"ASMARA BERUJUNG MAUT"

Abdurahman H. Jumadi
Karya Abdurahman H. Jumadi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Desember 2017

"ASMARA BERUJUNG MAUT"
Abdurahman H. Jumadi
Jauh dari pelupuk mata ada sebuah surga yang mengapung tersembunyi di balik himpitan selat pulau Solor dan Lomblen. Adonara. Pulau yang kaya akan budaya dan di kenal kuat memegang teguh adat istiadatnya. Pulau yang sejuk akan cinta sehingga membuat kehidupan orang orang disana bahagia meski hidup sederhana. Meski demikian, terkadang bisa menjadi penjara yang senantiasa mengurung para nara pidananya dibalik jeruji besi bila adat dilanggar.
Tanah Adonara. Di Tanah ini tak ada lipstik yang membuat bibir menjadi merah. Hanya sirih pinang yang mejadikan ajang doa dari bibir ke bibir setiap orang tua.Tak ada juga gaun berbi yang menjadikan wanita serupa gadis eropa, sebab sarung tenun adalah sutra yang membungkus diri agar tak lari dari hangatnya suhu dingin yang membelenggu.
Tak bisa dipungkiri lagi mimpi buruk kian selalu menghantui kaum adam disana apabila sudah mulai memasuki usia dewasa atau usia pernikahan, pasalanya bahwa setiap kaum hawa di sana diharga setimpal dengan belis gading sebagai syarat mahar yang mutlak dalam sebuah peminangan. Keberadaan gading di pulau pembunuh ini pun mulai berkurang karna banyak orang membelinya untuk dimanfaatkan sebagai barang perhiasan dan lainya, dan lebih parahnya lagi tak ada seekor pun mamalia pemroduksi gading ini sudi menghirup aroma pengap udara di pulau ini. Hal ini tentunya menyebabkan terkadang orang orang lari dari kenyataan hidup mereka, demikian seperti apa yang dihadapi oleh Pati saat kini. Ia adalah buah hati yang kedua dari pasangan bapak Subhan dan Ibunda Halima, sedangkan saudari perempuanya Siti sudah menikah beberapa tahun lalu dengan Opu Laga. Kedua orang tuanya sangat menyayangi mereka.
Terlahir dari keluarga sederhana yang hidup pas-pasan membuat Pati tumbuh menjadi sosok laki-laki yang rajin, patuh, dan selalu taat pada kedua orangtuanya. Ia selalu membantu bapaknya dalam mencari rejeki untuk keberlangsungan hidup mereka sehariharinya. Berkebun di ladang adalah pekerjaan yang sudah digelutinya semenjak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Setelah jam pulang dari sekolah ia selalu saja pergi ke ladang untuk membantu bapaknya berkerja, meskipun dahulu bapaknya sering melarangnya mengerjakan pekerjaan itu, namun ia tetap bersih keras dan tetap pergi keladang di setiap haririya. Setelah menamatkan studi di bangku menengah atasnya, sebernarnya Pati sangat ingin melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, namun karena lantaran terpaut ekonomi sehingga ia harus menguburkan mimpinya sedalam mungkin, apalagi diperparah

dengan kabar bapak yang sudah tidak kuat lagi berkerja lantaran usia yang semakin senja, dan kini pekerjaan berkebun diladang itu sudah menjadi profesi tetapnya, ia melanjutkan usaha dari bapaknya.
Sosok pria yang tampan dan rajin serta berbaik hati tentu saja mampu mempesona setiap wanita, banyak sekali wanita yang suka padanya, namun cinta Pati hanya untuk seorang saja. Ia mencintai seorang gadis yang sangat cantik, bola matanya begitu indah sekali tatkala dipandang, alisnya yang tebal, dagunya runcing mirip lebah yang sedang menggantung saja.
"Ahh, sungguh sangat-sangat cantik wanita ini."
Dia adalah Kewa, putri semata wayang pak Hasan dan ibu Fatimah, demikian Kewa pun sangat mencintai Pati, mereka berdua menjalin hubungan asmara sejak masih duduk di bangku SMA. Keduanya sepakat mengikrar janji sehidup semati dan akan melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius.
Pada suatu hari Pati menyampaikan niat untuk melamar Kewa kepada ibunya. "Bu! Pati mau bilang sesuatu sama Ibu," tuturnya
"Nalc, Pati mau bilang apa?" tanya Ibunya.
