke Negaranya, tapi bukan berarti kami tidak bisa mengurusi Visa untuk masuk lagi Negara Adidaya itu tapi kami bisa mengurus Visa regular lainnya sesuai dengan keperluan.


Rasa deg-degan pasti ada diawal kalau mendengar banyak ?mitos? tentang ribetnya kepengurusan dan ketatnya ijin masuk yang akan dikeluarkan kepada calon visitor. Katanya wawancara bakal rumit, katanya identitas Muslim akan dipersulit, apalagi saya datang dari Poso sebuah daerah yang beberapa tahun terakhir sangat lekat dengan Isu Terorisme. Setelah mengisi formulir aplikasi melalui website kedutaan di https://ceac.state.gov/CEAC/ ada sejumlah kolom yang harus diisi mulai dari data pribadi, latar belakang aktifitas, keamanan hingga riwayat kesehatan maka kami akan mendapatkan semacam appointment letter untuk kami bawa saat wawancara nanti. Saya mempersiapkan juga beberapa dokumen pendukung seperti Pas Foto 5 X 5, Scan Pasport dan juga yang penting saya bawa buat jaga jaga adalah KTP, Ijasah, Akte Kelahiran, Kartu Keluarga, Buku Bank jadi jika ada yang diperlukan setidaknya saya tidak bingung lagi mempersiapkannya. setelah semua persyaratan dijalani semua ?Mitos? mulai terpatahkan karena Kedutaan besar Amerika sangat memfasilitasi setiap Aplicant. Mulai dari website kedutaan yang dual bahasa dan juga petugas kedutaan yang sangat ramah dan terbuka dalam setiap memberikan informasi. Apalagi program YSEALI ini menjadi agenda Pemerintah US di banyak Negara di Asean membuat saya menjadi percaya diri karena bisa dibilang saya adalah salah satu tamu khusus untuk Negara Adidaya tersebut.

?


Saya bertemu dengan beberapa fellows saat short breefing sekaligus makan malam bersama mentor kami, Pak Gatut seorang dosen dari Malang yang datang jauh jauh hanya untuk mengurus kebutuhan Visa para fellows. Bangga juga mendengar ceritanya bahwa Lima orang fellows yang terpilih untuk YSEALI PFP Program Tema Economy Empowerment adalah para professional terbaik dari 80 lebih aplikasi yang masuk di seluruh penjuru Negeri ini. Ada Nia seorang manager Bank Swasta, Lidia seorang community organizer, Mala seorang gadis cantik yang juga founder sebuah organisasi perempuan. Malam itu kami minus hadirnya Disa seorang owner caf? bagi kaum disabilities dan sekarang lagi stay di Singapura. Saya sebagai fellow cowo sendiri tentunya merasa paling tampan diantara mereka hehe. Momen Sharing berlalu seru hingga tengah malam di riuhnya pusat kuliner Jakarta di Jalan Sabang. Pagi nya kami semua berada dalam satu taksi menuju ke Kedutaan Amerika, kami melewati security system gedung yang sangat ketat , pintu dan jendela tampak kokoh terbuat dari besi baja dan kaca anti peluru, barang kami melewati pemeriksaan X Ray. Semua pintu bisa dibuka dengan sebuah akses kartu yang hanya dimiliki setiap staff. Rasanya kayak adegan di film mission impossible yang menjadi nyata. Kali ini kami ke Gedung Sarana Jaya (LSS Project) karena Gedung asli kedutaan sedang di renovasi maka untuk segala bentuk aktifitas diluar kepengurusan visa di pusatkan di Sini. Agenda pagi ini adalah pre orientasi bersama fellows lain dengan tema yang berbeda dan juga perwakilan staff kedutaan. kami total ada 14 fellows dan empat pendamping, Kalau dari style mereka terlihat sangat professional dalam busana semi jas, minimal kemeja atau berbatik formal dibandingkan saya yang berpakaian Jeans casual. Ternyata fellows lain di Musim Semi 2016 untuk tema Legislative dan Environment ini datang dari beberapa lembaga terkenal di Indonesia, ada yang dari Kementrian Keuangan, DPRD Propinsi, Kementrian Kemaritiman, Indonesia Corruption Watch Dll. Kemampuan bahasa inggris mereka saja beuuhhh jleebbb mengalir licin. Namun keakraban saat proses pre orientation mencairkan semua obrolan seru sehingga merekatkan jarak diantara kami, kebanyakan kami baru pertama ke Amerika dan semua memiliki semangat muda dan energetic.

