"ASMARA BERUJUNG MAUT"

"ASMARA BERUJUNG MAUT"

Abdurahman H. Jumadi
Karya Abdurahman H. Jumadi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Januari 2018

"ASMARA BERUJUNG MAUT"
Abdurahman H. Jumadi

(Pada suatu hari Pati berjalanmondarmadir di dalamrumahnya, ia tampak gelisah, ia mebayangkan kekasihnya s iKewa yang cantik jelita itu, tiba-tiba ibunya masuk. Ia pun mengatakan sesuatu pada ibunya.)

Pati               :Bu! Pati mau bilang sesuatu sama Ibu

Ibu Halimah : Nak, Pati mau bilang apa?

Pati : Begini bu saya jatuh cinta sama Kewa putrinya Nana Hasan dan Wae Fatimah, saya ingin keluarga kita mendatangi rumahnya untuk menanyakan kesedian dari keluarga Kewa.Mendengar ungkapan dari anaknya, Ibu Halima sangat gembira segera memberitahukan maksud hati anaknya ini kepada suaminya, dan mereka segera lakukan urung rembuk dalam keluarga sebelum bertandang ke rumah Kewa untuk melamarnya.

Ibu Halimah : Bapak! anak kita pati bilang sama saya kalau dia jatuh cinta sama si Kewa anaknya Kakak Hasan dan Winna Fatimah, dia ingin keluarga kita mendatangi rumahnya untuk meminta restu.

Pak Subhan  : Oh iya bu! Bapak juga senang mendengar kabar ini. Baiklah kalau begitu saya akan beritahukan kabar ini dengan kerabat kita yang lain untuk segera mengadakan urung rembuk dan memutuskan anak opu kita untuk pergi menyampaikan berita ini pada keluarganya Kewa.

(Pak subhan meminta opu laga manyampaikan niat keluarganya untuk melamar Kewa)

Pak Subhan  : Opu Laga ,anak saya pati menginginkan putri tunggal dari Nana Hasan yakni si Kewa untuk menjadi isterinya. Saya minta tolong kamu pergi kerumahnya untuk menyampaikan berita ini.

Laga            : Baiklah Nana kalau begitu sebentar malam saya akan mendatangi rumahnya untuk menyampaikannya.

(Malam itu pergilah Opu Laga kerumahnya Kewa.  Selepas sholat isya, ia meneguk secangkir kopi sembari menyedot kepulan asap dari batang rokok yang digenggam jarinya ia keluar dari rumah menapaki jalan, udara sangat dingin, beberapa saat kemudian tibalah ia didepan sebuah pintu)

Laga             : Asalamualaikum,(sambil mengetuk pintu itu)

Ibu Fatimah :Walaikumsalam, (jawab bu Fatimah  dari balik  pintu, sesaat kemudian ia membuka pintu) adikLaga? Mari masuk duduk dulu Dik, ada apa yah? malam-malam begini datang kemari, adakah sesuatu yang hendak kamu disampaikan?

Laga              : Iya begini Kaka sebenarnya ada yang mau saya sampaikan pada keluarganya Kaka dan Opu Hasan.

Ibu Fatimah  : Baiklah Dik, kalau begitu tunggu sebentar saya panggilkan dulu bapaknya Kewa.

(Beberapa  saat  berlalu  datanglah  bapak  Hasan  mereka  sama  duduk  dalam  ruangan  tamu)

Pak Hasan   : Bagaimana Nana Laga saya dengar ada yang mau disampaikan pada keluarga kami?

     Laga              : Begini Opu Hasan! maksud kedatangan saya adalah untuk menyampaikan maksud dari kelurga Nana Subhan dan Wae Halimah yakni mereka menginginkan putri tunggal Opu Hasan untuk dijadikan istri oleh anaknya si Pati.

(Perbincangan itu terus berlanjut, akan tetapi belum ada keputusan dari keluarga Pak Hasan)

  Pak Hasan    : Baiklah Nana Laga, tapi terlebih dahulu kami akan melakukan urung rembuk dalam kelurga dan menanyakan langsung sama si Kewa dulu mengenai kesedianya.

