secangkir kopi setelah hujan

gita romadhona
Karya gita romadhona Kategori Project
dipublikasikan 04 September 2016
The Day  You Left

The Day You Left


Novel

Kategori Fiksi Umum

1 K Hak Cipta Terlindungi
secangkir kopi setelah hujan



Na menatap nanar ke arah gerimis di luar jendela perpustakaan. Rencananya untuk pulang cepat, buyar seketika. Perpustakaan mulai sepi, satu per satu mereka yang membawa payung, pulang meninggalkan dia bersama dua orang petugas perpustakaan yang mengantuk.

Na memang tak pernah membawa payung. Payung dan tisu adalah dua hal perempuan yang tidak pernah Na akrabi. Entah mengapa, dia merasa payung justru membuatnya merasa takut akan hujan. Padahal, meski sering menghalangi langkah, dia sangat menyukai rintik-rintik serupa jarum yang jatuh berbarengan dari langit itu.

Andai saja, dia tidak sedang flu, maka kali ini pun dia akan menerobos gerimis. Berjalan sambil berkhayal di antara rintik yang tidak terlalu deras kan, menyenangkan. Terutama untuk gadis melankolis seperti dirinya.

Namun, hidungnya sedang tersumbat, dua hari lalu bahkan badannya panas. Kali ini, dia hanya bisa menarik napas panjang, menunggu hujan benar-benar reda. Dibaliknya buku di hadapannya, hari ini dia sedang tak ingin mengerjakan deadline, maka ia pergi ke perpustakaan kampusnya dulu. Tempat favoritnya, meski sudah lulus bertahun-tahun lalu.

Kali ini, novel yang menemaninya adalah Tempurung, karya Oka Rusmini. Na suka sekali membaca cerita yang ditulis perempuan itu. Baginya, Rusmini selalu bisa mengajak ia untuk masuk ke konflik-konflik perempuan dan budaya Bali. Selalu saja, Na merasa merinding jika Rusmini menggambarkan bagaimana tidak berdayanya perempuan di Bali yang terkungkung budaya laki-laki dominan.

Baru beberapa lembar, hujan mereda. Benar-benar mereda. Na menatap lagi keluar jendela, lalu bergegas merapikan bukunya. Dia melangkah keluar perpustakaan, menuju kafe yang terletak tak jauh dari kampusnya. Secangkir kopi panas bercampur cokelat sepertinya akan mampu menyalakan semangatnya mengerjakan deadline, begitu pikirnya.

Dia duduk di bangku kafe, lagi-lagi dia memilih tak jauh dari jendela. Di luar, suara langkah-langkah bergegas terdengar. Seolah, setelah hujan, semua orang jadi merasa harus terburu-buru.

Lalu, ia teringat Po, ayahnya. Jika hujan baru berhenti seperti ini, biasanya Po akan segera ke dapur, menuang tepung, memotong sayur, lalu tak lama sepiring bakwan sudah tersedia di meja dapur, lengkap dengan teh tawar hangat.

Po akan menghampirinya, memberi tahunya dengan kalimat pendek, "Ada bakwan". Lalu, kembali hilang ke ruang kerjanya.

Hujan yang reda membuat Po berhenti bekerja meski sebentar.

Na menarik napas. Tempias hujan menyisakan kabut, hingga ke kedua matanya. Cepat- cepat disekanya agar tak menjelma air mata.

***

Lonceng kecil yang ditaruh di atas pintu masuk kafe berbunyi, menandakan ada pengunjung baru yang datang. Na mengangkat wajah, melihat seorang laki-laki berkemeja flanel melangkah masuk, lalu memesan.

"Satu blacklight ya," ujar si laki-laki menyebut salah satu menu khas di kafe itu. Blacklight adalah kopi hitam yang dicampur dengan cokelat pekat dan susu. Itu juga minuman favorit Na di kafe ini.

Na menunduk, mengeluarkan laptop dari tasnya, meletakkannya di atas meja, lalu membuka file pekerjaannya. Sebagai editor, Na bisa bekerja dari mana saja. Penerbit tempatnya bekerja tidak mewajibkannya datang ke kantor setiap hari. Yang Na harus lakukan hanyalah menepati tenggat. Bulan ini, ada dua naskah roman yang harus diselesaikan olehnya.

