Silent Time - An Inpromptu Response

Gita Nasution
Karya Gita Nasution Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Februari 2016
Silent Time - An Inpromptu Response

Jelas sekali saya harus berterima kasih kepada teman baru saya ini, Sylvie Tanaga - relawan doctorSHARE.

?

Tautan tulisannya tanpa sengaja menarik mata saya, dan ketika selesai membacanya, saya merasa ditampar sangat keras. Tidak, dia tidak sedang mengintimidasi siapapun... dia hanya mencoba merefleksikan apa yang dialaminya dan mencari jawaban atas dilema hati.

?

Ia bercerita tentang pencarian makna evaluasi bekerja, tentang menulis - suatu hal yang jauh dari jangkauan sejak ini itu (alasan yang pandainya saya buat-buat), soal (kualitas) bekerja dan waktu merenung yang bermanfaat. Ya, merenung yang bermanfaat ketika seseorang bisa melahirkan ide-ide hebat, menggambarkan apa yang hendak dilakukan serta rencana meraihnya, hingga membaca buku-buku yang kaya.

?

Tautan tulisan itu menahan saya terus membacanya sampai akhir. Akhir di mana saya merasa ditampar dengan sangat keras karena pertanyaan yang sama juga sebenarnya terus bergulir di kepala, hanya saja dengan berbagai tepis kilah jawaban, berhasil saya kubur dalam-dalam.

?

Kembali aktif di dunia kerja dan menghadapi orang-orang membuat saya kian tersadar dan terbangun. Saya (hampir) ketinggalan banyak hal. Bukan masalah eksistensi sosial media atau apalah. Saya ketinggalan banyak hal atas nama aktualisasi diri. Saya ketinggalan banyak hal dalam memperkaya serabut abu-abu di kepala ini, memecutnya secara berkala agar tidak cepat menciut. Saya ketinggalan banyak hal tentang siraman nurani. Semua yang biasa saya dapatkan dari perenungan, dari SILENT TIME.. dari ME TIME. Dari tumpukan buku-buku di sudut kamar yang kini kian kesepian.

?

Saya tidak sedang (lagi-lagi) mencari pembenaran atas ketinggalan yang sangat mengecewakan. Saya, begitu juga Sylvie, mencoba untuk introspeksi diri atas kualitas jalan yang sudah kami tempuh, agar pembangunan berikutnya tidak sekasar kemarin.

?

Banyak dari mereka di luar sana, atau yang sehari-hari saya hadapi, merasa apa yang ada di genggaman mereka saat ini adalah cukup. Atau malah merasa apa yang mereka hadapi selaksa tekanan yang datang bertubi-tubi. Call me ambitious... but I won't say it enough until God says it enough for me! Apakah cukup dengan memahami tugas dan menghantarkannya dengan baik... Apakah cukup memulai proyek lalu menyelesaikannya dengan labelisasi sempurna... Apakah cukup hadir dan berperan dalam sebuah meeting penting... atau apakah sudah cukup baik menjadi Ayah/Ibu bagi anak-anakmu... Apakah sampai hari ini kamu merasa cukup dengan ke-Iman-anmu... Apakah merasa cukup dengan dirimu?

?

Saya tidak sedang mencari celah mungkin apa yang anda rasakan sama.. Tapi Sylvie benar bahwa semakin hari kita semakin terjerat dengan rutinitas, dan di waktu-waktu kosong kita terhempas karena letih badan dan pikiran. Kita hampir mengabaikan jerit SILENT TIME... Kita abai akan ME TIME... katanya hanya buang waktu saja. Padahal banyak karya-karya spektakuler lahir dari waktu antara, ide-ide brilian muncul ketika kita justru menyendiri menarik diri...

?

Allah SWT sudah menghadiahi masing-masing kita umat-Nya waktu 24 jam dan itu bukan untuk difoya-foya. Sudah kita bawa kemana kualitas diri kita selama ini? Wal Ashr Innal insaana la fii khusr.. Demi masa, sesungguhnya manusia itu merugi...

?

Ya, saya telah ditampar dan disadarkan betapa merugi selama ini oleh seorang teman yang mendedikasikan dirinya untuk kemaslahatan orang banyak, mereka yang membutuhkan akses pelayanan kesehatan.. Kalau kamu?

?

?

?

?

*mulai menyusun 3 buah buku di atas meja kantor dan menuliskan target halaman serta resensi hasil bacaan ;)

  • view 87