Kamu itu, Cantik

Egi Rahman
Karya Egi Rahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 April 2018
Kamu itu, Cantik

“Dia cantik kok bu. Coba lihat ini,” sebuah foto yang menyala dari sebuah layar kecil. Berisi sesosok perempuan berhijab pink bersamaan dengan senyum merekah diantara pipi kemerahan yang tak mau kalah ingin diperhatikan, termuat dalam galeri Instagram. Saya sodorkan ke hadapan ibu.

 Sebenarnya, ada sedikit rasa ragu. Suhu dingin 16 derajat khas daerah pegunungan, titik-titik air yang terperangkap dibalik luar kaca rumah, petak lantai pijakan bergaya tahun 80-an yang mendukung suhu dingin tiap kali kaki menyentuhnya. Seakan semuanya memperkuat rasa ragu, ketika harus lagi menunggu jawaban wanita separuh abad yang duduk menyamping sembari membuka satu persatu lembaran buku do’a-do’a karangan kakek di ujung kanan sofa yang tengah saya duduki.

 

 “Ibu sih tidak masalah. Tapi...”

 “Lho, kok tapi? Tapi apalagi ibu? Saya sudah coba mencari yang Ibu mau. Yang cantik kan?”

 

 Saya buru-buru memotong. Ada kekhawatiran yang semakin memuncak. Kata ‘tapi’ menjadi mengerikan setelah beberapa kali saya selalu menelan lagi keinginan. Dimana setelah kata itu, pasti ada alasan. Ibu sering memberikan pertimbangan lain. Pertimbangan yang selalu membuat saya goyah. Rapuh pada pilihan yang hampir bulat.

 

 “Diq.. Diq. kamu ini kebiasaan. Ibu belum selesai bicara loh. Jadi, mau dengar pendapat ibu apa enggak?” Ibu menimpal sambil mendekatkan tangannya ke arah kepalaku. Seketika menekan dan memberi ‘polesan’ halus tepat di samping ubun-ubun kepala dengan satu kepalan tangannya. Saya sedikit merengek manja, mengeluh sakit walau sebenarnya tidak terasa apapun.

 “Ibu minta cantik bukan minta yang punya wajah ayu, kulit putih atau ciri-ciri fisik yang semua orang bisa menentukan seleranya masing-masing. Bukan, bukan itu.” Ibu menambahkan.

 

 Lalu, maksudnya selama ini ibu minta cantik itu bagaimana?. Pertanyaan yang lagi-lagi membuat saya harus sedikit bersabar ketika mendengar jawaban ibu. Keinginan yang banyak tertunda dikala berhadapan dengan wanita yang telah 23 tahun tak pernah kurang memberikan perhatian pada lelaki yang kini merasa bukan anak-anak lagi.

 Kemudian ibu menyimpan buku yang dibacanya ke atas meja tepat di depan kami berdua. Ibu kemudian sedikit membenarkan duduknya menghadap saya. Lalu menarik dan menggenggam tangan kanan saya yang sedari tadi bermain-main ballpoint.

 

 “Maksud ibu, ibu ingin wanita yang paham betul kalau dia adalah perhiasan dunia. Perhiasan yang tidak dapat disandingkan dengan benda-benda perhiasan lain bahkan yang berharga 10 kali rumah kita ini. Ibu ingin wanita yang selalu dapat ta’at kepadamu kelak, karena jika begitu berarti dia paham serta punya fondasi kokoh. Dalam Islam ta’at kepada suami adalah bentuk keta’atan kepada Allah. Jadi, ibu ingin tahu keseharian dia. Dibanding sering main-main kesana kemari, hubungan dia dengan orangtua dan orang sekitarnya bagaimana—yang didahulukan siapa?. Lalu, adakah dia suka mengumbar suaranya dengan manja dihadapan non-mahram?—Karena bagi ibu, jika dia cantik maka seharusnya dia adalah sosok yang penuh misteri, mungkin kamu sulit melihatnya sering-sering, bahkan untuk sekedar berjumpa. Menurut ibu wanita yang cantik itu ibarat kerikil di tengah lautan pasir sahara. Ia ibarat sampan di tengah luasnya samudera. Ia punya kecantikan yang tidak dimiliki banyak orang. Dan yang terakhir, jika menurutmu dia cantik secara fisik maka pilihlah dia. Ibu gak nuntut kamu nyari yang cantik fisiknya sesuai selera ibu. Syukur-syukur iya, tapi wanita yang baik itu seharusnya dapat meneduhkan dan menyenangkan pandangan lelakinya, bukan untuk ibu, ayah atau saudara yang lain. Jadi, dari semua pendapat ibu maksudnya kamu sudah mengenal dia dengan baik apa tidak?”

