Di Malam yang Pekat

gita romadhona
Karya gita romadhona Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Februari 2016
Di Malam yang Pekat

Kisah ini benar-benar terjadi di kotaku.?

Dimulai setiap malam mulai terasa pekat dan gulita. Malam yang pekat. Maukah kau duduk di sini bersamaku, mendengar cerita tentang malam yang pekat?

Suatu hari, seorang ?pemuda datang ke kota kami. Kota kami yang kecil, jauh dari hiruk pikuk dan gemerlap lampu. Pemuda itu matanya senyalang matahari terik. Kau?tiba-tiba saja?akan merasa gelisah, jika ia sengaja atau tidak menatap ke arahmu meski sebentar.

Ia menginap di sebuah penginapan kecil di sudut kota. Penginapan Bunga Bakung namanya. Disebut bunga bakung karena penginapan itu persis berada di dekat sebuah rawa yang banyak ditumbuhi bunga bakung. Pernahkah kau melihat bunga bakung? Bunga bakung adalah bunga yang selalu tampak ketakutan, ia merunduk-runduk kala hujan. Bunga bakung tak seharum bunga mawar.?

Laki-laki itu menyukai bunga bakung yang tumbuh di penginapan itu. Beberapa kali ia terlihat berdiri di rawa-rawa, hanya untuk memetik bunga bakung, lalu menyimpannya di kamarnya.

Sampai suatu ketika, Asoka, putri cantik anak pejabat kota, jatuh cinta kepada laki-laki itu. Mereka memang sering berpapasan tak sengaja, saat sama-sama membeli makanan di warung makan, atau saling lihat saat ingin menyeberang jalan.

Entah bagaimana, Asoka pun jatuh cinta. Ia seolah terobsesi pada laki-laki itu, segala cara ia habiskan untuk menarik perhatiannya. Namun, percuma. Laki-laki itu bergeming. Tak ada sekalipun laki-laki itu menyadari cinta membara dari Asoka.

Kau tahu, kisah ini bukan kisah cinta. Karena kisah ini dimulai di malam yang pekat. Tak ada kisah cinta yang dimulai di malam yang pekat, setidaknya ia pasti tak berakhir bahagia.

Asoka merasa gila dengan cinta. Berkali-kali ia mencoba mendatangi penginapan tempat laki-laki itu tinggal. Suatu ketika, di suatu malam yang pekat, ia memaksa masuk ke kamar laki-laki itu. Laki-laki itu sedang tidak ada, ia sedang berada di rawa-rawa.

Saat masuk ke kamarnya, Asoka terperangah. Di kamar itu, banyak sekali bunga bakung kering. Baunya amis, tak seperti bunga yang layu. Menyeruak menusuk hidung.

Asoka terheran-heran, bagaimana bisa laki-laki setampan itu menyimpan bunga bakung berbau amis.

Tiba-tiba, saat Asoka menengok, laki-laki itu sudah berdiri di belakangnya. Matanya yang senyalang matahari terik tampak marah terbakar.

Kau tahu, bunga bakung selalu tampak ketakutan di kala hujan. Ia seperti perempuan lemah yang selalu kalah karena cinta yang membabi buta. Bunga bakung gampang dipatahkan. Begitupula perempuan yang sedang jatuh cinta.

Sejak malam yang pekat itu, Asoka tak lagi terlihat di mana-mana. Tentu saja, ayahnya yang pejabat kota mencarinya di penginapan itu, tetapi nihil. Ia tak dijumpai di sana, Yang ada di kamar itu, hanya tangkai-tangkai bunga bakung yang berbau amis. Bertambah begitu banyak. Dan, terasa begitu amis.

Laki-laki itu, yang matanya senyalang matahari, masih sering kulihat di jalan-jalan kota kami. Suatu ketika, tanpa sengaja, ia menatapku lama.

Dan, kau tahu, matanya memaksaku masuk jauh ke lorong-lorong rahasia, yang kau sebut jatuh cinta.

Aku lalu menjelma Asoka.

Menyerah kalah pada bakung-bakung kering yang berbau amis di kamar laki-laki itu.

Kau tak mau tahu bagaimana akhir ceritaku?