"Begini bu saya jatuh cinta sama Kewa putrinya Nana Hasan dan Wae Fatimah, saya ingin keluarga kita mendatangi rumahnya untuk menanyakan kesedian dari keluarga Kewa." Mendengar ungkapan dari anaknya, Ibu Halima segera memberitahukan maksud hati anaknya ini kepada suaminya, dan mereka segera lakukan urung rembuk dalam keluarga sebelum bertandang ke rumah Kewa untuk melamarnya. Segeralah dilakukan urung rembuk bersama kerabat keluarga Pak Subhan dan disepakati salah satu anak Opu yakni Opu Laga suami dari saudari perempuanya untuk menyapaikan niat keluarga untuk melamar si Kewa.
Malam itu selepas sholat isya, ia meneguk secangkir kopi sembari menyedot kepulan asap dari batang rokok yang digenggam jarinya ia keluar dari rumah menapaki jalan, udara sangat dingin hingga menggigilkan pohon-pohon yang tengah berdiri tegak diluar sana, jalanan sangat sepi mirip seperti pulau yang tak berpenghuni, sunyi sekali bahkan sampai terdengar detak jam dinding tatkala ia lewat depan rumah para tetangga, ia terus menapaki jalan, beberapa saat kemudian tibalah ia didepan sebuah pintu.
"Asalamualaikum," sambil mengetuk pintu itu
"Walaukumsalam," jawab pemilik rumah dari balik pintu kayu.
"Adik Laga.? Mari masuk duduk dulu Dik, ada apa yah? malam-malam begini datang kemari, adakah sesuatu yang hendak kamu disampaikan?" tanya ibu Fatimah

"Iya begini Kaka sebenarnya ada yang mau saya sampaikan pada keluarganya kaka dan opu Hasan", jawab si Ana opu.
"Baiklah Dik kalau begitu tunggu sebentar saya panggilkan dulu bapaknya Kewa." Beberapa saat berlalu datanglah bapak Hasan mereka sama duduk dalam ruangan tamu.
"Bagaimana Nana Laga saya dengar ada yang mau disampaikan pada keluarga kami? tanya pak Hasan."
"Begini Opu Hasan! maksud kedatangan saya adalah untuk menyampaikan maksud dari kelurga Nana Subhan dan Wae Halimah yakni mereka menginginkan putri tunggal Opu Hasan untuk dijadikan istri oleh anaknya si Pati."
Perbincangan itu terus berlanjut, akan tetapi belum ada keputusan dari keluarga Pak Hasan. "Baiklah Nana Laga, tapi terlebih dahulu kami akan melakukan urung rembuk dalam kelurga dan menanyakan langsung sama si Kewa dulu mengenai kesedianya", kata Pak Hasan. "Baiklah Opu Hasan, terima kasih, kalau begitu saya pamit dulu."
"Asalamualaikum," sambil berjalan keluar menggalkan pintu itu.
"Waalaikumsalam," jawab pemilik rumah.
Keesokan harinya, segeralah keluarga Pak Hasan pun memberitahukan hal ini kepada semua kerabat kelurga mereka untuk mengadakan urung rembuk, Maka sepakatlah meraka di hari itu, uang senilai sepuluh juta rupiah sebagai simbol penghargaan terhadap air susu ibu, dan lima ekor kambing untuk memulikan paman Kewa serta tiga batang gading sebagai mahar untuk Kewa sendiri, karna secara aturan adat ibu dari si Kewa ini pun dipatok dengan tiga batang gading oleh bapaknya sendiri. Kenyataan ini tentu akan sangat menjadi berat bagi Pati dan keluarganya untuk memenuhi syarat pelamaran dari keluarga Kewa. Berbagai cara ditempuh oleh pihak keluarga Pati untuk mencari jalan keluar namun yang ditemukan hanyalah jalan buntu tidak ada yang dapat menyelesaikan persoalan ini. Dan akhirnya mereka berdua sepakat untuk lari dari rumah dan menikah diatas tangan, menikah tanpa restu dari kedua orang tua mereka dan siap untuk menempuh hidup meskipun harus dengan menolak hukum adat, dan siap menghadapi resiko yang akan dialami.
"Itu hanyalah sebuah mitos belaka." kalimat inilah yang diucapakan Pati saban hari untuk meyakinkan Kewa ikut lari bersamanya ke negri tetangga.
"Sebuah kalimat yang benar-benar keramat, namun tak ada seorang pun yang tahu akan kebenaranya."
