Kutipan

Gita Swasti
Karya Gita Swasti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Januari 2016
Kutipan

Mengantuk, di hadapan sebuah laptop yang menampilkan sheet Microsoft Excel. Saya melihat jam, malam masih panjang. Hari ini cukup terbantu dengan sebungkus kopi yang diselipkan Ibu ke dalam ransel saya kemarin. ?Boleh minum kopi, tapi jangan berlebihan? ujar beliau menjelang keberangkatan saya ke Semarang. Maklum, lambung saya sudah pernah ?terluka? dua tahun silam akibat terlalu banyak mengkonsumsi kopi.

Terdiam mencoba mengingat apa yang terjadi beberapa hari sebelumnya. Saya terkena ?writers block? , membuka Tumblr tanpa nafsu untuk menulis apapun. Otak saya sepertinya sedang mogok menulis dan kering ide.?Penyebabnya adalah kejadian seminggu ini yang sedikit mengubah settingan rutinitas (dan jiwa) saya. Rutinitas di kantor mengubah saya sedemikian rupa. Membaca sebuah buku, menyimpulkan poin penting kemudian menuliskannya di Tumblr, ujung-ujungnya tulisannya tidak selesai. Pada akhirnya saya hanya menghempaskan diri ke kasur dan terlelap sampai keesokan paginya.

Saya yakin kalau Anda pasti gemar menggunakan media sosial, entah itu Facebook, Tumblr, Path, Snapchat, LinkedIn, atau lainnya. Saya kembali tersenyum untuk kesekian kalinya melihat sejumlah following di beranda Instagram memasang kutipan yang tidak berhubungan dengan foto yang diunggah. Ada apa ini? Kenapa semua orang di beranda menjadi seperti ini? Iseng, saya beralih membuka beranda Linkedin. Saya kembali tertawa melihat sejumlah connecting memasang ilusi optis, tebak-tebakan, sampai foto bersama artis. Rupanya sama saja. Tidak relevan.

Bicara soal kutipan, saya punya kutipan favorit yang ingin saya bagi disini

?Stand up for what is right, regardless of who is committing the wrong.? ?
? Suzy Kassem

Menurut persepsi saya, kutipan diatas kurang lebih maknanya seperti ini ?Kita berhak membenarkan apa yang kita anggap itu benar, meskipun orang lain tidak membenarkannya.?

Lho, kalau semua orang merasa dirinya benar, lalu kapan kita akan merasa bahwa apa yang kita lakukan itu salah?

Betul. Kesalahan itu pasti muncul entah di awal di tengah atau di akhir cerita, tapi saya ingin menggarisbawahi bahwa yang saya maksud disini adalah kita harus yakin pada setiap langkah yang akan kita ambil. Bayangkan saja seorang koki tidak yakin bahan-bahan apa saja yang akan dia taruh ke sebuah adonan? Mau jadi apa masakannya? Meskipun koki tersebut tidak bisa memprediksi apakah masakannya lezat atau tidak, tapi setidaknya dia harus yakin dengan langkah-langkah memasak makanan itu. Dengan selalu yakin pada tindakan kita, kita akan terbiasa untuk mempertanggungjawabkan apa yang kita pilih. Memilih untuk ragu sepertinya tidak masalah karena meragu berarti mempertanyakan. Mempertanyakan sampai kita menemukan titik keyakinan kita.

Tidak ada yang membuat seseorang berubah kecuali dua hal; orang yang ia temui dan buku yang ia baca

saya lupa siapa yang pertama kali mengucapkan

Benar saja. Sudah bertahun-tahun tidak berjumpa dengan kawan-kawan dan ketika ada sebuah kesempatan untuk bertemu, mereka telah berubah begitupula dengan saya. Cara bicaranya, sudut pandangnya memahami persoalan, orientasi dia tentang dunia kuliah, dan lainnya. Jadi, ketika berjumpa dengan kawan lama saya biasanya akan bertanya siapa saja orang-orang yang telah mereka temui dan buku menarik apa yang akan mereka rekomendasikan untuk saya. Disitulah letak jawaban terpanjang mereka, sambil sesekali menertawakan kekonyolan masa lalu.

Saat ini kutipan akan lebih dicari demi memenuhi postingan di linimasa. Saya berharap semoga ketidakrelevanan ini segera sirna, karena rasanya aneh saja kalau tiap kali membuka beranda isinya selalu itu-itu saja. Dunia menginginkan perubahan nyata dari tindakan kecil yang nyata, kalau bukan dari kita lalu siapa lagi? Percuma saja jika mencari kutipan yang menarik tapi hanya dilafalkan dalam gambar yang tidak ada hubungannya, tidak ada realisasinya. Meresahkan juga ya ternyata. Silahkan gila yang lain, asalkan tidak yang ini.

Selamat beristirahat,

Semarang, 25 Januari 2016

?

gitaswasti.com

  • view 240

  • Ardhan N
    Ardhan N
    1 tahun yang lalu.
    Setuju, kak. Sedikit risih dengan maraknya pengutipan tanpa bijak akhir" ini. Contohnya "di balik kesusahan selalu ada kemudahan". Menurut saya orang yg boleh berbicara seperti itu adalah orang yg sudah melewati semua kesusahan dan sampai pada tahap 'kemudahan'. Sedangkan sekarang, banyak yg masih di tahap 'kesusahan' tp sudah berani meneriakkan kutipan tersebut. Padahal dia belum tahu ujung pangkal 'kesusahan' itu ada dimana. Salam.

    • Lihat 1 Respon