?

Lepas makan Siang kami ke Gedung utama kantor Kedutaan Amerika di Jalan Merdeka Selatan, siang itu nampak tak ada antrian lain, hanya kelompok para fellows yang tertib berbaris masuk. Data kami diperiksa oleh petugas yang ramah untuk dibolehkan masuk dengan melewati sejumlah security check yang sama seperti pagi tadi, sejumlah barang yang kami bawa sepeti Tas, HP, laptop, Dompet harus di titipkan di loker selain lembar dokumen untuk pengurusan Visa dalam map biru yang sudah disediakan. Didalam kantor yang adem itu ada beberapa bilik bernomor, di antrian Bilik nomor sembilan untuk kami menyerahkan dokumen visa lalu diterima oleh petugas Indonesia hingga kemudian saat wawancara Visa tiba. Ini adalah fase keramat yang menjadi penentu, apakah kami akan berhasil mendapatkan Visa atau tidak. Semua fellows dipanggil satu persatu sesuai dengan urutan kemudian diwawancara, setiap kali ada yang dipanggil kami semua mendukungnya riuh kawan kami, seolah Peserta audisi Indonesian Idol yang akan masuk ke ruang penjurian. Setelah diwawancara jika Ijin Visa kami di approved maka kami akan di berikan sebuah Kupon Putih yang menjadi kartu untuk di tukarkan saat pengambilan Visa setelah 3 hari di setiap jam kerja, namun bila ada hal yang harus di tindak lanjuti lebih dalam maka akan di berikan Kupon berwarna kuning sebagai tanda ijin masih perlu diproses, data perlu di kroscek mendalam dan dalam waktu seminggu untuk kembali apakah akan interview lagi atau permohonan Visa nya ditolak. Satu persatu fellows nampak sumringah ketika ada Kupon Putih di tangannya, sebagai tanda wawancaranya berlangsung sukses. Gilirian nama saya dipanggil, seorang Wanita blonde tampak berlogat native America siap mewawancarai saya, sapaan awal yang ramah mencairkan kegugupan dan pertanyaan hanya berlangsung singkat, hanya bertanya soal agenda saya di USA, dimana akan saya tinggal disana, lalu latar belakang aktifitas saya, semua di cocokan dengan data online yang sudah mereka punya lalu hasilnya adalah ?Thanks Gunawan your visa has been approved and here is the card for you to pick you visa up after 3 days? selanjutnya adalah melakukan rekam sidik jari dan kemudian kupon putih sudah berhasil ditangan senyumku mengembang, luruh semua ?mitos? yang ada di pikiran saya sebelumnya, karena ternyata pengalaman saya tak pernah ditanyakan soal apa agamamu, bagaimana dengan Poso, dan segala kesulitan untuk mendapatkan Visa J1 ini terbantahkan. Kawan fellows lain semua pun nampak lega karena urusan hari ini selesai dengan lancar. Bagi Kami Visa adalah sebuah Golden Ticket, yang tak semua orang punya, sebuah Ijin resmi agar kami masuk di Negeri Patung Liberty demi meraih mimpi mimpi kami untuk belajar dari dunia.

Kepada semua kawan baik, keluarga dan Kamu yang spesial yang selalu berdiri bersama memberi dukungan melewati semua proses ini, tak ada alasan untuk saya melupakan jasa dan cinta kalian. Hormatku kepada para perempuan hebat dan semangat Pemuda Poso yang selalu memberikan kesempatan untuk saya belajar dari dunia, Karena pada Bumi Kandung ku titip janji saya untuk kembali mendedikasikan semua ilmu dan pengetahuan.

(GP dirumah Kolong Jembatan 4/2/2016)

?

  • view 289