KILAS BALIK

Egi Rahman
Karya Egi Rahman Kategori Renungan
dipublikasikan 27 Juni 2017
KILAS BALIK

Beberapa kali mau sarapan pagi kok jadi berasa berdosa .

Seolah jejak-jejak Ramadhan masih berbekas, setiap pagi sudah terjaga menghindari semua yang hakikatnya 'boleh' namun 'waktu' yang membuatnya haram.

Jika Ramadhanmu terlatih, maka itu baik untuk kehidupanmu selanjutnya. Bagai batu asah, kepekaanmu harusnya lebih tajam dari sebelum Ramadhan datang.

Saya yakin, indera penciumanmu selagi bershaum meningkat mungkin ada yang sampai 180 derajat. Terutama mencium makanan, seolah jarak 1 km dari tukang sate kamu udah cium bau wangi satenya.

Tapi, sadarkah? banyak hal selain penciumanmu yang meningkat jika -sekali lagi- Ramadhanmu terlatih?

Ibadah, kamu mungkin telah banyak mendengar keutamaan beribadah di bulan Ramadhan terlebih hari ini semakin banyaknya media dakwah di media sosial. Rasanya tak mungkin kamu lewatkan kesempatan nikmat beribadah baik dari kuantitas atau kualitasnya, bahkan pada awal pertama Ramadhan kita sering berlomba-lomba meraih pijakan di masjid agar mendapat ruang untuk shalat terawih pertama. Ingatkah hari itu?

Muamalah, pernah kamu sesekali menahan amarah ketika ada teman, saudara atau sahabat karibmu membuatmu kesal agar pahala shaum kamu tidak sia-sia atau bahkan rusak. Secara tak sadar kamu mencoba menekan pribadi yg negatif setidaknya hingga waktu berbuka tiba. Mungkin, disini kamu bisa temukan sisi 'paling kalem' diri kamu.

Pikiran, rasanya tak pantas kita berpikiran macam-macam ketika tahu bahwa berpikiran negatif bahkan kotor adalah hal terlarang di bulan suci ini. Maka, secara sadar kita mencoba mencegah pemicu-pemicu timbulnya pikiran itu, ikhwan yang mantap membangun diri mungkin akan banyak menghapus follower IG-nya dari akhwat yang disukainya, atau akhwat yang mencoba menjaga diri dimanapun bahkan di media sosial agar tidak menjadi fitnah bagi lawan jenis.

Hati, kecamuk perasaan kontradiksi sering terjadi pada gumpalan daging ini. Ramadhan membuatnya selalu ditantang untuk selalu mencondongkan diri dalam fokus beribadah dan mengingat-Nya, melawan keinginan-keinginan nafsu dalam mengamalkan hal yg tak pantas. Melawan rasa malas membuka lembaran ayat-ayatNya untuk menyaingi intensitasi membaca benda 'yg katanya' pintar.

Banyak hal lain yang bisa dikupas bila kita kilas balik Ramadhan 'kemarin'.

Iya, kemarin.

Lalu, akan muncul kecenderungan sesaat setelah Ramadhan berakhir.

Ramadhan yang terlatih, akan ada rasa ketika hari-hari masih merasa nuansa Ramadhan. Makanan yang tersaji di meja makan pada pagi akan terasa 'haram' walaupun sejatinya sebaliknya, itu kesan pertama meninggalkan Ramadhan. Maka, kamu akan semakin menjaga perutmu hingga tak sembarang makanan masuk ke dalamnya. Ibadah dijaga intensitasnya, pikiran dan hati selalu dalam kondisi baik ketika menyikapi hal apapun untuk selalu condongkan diri pada-Nya. Itu harapan idealis hasil dari Ramadhan. Habit baru yang positif menjadi bagian dari diri kamu di hari selanjutnya.

Ramadhan sebagai momen menunggu perayaan, puncaknya tidak jauh berbeda. Sesaat setelah berakhir, perasaan senang dan menang melanda. Merasa terbebas dari segala tuntutan ibadah yang mengekang. Dan ini adalah hal yang sebenarnya harus kita takuti. Bahwa sepeninggalnya tak ada jejak yang dapat kita kenang untuk ditapaki seakan itu hanya proses ritual tahunan karena malu melihat mayoritas orang melaksanakannya.

Hingga pada akhirnya ketika kamu sadari ini, diberilah pilihan.

Apakah Ramadhanmu kemarin sudah kau anggap sebagai 'check point' tingkat penghambaan padaNya sebelum mendapati Ramadhan selanjutnya?

Atau, hanya sebatas kenangan masa-masa bersama merasakan lapar, haus, terkekang, dsb.? lalu menang ketika lebaran tiba? dan seolah tidak terjadi apa-apa di kemudian hari.

Semoga kilas balik ini bisa membuat masing-masing diri kita semakin sadar akan keberadaannya, keberadaan bulan yang dinantikan seluruh kaum mukmin.

Maka, terakhir ku ucapkan selamat! bagi hari-hari sepeninggalnya masih merasa 'haram' sekedar untuk sarapan. Realitanya, bahwa benih habit semangat Ramadhanmu sudah mulai tumbuh. Tinggal sikap kita, apakah sanggup untuk merawat dan meyiramnya. Atau hanya membiarkannya cukup sekedar benih saja.

Sekali lagi, PILIH. Karena semua proses hidup tak terlepas dari pilihan.

Jurnal pertama, Egi Rahman.
3 Syawal 1438 H

  • view 58