Motif, antara Kamu dan Aku

Egi Rahman
Karya Egi Rahman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Desember 2016
Motif, antara Kamu dan Aku

Tanya tentang pagi itu, kulihat ada yang tak biasa di rerumputan segar dekat masjid utama Universitas Pendidikan Indonesia.

"Ah, abaikan aja toh biasanya juga sering ada kegiatan.." pikirku, karena memang tempat disini bisa berubah fungsi sesuai kebutuhan yang memakai.

Bagai bunga matahari yang tertarik magnet sang surya ku toleh sekali lagi mencoba untuk memberi kepastian hati.

Benar saja, kamu kembali tampil di hadapan wajah ini sembari berjalan kesana kemari dengan wajah riang seperti sedang mempersiapkan sesuatu. 

Mencoba agar tak terlihat ku berjalan pergi melanjutkan kegiatan di gedung sebelah dimana semua kesibukan amat berarti disana. Iya, gedung Gegeut Winda yang lebih kami kenal dengan Pe Ka Em (Pusat Kegiatan Mahasiswa). Levitasi waktu seolah terasa disana, dimana kamu menghabiskan waktu beberapa jam bagai malam yang tak terasa ketika tidur senyenyak-nyenyaknya.

"Line!!!" Nada dering smartphone-ku berdering, "Akang?! Lagi dimana? Saya udah di UPI nih.. Bisa ketemu gak?" seorang teman lama yang dulu berjuang bersama agar dapat duduk di kursi perkuliahan mengirimku pesan, "Ok, wait ya.. di depan masjid Al furqon." Jawabku melalui pesan itu. Akhirnya aku pergi kembali temui teman lama itu di tempat yang sudah disepakati.

Dan bagai takdir pertemuan air hujan dengan tanah memang yang tak bisa dielakkan, akhirnya ku harus melewati kamu yang kini jelas bahwa sibukmu pagi tadi adalah wujud harapanmu sebagai mahasiswa prestasi, saling berbagi dalam inpirasi. 

Sembari berjalan ku coba tuk curi pandangan pada kamu, yang terlihat anggun seperti biasa dengan kerudung biru navy dan sedikit motif putih daun-daun. 

Dalam hati ku bicara pelan mengiringi langkah, ingin sekali rasa ini memberimu sapa tanda kita adalah teman. Namun, rasa yang terlalu jauh memandangmu membuatku urung mengucapkannya hingga ku berjalan melewatimu tanpa mengucapkan apapun.

Ya, dengan rasa yang tak pantas tuk memberimu kesan sedikit ego ini membuat diri merasa terpilih. Kulihat baju dan kerudung yang sedang kau pakai ternyata sama dengan warna baju kemejaku. Kamu bermotif daun-daun putih dan aku garis-garis putih kaku yang membentuk persegi. 

"Ternyata kita couple hari ini!" bisik egoku yang sedikit memaksa.

"Haha!" Hati tetap tak bisa dibohongi, ku mentertawakan diriku yang bertingkah konyol saat itu. 

Sampailah kaki ini ditempat yang disepakati bersama teman lamaku, 

"Eh kang bagaimana kabar? Baik kan?" Sapa teman lamaku.

"Alhamdulillah, baik kok cuman gini tiap hari harus terus ngampus padahal hari ini kosong kuliah, derita anak organisatoris hehe" jawabku dengan sedikit keluhan hati.

"Haha, ya wajarlah apalagi anak advokasi mah, eh kang itu disana lagi ada acara apa? Kayaknya rame gitu?" Jawab teman lamaku sembari menunjuk ke satu arah, namun kali ini membuatku sedikit salah tingkah karena yang ditunjuknya ternyata kegiatan yang dipandu oleh dia, si perempuan berkerung biru navy bermotif daun. 

Dengan sedikit ragu ku menoleh lagi, dan tak sadar ku tertarik magnet lagi secara otomatis melihat kamu yang sedang memandu acara. 

Memandangmu ku berharap ada pandangan balasan darimu karena ku berdiri tepat di seberang acaramu, namun itu hanyalah rasa harap yang terlalu egois ku memikirnya.

Selagi ku sedikit menahan pandangan padamu teman lamaku ternyata sedangan berbicara panjang, karenamu ku sedikit abaikan teman lamaku ini.

"Ah, tak mungkin dia menoleh kepada diri yang serba jauh di bawahmu ini" ucap hati ini sembari berusaha menyimak ucapan teman lamaku itu. 

Disini, mungkin egoisme telah merasukiku walau hanya sekedar bisikan hati. Yah, sepertinya kesamaan warna baju kita bukanlah kebetulan tapi itu adalah pesan dari Tuhan. 

Mungkin sepintas terlihat kesamaan memberi kesempatan seseorang tuk mendapat rasa yang sama, tapi rasa bukanlah benda yang dengan mudah dapat di identifikasi secara harfiah.

Motif daunmu menggambarkan bahwa kamu adalah orang yang berbeda, boleh punya warna yang sama namun jalan hidup bukanlah ditentukan dengan kesamaan sepintas. Motif daunmu memberimu identitas sesungguhnya, perasaan yang berarti tidak untuk ditampakkan dan diterjemahkan oranglain secara serampang.

Isyarat motif kemejaku sebuah pertanda, bahwa tak layak hati ini menilai kaku semua tentangmu bagai motif garis kotak putih kemejaku. 

Daun ibarat simbol dinamis, dan kamu adalah orang yang selalu dinamis ketika harapanmu terus membawa kamu menuju puncak cita-cita yang tak terbayang.

Warna kita sama, motif kita berbeda. Entah warna ini adalah pertanda baik antara kamu dan aku, namun yang pasti daun dan garis kaku-ku bukanlah hal yang sama. 

Aku, disini lebih baik cukup memandangmu tanpa harus mencampuri motifmu. 

Cukup aku dan kamu terus seperti ini, hingga Tuhan yang memberi motif yang lebih pantas untuk kita berdua.

  • view 164