Laga            : Baiklah Opu Hasan, terima kasih, kalau begitu saya pamit dulu.

Asalamualaikum,(sambil berjalan keluar menggalkan pintu itu).

Pak Hasan  :Waalaikumsalam.

(Keesokan paginyaPak hasan pun bertamya pada anaknya)

      Pak Hasan  : Kewa, semalam datang seorang tamu yang datang membawa kabar dari keluarganya Opu Subhan, mereka menginkan kamu untuk menjadi isterinya Pati anak mereka itu. Apakah kamu bersedia menjadi isteri Pati?

Kewa           : Iya bapak saya bersedia menjadi isterinya Pati.

Pak Hasan : Baiklah nak, kalau begitu bapak akan segera kumpulkan kerabat keluarga kita untuk membicarakan hal ini.

(Segeralah keluarga Pak Hasan pun memberitahukan hal ini kepada semua kerabat kelurga mereka untuk mengadakan urung rembuk.)

  Pak Hasan : Bapak, ibu sadara-saudariku sekalian, semalam saya didatangi seorang tamu dari keluarganya Opu Subhan, ia membawa kabar bahwa pihak keluarga mereka menginginkan putri tunggal saya Kewa untuk dijadikan isteri dari anak mereka yakni Pati. Oleh karena itu saya mengudang bapak, ibu saudara saudariku sekalian kemari untuk kita membicarakan hal ni lebih lanjut.

(Sore itu mereka sedang mengadakan urung rembuk di rumahnya Pak Hasan.Mereka menyepakati uang senilai sepuluh juta rupiah sebagai simbol penghargaan terhadap air susu ibu, dan lima ekor kambing untuk memulikan paman Kewa serta tiga batang gading sebagai mahar untuk Kewa sendiri. Mendengar kabar yang demikian tentu saja Pati tak mungkin sanggup memenuhi tuntutan tersebut. Dan akhirnya mereka berdua sepakat untuk lari dari rumah dan menikah diatas tangan, menikah tanpa restu dari kedua orang tua mereka dan siap untuk menempuh hidup meskipun harus dengan menolak hukum adat, dan siap menghadapi resiko yang akan dialami.)

Pati               : Kewa, maukah kamu ikut lari denganku ketanah rantau. Kita akan menikah dan menjalani hidup bersama disana. Kita tidak akan terkena musibah walaupun menentang adat, karena nasib kita ditentukan oleh kita sendiri, itu hanyalah mitos belaka.

Kewa           : Baiklah Pati, saya akan ikut denganmu, aku juga tidak bisa hidup tanpa kamu.

(Pada suatu malam yang uzur di luar sana sedang terjadi badai, gemuruh angin yang kencang dan kilat serta guntur yang terus mengirim bunyi-bunyi yang besar seolah kehidupan dunia akan segera berakhir, namun tak dapat menghalangi niat kedua insan ini,mereka pun sepakat untuk pergi.)

Pati             : Ayo cepat Kewa! Kita harus pergi tinggalkan tempat ini.

(Berdua menuju dermaga Waiwerang, menyewa perahu kecil menyebrangi selat Solor menuju pulau Lembata. Beberapa saat berlalu sandarlah perahu kecil itu di dermaga Lembata, terlihat sebuah kapal besar KM Bukit Siguntang namanya. Sesaat kemudian bunyi sirine kapal berdentungan pertanda kapal akan segera berlayar, cepat-cepatlah keduanya menaiki tangga sembari meneteskan air mata, Tibalah mereka di negri Malaysia. Di tanah orang Pati berkerja di sebuah perusahaan batu bara, sedangkan Kewa berkerja sebagai karyawan di sebuah toko. Setelah beberapa bulan menetap di sana terdengar kabar gembira bahwa Kewa hamil.)

Kewa          : Pati, aku hamil anak kita

Pati            : Benarkah,? aku bahagia sekali mendengar berita ini, sebentar lagi kita akan punya anak.

(Hari demi hari terus berlalu usia kandungan Kewa sudah hampir genap,ia merasa sakit sekali pada perutnya,ia seger menelpon suaminya).

