Sajak Cinta dalam Buku Tua

gita romadhona
Karya gita romadhona Kategori Project
dipublikasikan 11 Januari 2017
The Day  You Left

The Day You Left


Novel

Kategori Fiksi Umum

1.1 K Hak Cipta Terlindungi
Sajak Cinta dalam Buku Tua

Dia dan Po jarang sekali bicara. Padahal, di rumahnya hanya ada mereka berdua. Po hanya akan bertanya hal-hal teknis, dan Na terbiasa menjawab apa yang ditanyakan saja.

Itu sudah lama terjadi. Sejak ia duduk di kelas 1 SMP, atau lebih tepatnya saat Ma meninggalkan mereka selamanya.

Po dulu tak seperti itu. Ia kaku, benar. Sebagai pemilik otak kiri dominan, Po selalu berpikir taktis dan pada tempatnya. Dia tak suka basa-basi. Namun, dia hangat dengafddcn caranya sendiri. Na sering melihatnya sedang memeluk Ma yang sedang memasak. Lalu, ia akan berlari, menubruk mereka dari belakang, lalu Po tertawa, menyerahkan Ma kepada Na.

Po, Ma, dan Na, panggilan yang ia berikan saat baru bisa bicara satu dua patah kata. Yang mengabadi menjadi panggilan di rumah mereka yang kecil.

Lalu, Ma pergi. Dan, Na tak cuma kehilangan dirinya, juga kehilangan Po. Ayahnya itu mulai menutup diri, semakin sibuk dengan jurnal-jurnal dan penelitian ilmiah yang dibuatnya.

Po memang masih mengajar. Dia masih sibuk berkutat dengan teori-teori quantum dan relativitas. Dia masih menemui mahasiswa-mahasiswa yang ia bimbing. Masih memasak untuk Na saat ia tidak ada kelas. Juga membersihkan taman yang ditinggalkan Ma.

Po hanya berhenti tertawa. Juga berhenti bicara tentang warna-warna menyenangkan yang masih tersisa. Po kadang juga lupa, kalau di rumah itu masih tersisa dirinya, gadis kecil berusia dua belas tahun.

***

Na menggeser kunci, lalu membuka pintu pagar besi rumahnya. Pagar itu berbunyi saat digeser, menandakan sudah lama tak diberi minyak. Mungkin, Po sedang ada seminar, pikir Na. Biasanya, ia sangat detail jika berkaitan dengan rumah ini.

Dia sangat sigap memperbaiki genteng yang bocor. Atau, menyiangi rumput yang mulai menyemak. Po selalu peduli dengan keadaan rumah, seolah ia tidak pernah rela jika rumah itu tampak berubah setelah Ma pergi. Sayangnya, dia tidak pernah peduli, ada Na yang terus berubah dari hari ke hari.

Na menatap ke arah kebun kecil di samping rumah mereka. Beberapa ilalang tampak mulai merimbun. Benar, tampaknya ada penelitian yang tengah menyibukkan Po, batin Na lagi.

Sesampainya di pintu kayu dengan cat hijau toska itu, ia mengetuk. "Po...," panggilnya. Namun, tak ada sahutan. Dia mengetuk beberapa kali lagi, tetap tidak ada sahutan. Lalu, dikeluarkannya kunci cadangan dari tas post-man yang disandangnya.

Sering kali, jika ada penelitian dari kampus yang melibatkannya, ayahnya itu akan pergi ke luar kota beberapa hari. Hanya makalah, jurnal, penelitian, dan seminar yang mampu mengalihkan perhatiannya.

Na masuk ke ruang tamu, sofa tua berwarna hijau toska menyambutnya dalam sepi. Menguarkan aroma masa lalu yang tak ingin diingatnya. Selalu begitu--selalu begitu yang dirasakannya saat masuk ke rumah ini. Lemari tinggi berisi penuh buku yang membatasi ruang tamu dan ruang tengah, foto-foto lama mereka yang ada di dinding. Ia, Po, dan Ma. Ia dan Po. Ia dan Ma. Dan, banyak foto Po dan Ma. Foto-foto yang berhenti tumbuh saat ia berusia dua belas tahun. Saat Ma pergi selamanya, meninggalkannya dalam kesendirian.