Pada suatu malam yang uzur di luar sana sedang terjadi badai, gemuruh angin yang kencang dan kilat serta guntur yang terus mengirim bunyi-bunyi yang besar seolah kehidupan dunia akan segera berakhir, namun tak dapat menghalangi niat kedua insan ini,
keputusan mereka sudah bulat apapun yang terjadi malam ini keduanya harus tetap pergi meningglkan rumah. meninggalkan orang tua yang sangat menyayangi mereka, meninggalkan segala-galanya. Pati pergi meninggalkan sehektar kebun warisan bapaknya yang kini sudah menjadi ladang usahanya dalam mengais rejeki untuk hidup mereka tentu saja akan terbengkalai, meninggalkan bapaknya yang sudah tidak kuat lagi berkerja karna usia yang makin menua, juga ibunya yang hanya berkerja sebagai penenun kewatak sebagai penghasilan tambahan, lalu bagaimana nasib kedua orangtuanya jika ia yang kini sudah jadi tulang pungggung keluarga harus pergi?.
Apakah Pati sanggup melakukany?, lalu bagaimana dengan Kewa si putri semata wayang yang juga dengan berat hati meninggalkan ibundanya yang sudah merawat dan mebesarkanya sepenuh hati, meninggalkan sosok bapak yang saban pagi selalu menyuruhnya mebuatkan secangkir kopi, pastinya akan ada sesuatu hilang, tentunya mereka akan saling merindu, bukan?. Lalu apakah kedua insan ini sanggup melakukannya? Ohh, tentu saja mereka akan melakukanya, karena jika tidak maka batin mereka akan sangat tersiksa itulah sebabnya dikatakan bahwa meskipun terlihat sederhana namun kehidup disana terkadang seperti penjara yang senantiasa membelenggu para nara pidananya dari balik jeruji besi yang keras jika kita tidak mampu menyelesaikan permasalahan hidup yang ada.
Malam itu Pati menunggu Kewa di ujung gang jalan, datang Kewa membawa sebuah tas ransel yang di pikul dibahunya berisi beberapa potong pakaian ganti untuk digunakan beberapa harinya, berdua menuju dermaga Waiwerang, menyewa perahu kecil menyebrangi selat Solor menuju pulau Lembata. Beberapa saat berlalu sandarlah perahu kecil itu di dermaga Lembata, terlihat sebuah kapal besar KM Bukit Siguntang namanya, yang siap membawa mereka menghilang tanpa jejak. Sesaat kemudian bunyi sirine kapal berdentungan pertanda kapal akan segera berlayar, cepat-cepatlah keduanya menaiki tangga sembari meneteskan air mata, negeri Jiran adalah titian mereka.
Mereka lari ke tanah rantau, menikah dan menjalani hidup disana. Di tanah orang Pati berkerja di sebuah perusahaan batu bara, sedangkan Kewa berkerja sebagai karyawan sebuah toko. Meskipun pengehasilan mereka tidak terlalu banyak, setidaknya mampu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya dan sisanya disisipkan untuk ditabung. Setelah beberapa bulan menetap di sana terdengar kabar gembira bahwa Kewa hamil. Sadar akan hal itu Pati pun harus mencari pekerjaan tambahan, menjadi kuli bangunan adalah pekerjaan sampingannya. Hari demi hari terus berlalu usia kandungan Kewa sudah hampir genap, mereka akan segera memiliki seorang bayi. Namun tidak disangka-sangaka kejadian naas menimpa Pati
suatu hari dalam perjalanan pulang dari tempat kerja menuju rumah. Ia mengalami kecelakaan, ditabrak sebuah pengendara mobil truk. Tubuhnya terpental jatuh dari sepeda motor yang ia kendarai, sempat ia dibawa ke rumah sakit namun sayang nyawanya tak dapat diselamatkan. Mendengar kabar demikian, Kewa istrinya tak kuasa menahan tangis, meratapi mayat sang suami yang terbaring kaku, ia seakan tak percaya dengan semuanya, sebab sebentar lagi ia akan melahirkan bayi mereka. Tapi mengapa suaminya lekas pergi meninggalkan mereka untuk selamanya, ia benar-benar tidak rela. Namun semuanya telah terjadi, waktu tak dapat diputar kembali, mungkinkah ini masih ada kaitanya dengan apa yang ucapkan Pati kala itu meyakinkan Kewa untuk kawin lari dengannya? Seminggu setelah acara pemakaman Almahrum Pati, terdengar suara tangisan bayi di rumah kontrakan mereka. Suara tangisan itu adalah bayi Kewa. Ia sudah melahirkan, bayinya laki-laki dan diberi nama Adi Pati.