 

 Pegangan ibu pada tangan kanan saya kemudian mengepal menjadi lebih keras. Seperti biasa ibu selalu menyimpulkan pendapatnya dengan pertanyaan akhir sederhana, menjadikanku harus berpikir ulang dengan semua niat saya.

 

 “Tapi.. Untuk sekarang Ibu setuju kok. Perempuan elok nan cantik ini namanya siapa, Diq?”

 “Eh? Sebentar—Idiq gak salah dengan kan bu?!” Untuk pertama kalinya, saya mendengar jawaban ibu yang begitu menyejukkan hati. Seakan di atas kepalaku rentetan-rentetan kemungkinan dari jawaban tanda penolakan ibu yang lalu-lalu, tiba-tiba hancur tanpa bersisa—Ibu hanya membalas tersenyum, tanda tak ada lagi nada ketidak-setujuan nampak pada raut wajah ibu yang mulai banyak lipatan keriput.

 “Jadi ibu, namanya itu Sof—“

 

 Tiba-tiba, ibu terbatuk tak henti. Ruang tamu yang sedari tadi sunyi, bergetar. Meja bergeser-geser. Suhu dingin, pecah pada suhu tak menentu. Ibu kemudian melepas genggamannya. Memegang perutnya, dan agak membungkuk. Saya tak buang waktu langsung memberinya minum dan mentatihnya menuju kamar yang tak jauh beberapa langkah dari ruang tamu. Dibaringkannya ibu, dengan suara pelan saya bilang untuk beristirahat saja dulu. Lalu, mengambilkannya obat.

***

 

 Hampir tiga tahun ibu sakit, kian hari kian parah. Seakan penanda, walau ucapnya setuju pada niat yang saya ajukan. Namun, Semesta seakan belum memberi izin. Terkadang saya menyalahkan ibu, satu setengah tahun lalu ibu tak mau berterus terang dengan rasa sakitnya selama ini. Hingga diketahui ketika ibu terjatuh dan harus dibawa ke rumah sakit, kami semua—adik, dengan ayah yang sudah tak lagi sesehat dulu harus menanggung, berusaha agar penyakitnya tak semakin parah akibat didiamkan berlama-lama. Akhirnya saya paham, ada tanggungjawab yang harus dipenuhi, yang sepertinya tidak akan pernah usai. Ya, menemani ibu pada waktu yang tak ingin saya membayangkannya.

 Teringat ucapan ibu, bahwa laki-laki walaupun sudah mempunyai keluarga tetap ada tanggungjawab kepada orangtuanya. Bahkan ibu selalu mengulang-ngulang nasihat ketika waktu memberi kesempatan untuk berbincang berdua. Bahwa siapapun wanita yang saya pilih harus diperlakukan layaknya seorang ibu, karena fitrah wanita adalah sebagai ibu. Bukan benda yang layak dipertontonkan atau dipamerkan kepada banyak orang. Kelak, jika sudah mendapatkan pasangan ibu berpesan agar selalu membuatnya betah, bercanda kepadanya adalah hal yang tidak boleh hilang, seperti keseharian kami di rumah. Walau usia tak lagi muda, tapi candaan dan tawa ibu serta bapak selalu segar. Bahkan mengalahkan kami, anaknya.

 Ah, betapa bodohnya diri ini. Selama ini selalu bertindak sesuka hati, ingin segera memiliki pasangan selalu mengobsesi. Padahal, kewajibanku pada orangtua terutama ibu belumlah dapat membayar seluruh pengorbanannya. Bahkan hanya untuk seujung kuku pun saya tak pernah sampai. Jika kemarin tanggal 21 April adalah hari Kartini dengan segala pengaruh energi perjuangannya pada kaum wanita, maka hari ini—menurutku yang layak saya sebut Kartini adalah ibu. Dia yang selalu memperjuangkan hidup saya. Ibu dengan segala rasa sakit yang dideritanya tak pernah mengeluhkan kepada oranglain bahkan anak-anaknya. Bahkan, dengan segala keberhasilannya memperjuangkan anaknya—Ibu berhasil memposisikan dirinya sebagai orang yang setara, yang dapat mendidik anaknya hingga lebih dari pendidikan dia tanpa melupakan kodratnya sebagai perempuan. Ibu, engkau bagaikan mata air ditengah lautan pasir. Engkau selalu berusaha memberikan apa yang saya butuhkan, tak pernah memikirkan bahwa dirinya takut ditinggalkan ketika saya harus melanjutkan perjalanan.

  

Ciwidey, 22 April 2018

EGI RAHMAN    

  • view 101