Kewa           : Hallo Pati,kamu dimana? aduh,  perutku sakit sekali

Pati              : Baiklah Kewa! Tunngu sebentar aku akan segera pulang menemuimu

(Namun tidak disangka-sangaka kejadian naas menimpa Pati dalam perjalanan pulang untuk menemui sang isteri. Ia mengalami kecelakaan, ditabrak sebuah pengendara mobil truk, sempat ia dibawa ke rumah sakit namun sayang nyawanya tak dapat diselamatkan., Kewa istrinya tak kuasa menahan tangis, meratapi mayat sang suami yang terbaring kaku)

Kewa       :Kenapa kamu pergi secepat ini Pati, padahal sembentar lagi aku akan melahirkan anak kita (sambil menangis memeluk mayat suaminya).  

( Seminggu setelah acara pemakaman Almahrum Pati, terdengar suara tangisan bayi di rumah kontrakan mereka. Suara tangisan itu adalah bayi Kewa. Ia sudah melahirkan, bayinya laki-laki dan diberi nama Adi Pati. Akhirnya setelah lima tahun kemudian Kewa pun memutuskan untuk pulang ke kampung halamanya. Malam itu, dibaringi gerimis hujan, dia  memberanikan diri untuk mengetuk pintu tapi tangannya tergetar, ia takut.)

Kewa             :Tok! Tok! Tok!, (tak ada jawaban).

Tok! Tok! Tok!,

Ibu Fatimah : Ya Siapa? (Jawabnya dari balik pintu).

Kewa              : Aku Kewa Bu!

(Seketika hening, perlahan suara berisik hilang berganti menjadi bunyi tatih langkah kaki, semakin mendekat merapat ke pintu. Airmatanya jatuh deras membasahi pipi, tiba-tiba.. krekkk!!! palang pintu terbuka.Ia membayangkan akan  terjadi sebuah drama yang mengaharuhkan. Krekkk!!! Dan pintu dibuka. Ia saksikan wajah seorang wanita tua. Segera ia langkahkan kaki masuk kedalam rumah)

Ibu Fatimah  : untuk apa kau datamg kemari!

Kewa             : Maafkan aku Ibu,(dibarengi sebuah pelukan erat dari lengannya. air mata perempuan itu terus jatuh, Ia terus mengulangi kata yang sama).

Kewa              : Maafkan aku Ibu, hinggah hati ibu pun luluh, Ibunya pun terharu dan ikut menangis. "Dimana Ayah, Bu?" (Ibunya hanya terdiam)

                        "Ayah dimana Bu"? (tanyanya sedikit ragu).

Ibu Fatimah : Ayahmu sudah meninggal nak.(Jawab Ibunya setelah beberapa saat).

Kewa           : Apa Bu? sudah meninggal,!(suara tangisannya pecah).

Ibu Fatimah :Semenjak kepergianmu tanpa meninggalkan pesan itu, ayah terus-terusan memikirkanmu, ia jadi sakit, tidak berapa lama nyawanya ayahmu tak dapat tertolongkan.Sudahlah Nak, semua sudah terjadi tangisan kita juga tidak akan dapat menghadirkan kembali sosok ayahmu

Ini Anakmu,? lalu dimana suamimu.?.

Kewa            :Iya Bu, Ini Adi Pati anaku, Suamiku juga sudah meninggal, Bu. Dia mengalami kecalakan dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya". Suaranya parau.

(Malam yang pekat ini, di temani cahaya terang rembulan aku memeluk erat tubuh ibuku, aku mahfum atas segala kedurhakaanku, sembari mengaharapkan pintu maaf terbuka untuk ku)

Catatan :

Opu  : panggilan untuk laki-laki yang menikahi anak atau saudara perempuan dari kita

Nana : 1. (saudara laki-laki ibu) panggilan seorang laki-laki kepada saudara laki-laki dari perempuan atau anak yang dinikahinya

  1. panggilan anak baik laki-laki maupun perempuan kepada saudara laki-laki ibu

 

  • view 146