Menyandang status sebagai seorang janda yang memiliki satu anak tentu sulit bagi Kewa untuk menjalaninya, sungguh sangatlah susah membesarkan anak seorang diri tanpa sosok sang suami, apalagi ia hanya berkerja menjadi seorang karyawan di sebuah toko. Itulah nasib Kewa sekarang, hal yang sedikit pun tak pernah terlintas dalam benaknaknya kini terjadi pada dirinya. Akhirnya setelah lima tahun kemudian Kewa pun memutuskan untuk pulang ke kampung halamanya.
Malam itu, dibaringi gerimis hujan, aku harus memberanikan diri untuk mengetuk pintu tapi tangannku tergetar, aku takut. Namun jika aku tidak mengetuk pintu ini maka mustahil aku akan masuk. Aku tak boleh terus berdiri disini, anakku juga menggigil kedinginan, aku harus masuk, kami sudah tidak kuat lagi diselimuti gigil. Ku berani diri untuk mengetuk pintu itu meskipun harus menerima cacian.
Tok! Tok! Tok!, masih tak ada jawaban.
Tok! Tok! Tok!, kali ini bunyi ketukan semakin keras.
"Ya Siapa?" jawab pemilik rumah dari dalamnya.
"Aku Kewa Bu!."
Ia kenal betul suara itu, suara yang dua puluh tahun lalu saban malam mendongengkan untukna syair-syair daerah.
Seketika hening, perlahan suara berisik hilang berganti menjadi bunyi tatih langkah kaki, semakin mendekat merapat ke pintu. Airmatanya jatuh deras membasahi pipi, tiba-tiba.. krekkk!!! palang pintu terbuka.
Ia membayangkan terjadi sebuah drama yang mengaharuhkan. Krekkk!!! Dan pintu dibuka. Ia saksikan wajah seorang wanita tua. Segera ia langkahkan kaki masuk kedalam rumah.
 
"Untuk apa kau datang kau datang kemari" suara itu sejenak menghentikan langkahnya, namun ia harus tetap masuk.
"Maafkan aku Ibu," dibarengi sebuah pelukan erat dari lengannya. air mata perempuan itu terus jatuh, Ia terus mengulangi kata yang sama.
"Maafkan aku Ibu," hinggah hati ibu pun luluh, Ibunya pun terharu dan ikut menangis. "Dimana Ayah, Bu?" Ibunya hanya terdiam
"Ayah dimana Bu"? tanyanya sedikit ragu.
"Ayahmu sudah meninggal nak." Jawab Ibunya setelah beberapa saat.
"Apa Bu? sudah meninggal," suara tangisannya pecah. seperti guntur yang meledak, menyemburkan air mata penyesalan, kedurhakaan yang telah ia perbuat harus ia bayar mahal untuk sebuah kebahagiaan.
"Semenjak kepergianmu tanpa meninggalkan pesan itu, ayah terus-terusan memikirkanmu, ia jadi sakit, tidak berapa lama nyawanya ayahmu tak dapat tertolongkan." Tutur ibunya. "Sudahlah Nak, semua sudah terjadi tangisan kita juga tidak akan dapat menghadirkan kembali sosok ayahmu". Kewa terus menagis.
"Ini Anakmu,? lalu dimana suamimu.?" Seketika jadi hening, tangisannya terhenti, ia usap air mata di pipi.
"Iya Bu, Ini Adi Pati anaku, Suamiku juga sudah meninggal, Bu. Dia mengalami kecalakan dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya". Suaranya parau.
Malam yang pekat ini, di temani cahaya terang rembulan aku memeluk erat tubuh ibuku, aku mahfum atas segala kedurhakaanku, sembari mengaharapkan pintu maaf terbuka untuk ku.
Catatan :
Kewatak : kain tenun atau sarung tenun khas masyarakat adonara
Opu    : panggilan untuk laki-laki yang menikahi anak atau saudara perempuan dari kita
Nana : 1. (saudara laki-laki ibu) panggilan seorang laki-laki kepada saudara laki-laki dari perempuan atau anak yang dinikahinya
2. panggilan anak baik laki-laki maupun perempuan kepada saudara laki-laki ibu

  • view 86