Ia masuk ke kamar lamanya, meletakkan tas, lalu menukar baju dengan piama. Saat itulah, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan Wattsapp masuk.

--Sore ini, mau menghabiskan kopi sambil bercakap-cakap?

Jandaru.

Na tersenyum membacanya. Lalu, membalas.

--Tidak bisa. Aku sedang pulang ke rumah. Waktunya beres-beres.

Sudah hampir dua bulan, ia dan Jandaru sering menghabiskan waktu bersama. Sekadar duduk di kafe kopi, atau sama-sama diam membaca di perpustakaan kampusnya dulu. Ternyata, benar, Jandaru sangat menarik.

Dia seorang perajin kayu. Garasi rumahnya, ia sulap menjadi sebuah griya kerja, tempat ia membuat barang-barang pesanan dari kayu. Kursi, meja makan, lemari buku, meja kopi, tangannya terlihat terlatih sekali membuatnya.

Sejak diajak Jandaru ke sana, Na senang sekali berlama-lama, memperhatikan laki-laki itu sekadar menggergaji atau menghaluskan kayu kasar. Dia terkagum-kagum melihat perubahan kayu yang tak berbentuk menjadi sebuah rak kecil yang manis. Dia senang mencium aroma rautan kayu bercampur bau pelitur. Seolah, bau-bauan itu membawanya masuk ke ranah yang hanya diisi oleh Jandaru.

Na tersipu dengan pikirannya.

--Yah, berarti aku baru bisa bertemu denganmu Rabu? Senin dan selasa aku ada meeting dengan klien. Lama sekali aku harus menunggu bertemu denganmu. :(

Deg. Jantung Na berdebar kencang membaca pesan Jandaru yang baru masuk. Seolah-olah, ada seseorang yang sedang mengentak-entakkan kaki di perutnya. Membuat perutnya seketika mulas.

--Memangnya, kau harus bertemu denganku?

Dia membalas. Memancing ingin tahu, apakah debar di dadanya berjawab rasa yang juga sama.

--Entahlah.

Na kecewa dengan jawaban itu. Namun, layar ponselnya memberi tahu kalau Jandaru masih mengetik.

--Entahlah, Na. Aku juga tidak tahu mengapa harus selalu bertemu denganmu. Seolah-olah, jika tidak bertemu denganmu beberapa hari, garis pensil di atas kayuku tak bisa lagi lurus. Seolah-olah, potongan gergajiku bisa salah terus-menerus. Aku rasa, aku kecanduan bertemu denganmu.

Seketika, wajah Na memerah. Tidak pernah ada laki-laki yang begitu lugas bicara seperti Jandaru. Dan, ia tahu, karena itulah ia menyukai menghabiskan waktu bersama laki-laki ini.

--Kita bertemu Rabu kalau begitu.

Dia menjawab begitu, menahan derap yang semakin terasa mengentak-entak di dadanya.

--Baiklah. Sampai bertemu. :)

Na menaruh ponsel di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Lalu, ia melangkah keluar.

Di meja makan, ia melihat roti yang mulai berjamur. Tampaknya, Po sudah beberapa hari tidak berada di rumah. Di pintu kulkas, ia melihat sebuah kertas post-it bertuliskan "International Conference on Statistical Science and Enginering," Singapura, 20--25 September.

Oh, jadi Po ke Singapur, pikir Na. Hari ini tanggal 24, berarti Po sudah di sana empat hari, wajar sana kalau roti di atas meja berjamur. Ini bukan kali pertama ayahnya itu pergi ke luar kota tanpa mengabarinya.Dia memang selalu begitu, tak pernah merasa repot-repot harus memberi tahu Na. Hanya menuliskannya di post it, seperti yang selama ini ia lakukan.

Bahkan, saat hari kelulusan Na di SMA, saat Po harusnya datang, laki-laki itu justru pergi pagi-pagi sekali tanpa memberi tahu Na, hanya meninggalkan pesan di pintu kulkas, "Seminar Sains di Padang, pulang hari Rabu." Begitu isinya. Membuat Na menangis sendiri di meja makan, menangisi kesepian dan ketidakberdayaan yang selalu menderanya begitu saja.

