Sekali-sekali Drama Bolehlah

Gita Swasti
Karya Gita Swasti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Januari 2016
Sekali-sekali Drama Bolehlah

Butuh waktu 1 menit buat baca tulisan ini. Kalau misal di tengah-tengah paragraf kepengen cuci piring dulu dan bacanya jadi tambah lama, itu bukan urusan penulis. Sekian.

image

Gambar diambil disini

Saya kok merasa akhir-akhir ini sering menyaksikan drama. Perihal tetangga sebelah yang tiap sore meneriaki anaknya supaya segera pulang ke rumah, sejumlah following yang saling lempar kode di Twitter, curhatan seorang teman yang friend requestnya diabaikan oleh temannya, status galau di media sosial, pertanyaan-pertanyaan relatif yang diajukan oleh orang lain yang tentu saja menimbulkan jawaban yang berbeda-beda pula, lha wong namanya saja relatif. Sudah tahu kalau pertanyaan soal karir, cita-cita, penampilan fisik, rutinitas dan cinta adalah pertanyaan yang relatif, kenapa masih saja gelisah? Tiap-tiap orang akan menjawab sesuai perspektifnya masing-masing. Ah, drama memang.

Tapi, tunggu sebentar. Sebenarnya apa sih definisi drama?

Drama merupakan genre (jenis) karya sastra yang menggambarkan kehidupan manusia dengan gerak.[1][2][3] Drama menggambarkan realita kehidupan, watak, serta tingkah laku manusia melalui peran dan dialog yang dipentaskan.[1] Kisah dan cerita dalam drama memuat konflik dan emosi yang secara khusus ditujukan untuk pementasan teater.[1] Naskah drama dibuat sedemikian rupa sehingga nantinya dapat dipentaskan untuk dapat dinikmati oleh penonton.[4] Drama memerlukan kualitas komunikasi, situasi dan aksi.[5] Kualitas tersebut dapat dilihat dari bagaimana sebuah konflik atau masalah dapat disajikan secara utuh dan dalam pada sebuah pementasan drama.[5] lihat di Wikipedia

Lho, berarti yang saya jelaskan di paragraf pertama itu karya sastra ya?

Tentu saja bukan. Drama yang dimaksud disini adalah peristiwa-peristiwa yang kita saksikan di sinetron Indonesia. Iya, yang saya maksud adalah sinetron Indonesia. Jangan terbayang soal Young & Hungry, Devious Maids, maupun Royal Pains. Itu bukan Indonesia.

Bolehlah sekali-kali galau, kirim kode, tweet no mention, ngajak berantem sama pacar, bikin twitwar, dll. Namun cobalah kurangi frekuensinya. Kita hidup di jaman gila komentar. Orang yang tidak pernah buka sosmed akan dikomentari ?Alah anak jadul kamu.? , orang yang sedikit-sedikit bikin status galau akan dikomentari sebagai orang paling rapuh se-timeline , orang yang tiap hari sering kasih nasihat atau info up-to-date akan disangka banci follower. Komentar tidak bisa diprediksi . Hari ini saya kaget melihat tulisan @satriamaulana?yang menceritakan kalau dia sedang diserang pesan sinis melalui fitur Ask. Blogger sekelas Satria Maulana yang konten blognya penuh dengan cerita sederhana namun sarat makna kok bisa-bisanya mengundang banyak kritik sinis ya? Aneh memang. Begitu pula dengan apa yang kita lihat hari ini. Saat kita menyaksikan semuanya di timeline, akan bermacam-macam pula rasanya. Kadang ikut galau, kadang tertawa, kadang ceria, kadang langsung unfollow. Nah lho!

Bagi mereka yang sering mengungkapkan perasaannya di sosial media ataupun percakapan langsung di sebuah kerumunan, hal itu tidak menjadi beban bagi mereka. Mereka hanya perlu bercerita, tak peduli disangka anak sinetron, anak teater, anak PDA*, anak lenong maupun pujangga sosmed. Setiap orang memiliki wahananya masing-masing untuk bercerita dan setiap orang memiliki ?kadar drama? yang berbeda-beda pula. Tantangannya adalah bagaimana kita menciptakan drama yang mampu melibatkan perasaan, naluri dan akal sehat kita sebaik mungkin.

Ayo, mainkan dramamu sebermakna mungkin.

Semarang, 7 Januari 2016**

*Public Display Affection
**diposting di gitaswasti.com pada tanggal 7 Januari 2016

  • view 180