Cinta Tanpa Syarat

gita romadhona
Karya gita romadhona Kategori Buku
dipublikasikan 08 Maret 2016
Cinta Tanpa Syarat

Enam bulan lalu, Nala, anak saya yang berusia empat tahun, saya masukkan ke sebuah TK. Sekolah, yang saya dan suami, telah survei dan pertimbangkan dengan matang, tentunya. Berbeda dengan teman-teman kelasnya, yang telah lebih dulu ada di kelas KB (kelompok Bermain), TK adalah pengalaman pertama Nala untuk sekolah. Dan, seperti halnya Nala, ini pun pengalaman baru pula buat kami, orangtuanya.

Beberapa anak yang sudah melalui KB tampak gampang berbaur dan bermain, berbeda dengan Nala yang memang selama ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Saat bermain itu, saya sempat mendengar obrolan para orangtua juga status-status mereka di Facebook, yang menceritakan kalau anak mereka telah hafal surah ini, dan surah itu. Diam-diam, saya merasa Nala tertinggal jauh, al-fatiha dan an-nas saja dia melafalkannya dengan cedal dan malu-malu.

Lalu, tanpa bertanya kepada Nala, saya menambahkan kelas tahfiz, dua kali dalam seminggu setelah ia sekolah. Saya berharap dia mampu mengejar ketertinggalan hafalannya dibanding teman-temannya yang lain. Saya juga sering kali bertanya kepadanya, ?Nala sudah ingat surah yang ini, belum??

Biasanya, Nala akan menjawab dengan malas atau malah tak memedulikan pertanyaan saya.

?Ayo, dong, Nala. Kan, udah tahfiz.?

?Nawa nggak mau tahfiz,? ujarnya dengan cedal. Membuat saya tambah bersalah dan merasa anak saya akan tambah tertinggal.

Maka, saya mengeluarkan ancaman, ?Kalau Nala nggak mau tahfiz, Ibun nggak sayang Nala.?

Biasanya, dengan ancaman itu, Nala akan segera memeluk saya. Menghujani saya dengan ciuman sambil melakukan apa pun yang saya minta. Begitu pun kali ini.

Tiap kali hari tahfiz datang, Nala akan melewatinya dengan gembira. Lalu, saat dijemput, Nala akan bilang, ?Nawa udah tahfiz, Ibun sayang Nawa, kan?? Dan, saya jawab dengan anggukan.

Hingga suatu hari, Nala sedang tidak enak badan, badannya panas semalaman. Paginya, ia masih tampak lemas dan tidak mood bermain. Saya memang berencana tidak mengantarnya sekolah agar bisa beristirahat.

Namun, tiba-tiba, dengan suaranya yang masih lemas, Nala bertanya, ?Ini hari apa, Ibun??

?Hari Kamis,? jawab saya.

?Nawa tahfiz ya, Ibun? Ayo, Ibun, Nawa sekolah,? Kaki-kaki kecilnya bangkit mencoba mengambil alat-alat sekolahnya.

?Kan, Nala masih sakit. Nggak usah sekolah dulu, istirahat, ya,? bujuk saya yang juga heran kenapa Nala semangat sekali hendak sekolah.

?Nawa mau tahfiz, Ibun. Kalo Nawa nggak tahfiz, Ibun nggak sayang Nawa,? ujarnya setengah merengek.

Ya Allah, seketika saya tercekat.? Anak saya, buah hati kesayangan saya, tengah memaksa dirinya melakukan sesuatu karena takut kehilangan kasih sayang saya, kehilangan cinta saya. Padahal, saya tahu persis, kasih sayang dan cinta saya kepadanya tak perlu syarat apa pun.

Saya peluk Nala, merasakan hangat badannya dengan lekat. Lalu, terbata, saya merevisi ucapan saya.

?Nggak apa-apa, Sayang. Ibun tetap sayang Nala, kok. Ibun tahu Nala anak yang rajin.?

Setelah ia tertidur, saya mulai melihat ke dalam diri sendiri. Begitulah bukan, kesalahan hanya terlihat jika kita berani melihat lagi ke diri kita sendiri. Rasa gengsi dan tidak mau kalah, membuat saya mensyaratkan kasih sayang kepada Nala. Padahal, sebagai orangtua pun, saya juga masih tertatih.Hafalan-hafalan saya juga tidak banyak. Lalu, sangat tidak adil saat memaksa Nala untuk terus menghafal di luar batas kemampuannya.

Seperti Mas Adhit bilang dalam Parent?s Stories, kita ini orangtua. Kita yang membuat anak-anak hadir dalam dunia ini tanpa mereka minta. Maka dari itu, rasa sayang bukanlah sesusatu yang terbatas, apalagi menjadi alat tukar ekspektasi. Tak seharusnya, saya menukar rasa sayang dengan kelas-kelas tahfiz yang Nala ikuti.

Dan, tentu saja, saya juga sepakat dengan yang ditulis oleh Mas Adhit, tugas anak bukan menjadi pintar (atau menjadi penghafal). Pintar (atau menjadi penghafal) adalah suatu kondisi akhir. Tugas anak, adalah belajar dengan sungguh-sungguh, untuk menjadi sepintar mungkin yang dia bisa. Dan ini, tidak ada batasnya.

Malam itu, saya berdoa sungguh kepada Allah. Semoga saya mampu menjadi orangtua yang tidak hanya menyalahkan, tetapi juga mampu mencontohkan. Menjadi orangtua yang siap, memberi dukungan penuh, dan cinta yang utuh; tanpa syarat apa pun. Dalam kondisi apa pun. Amin.

?

?

?