Tak Punya Sayap

gita romadhona
Karya gita romadhona Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Januari 2016
Tak Punya Sayap

Cinta kadang seperti balon udara, ujarmu. Aku hanya diam menatapmu, sama sekali tak mengerti apa maksud ucapanmu itu. Namun, aku tak bertanya. Karena memang seperti itulah kita, bukan? Tak selalu yang kita cakapkan kita (saling) mengerti, tetapi di satu titik, entah bagaimana, kita tahu, kita saling sepaham.

Iya, balon udara, kau tahu kan? ujarmu lagi. Balon besar yang diisi helium, lalu dipanaskan, mengalahkan udara di luarnya. Ia lalu percaya diri untuk bisa terbang. Padahal, tak punya sayap.?

Kamu makin melantur. Aku sama sekali tak bisa menduga ke mana arah pembicaraanmu. Namun, seperti biasa, aku hanya menunggu. Menunggumu berbicara lagi.

Cinta, lanjutmu, juga seperti itu, Dru. Kau harus berusaha mencari cara agar ia terus lebih hangat, lebih panas, lebih bersemangat, daripada keadaan sekelilingnya. Agar ia terus percaya diri untuk tumbuh. Agar ia berani untuk terbang meski tak punya sayap. Kau diam, menarik napas.?

Ah, kau dan analogimu. Kadang, seperti memaksa. Tetapi, itulah yang membuat aku jatuh cinta kepadamu. Ada hal-hal ?kasatmata bagi orang lain, tetapi tampak jelas olehmu. Dan, dengan suka hati kau membaginya denganku.

Kau bicara lagi.Kau, tahu, balon udara kadang-kadang sulit dikendalikan, ujarmu, tak juga menatap ke arahku. Ia kalah oleh cuaca, kalah oleh angin. Lalu, memutuskan terombang-ambing sampai akhirnya menyerah saja.?

Kadang, cinta juga begitu, Dru. Kita hangat dibuatnya, lalu seolah bisa terbang ke mana saja kita suka. Namun, sering kali, ia sulit dikendalikan, dan kita tak tahu harus bagaimana agar cinta tetap bertahan di tempatnya. Lalu, kau diam. Napasmu memburu.?

Aku diam, perlahan aku mulai tahu ke mana kau akan melanjutkan percakapanmu.

Dan, aku, Dru, aku sudah tidak bisa bertahan di sini lagi. Cintamu terlalu menyesakkan buatku. Aku menyerah untuk bisa mengendalikannya. Aku minta maaf.?

Aku masih diam. Aku masih percaya, jika kita tak saling mengerti pun, di satu titik, kita akan kembali sepaham.

Maafkan aku, Dru, aku memutuskan untuk kembali kepada istriku. Kami akan mencoba memperbaiki hubungan kami. Dan, itu artinya aku harus melupakanmu.

Aku tetap diam.?

Tetap diam, sampai akhirnya kau beranjak meninggalkanku.

Meninggalkanku.

Balon udara yang terbang setelah terisi helium terlalu banyak sering kali tak tahu harus berhenti di mana.

Cinta yang mengembang setelah sesak terisi harap ?terlalu banyak sering kali memang harus menyerah pada akhir yang tidak bahagia.