Baru saja ia akan me-replace kata coklat menjadi cokelat dalam naskah yang dikerjakannya, saat kursi di depannya ditarik. Ia mendongak. Laki-laki berflanel itu ada di depannya. Tersenyum dengan santai, seolah apa yang ia lakukan sama sekali tidak menganggu Na.

"Hai, gadis-penyuka-kopi-cokelat-yang-selalu-duduk-di-dekat-jendela, boleh aku duduk di sini?" tanyanya, lagi-lagi dengan nada riang yang membuat Na ingin segera pindah dari sana.

"Tanpa kusetujui pun, kau sudah duduk juga, kan," balas Na sedikit sarkas. Laki-laki yang memang sudah duduk dengan santainya itu tersenyum. Tampak sama sekali tidak terganggu dengan sikap Na.

"Aku Randu. Jandaru," ujarnya, tetapi ia tak mengulurkan tangan. Tangannya memegang cangkir kopi take-away miliknya, lalu ia menyeruput perlahan.

Na menghentikan kegiatannya, lalu sebelum dia berujar, laki-laki itu menambahkan, "Kau percaya takdir?" tanyanya tiba-tiba.

Na mengernyit tak mengerti. "Aku percaya," kata laki-laki itu lagi. "Aku percaya, kalau takdirlah yang membuatku akhirnya menyapamu setelah sekian lama melihatmu sering duduk di kafe ini. Kau tahu, hari ini ulang tahunku. Jadi, apa kau percaya seseorang yang sedang berulang tahun sedang ditakdirkan berkenalan dengan seorang gadis yang sering duduk sendiri di dekat jendela?"

Na bahkan tak mengerti apa yang sedang dibicarakan laki-laki ini. Namun, ia menghargai usahanya. "Aku Karenina." Dia menyebut namanya.

"Ah, Tolstoys," jawab laki-laki itu semringah. "Ayahmukah yang menyukai Tolstoys?" tanyanya lagi.

Bukan--Ma, ibuku, jawab Na dalam hati.

Ia menggeleng, "Bukan," ujarnya pendek, menandakan kalau ia ingin topik tentang namanya segera berakhir. Na lalu menunduk ke arah laptopnya, tetapi konsentrasinya sudah hilang. Dia lupa akan me-replace apa dan sudah di paragraf mana ia tadi. Sudahlah, pikirnya sambil menutup laptop.

"Lalu?" tanyanya kepada laki-laki di depannya.

Laki-laki itu tersenyum, meletakkan cangkir kertasnya di atas meja. "Lalu, hujan sudah reda. Selalu ada hal-hal baik setelah hujan reda. Hal baik hari ini, akhirnya aku bisa menyapa dan tahu namamu."

Tentu saja, itu terdengar mengada-ada dan menjijikkan. Namun, kalimat barusan membuat Na akhirnya menatap laki-laki itu dengan saksama. Rambutnya pendek, alis matanya tampak terlihat hitam dan jelas. Ada lesung pipit di pipi kirinya, hanya di pipi kiri. Dan, itu cukup menarik untuk dilihat.

"Kau tahu, laki-laki yang menyukai hujan, biasanya naif dan rapuh. Juga terlalu percaya pada kebetulan." Na menjawab, kini dengan nada yang lebih santai.

"Kau sepertinya sedang mendeskripsikan dirimu sendiri." Jandaru tertawa. Ah, betapa gampangnya laki-laki ini tertawa, pikir Na. "Benar, kan?" tanya Jandaru lagi.

Na merona. Jandaru benar.

Iya, dia penyuka hujan. Dan, benar. Ia naif dan juga penyuka kebetulan.

Seperti hari ini, diam-diam ia menyukai kebetulan yang ia temui. Ia menyukai kebetulan setelah hujan reda. Kebetulan yang mempertemukannya dengan laki-laki berlesung pipit yang memesan secangkir kopi setelah hujan reda.

Laki-laki banyak bicara yang tampak menarik untuk terus disimak.

 

****

--Ps: cerita ini juga diupdate di sini