Na menarik napas. Itulah alasannya segera meninggalkan rumah saat ia mulai kuliah. Po tak menentangnya, tidak melarangnya. Ia hanya mengangguk, saat ia bilang ingin tinggal di kosan--di dekat kampusnya yang ada di Depok.

Lalu, sejak itu, ia pulang seminggu sekali. Kadang, ia bertemu Po, kadang tidak. Namun, tidak ada bedanya.

Sambil membawa sapu, ia berjalan menuju ruang depan. Di tengah jalan, ia terhenti. Pintu ruang kerja Po terbuka. Ia jarang masuk ke sana. Pertama, karena ruang kerja Po berisi kertas-kertas penelitiannya yang sangat penting. Po melarang ada yang dipindahkan dari sana. Kedua, karena ruang kerja itu hanya penuh dengan buku-buku sains yang sama sekali tidak Na mengerti.Ia sama sekali tidak tertarik.

Darah Ma yang mencintai sastra jauh lebih deras mengaliri darahnya.

Perlahan, ia masuk ke ruang kerja itu. Di meja, tumpukan buku bercampur kertas-kertas HVS tampak berantakan. Na mencoba merapikan semuanya, menyusun kertas-kertas menjadi satu tumpukan, dan buku di tumpukan lainnya.

Sebuah kertas melayang jatuh, iamemungutnya. Saat menunduk, Na melihat sebuah buku tua tergeletak di bawah kursi, mungkin terjatuh dari meja.

Little House on The Prairie--buku milik Ma, setahu Na. Ia memungutnya. Setelah Ma berpulang, baru kali ini ia melihat buku itu lagi. Lalu, ia duduk di kursi kerja Po, mulai membuka buku itu.

Ada tulisan tangan di halaman depan, "Untuk Sarah, rumah tempat aku akan selalu pulang."-- Andre.

Ah, buku itu adalah hadiah Po untuk Ma, ternyata. Na membuka lagi, lalu sebuah kertas terjatuh dari lembaran buku itu. Sebuah kertas yang sudah tampak tua. Na mengambilnya. Dalam kertas itu, ada sebuah sajak yang ditulis tangan. Tulisan tangan yang Na sangat kenal.

Tulisan tangan Po.

//Kita membicarakan senja, seolah hanya senjalah yang mengerti akan cinta.

Padahal, pada wajahmu aku temukan cinta yang terlalu menarik,

Yang tak pernah cukup ditulis dalam baris-baris lirik.

//Kita membicarakan hujan, seolah hanya hujan saja yang membuat kita mengingat harapan

Padahal, pada senyummu aku menemukan kehangatan.

Yang di dalamnya, merekah banyak keinginan.

//Kita membicarakan hari esok, seolah hanya pada hari esok kita akan menemukan bahagia.

Padahal, pada dirimu aku menemukan cinta.

Yang terus membuatku seketika ingin diam menetap selamanya.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    9 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan Gita Romadhona selalu khas dengan kalimat-kalimat yang pendek, sederhana tetapi setiap yang dia tulis terasa signifikan kehadirannya bagi keseluruhan makna cerpennya. Di balik penyampaian kisah fiktif yang mengalun pelan dan runut ada getir di balik cerpen ini. Kekuatan Gita dalam cerpen ini justru mengungkapkan permasalahan atau lebih tepatnya kesenjangan emosi, sesuatu yang hilang antara Po dan Na, dengan bahasa yang sederhana, tidak dibuat berlebihan. Tetapi justru di sinilah tulisan ini menjadi sangat berkesan.

    Menceritakan hubungan ayah dan putrinya, cerpen ini menggarisbawahi masalah keduanya, yang hingga kisah berakhir belum menemukan solusinya. Komunikasi keduanya yang sentak terputus paska meninggalnya ibunya lalu keduanya pun belum sepenuhnya menemukan ‘chemistry’ untuk kembali hangat. Tetapi setidaknya puisi Po untuk sang ibu, yang mengungkap sisi romantis sang ayah. Puisi yang sungguh indah untuk mengakhiri cerpen bagus ini. Terima kasih, Gita!

    • Lihat 1 Respon

  • Shanti Agustiani
    Shanti Agustiani
    9 bulan yang lalu.
    Tutur tulis yang indah, Gita!

  • agus geisha
    agus geisha
    9 bulan yang lalu.
    tahniah, gita.