Hujan, Senja, dan Dirimu

Gietha Wachyu
Karya Gietha Wachyu Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 September 2016
Hujan, Senja, dan Dirimu

Langit mendung menghitam pertanda saat itu langit akan menumpahkan kesedihan nya seperti diriku mungkin, ahh ya.. kamu penyebab ke entah-an yang ku jalani 4 tahun belakangan ini.
Saat itu aku mengenal mu tanpa sengaja.
Teman ku pergi menemui teman mu, dengan bodoh nya aku mengikuti nya. Ingin tau, seperti apa pria beruntung yang akan berkenalan dengan nya itu. Dia adalah teman terbaik ku, dari pertama aku menginjakan kaki di SMA ku namun entah kali ini aku tak pernah tau lagi kabarnya. Dan kamu? Kamu adalah teman yang juga (sepertinya) menemani teman mu untuk bertemu teman ku saat itu. Setelah itu selain mereka kita juga bersama, sebagai sahabat atau entah. Karena saat itu aku tau dirimu adalah kekasih dari salah satu teman sekolah ku meski aku tak pernah mengenalnya lebih dekat, tapi aku tau kurang lebihnya cerita tentang mu dan dia.

Hari berganti, saat itu aku ingat.. kau kecelakaan motor dan tangan mu patah. Saat kau memberi kabar aku dengan buru-buru mengganti baju ku dan menemui dirimu di Rumah Sakit. Dan saat itu aku melihatnya, kekasih mu. Aku kira dia lebih khawatir terhadap mu. karena saat itu dia menangis dan aku tidak. Bukan, bukan aku tak bersimpati pada dirimu. Tapi sepertinya aku akan berharap lebih banyak dari yang kau tau namun aku tau jalan yang ku lalui akan panjang dan berliku didepan sana. Aku seperti orang bodoh disana, berharap kau melihat ku tapi tidak. Dirimu memang baik pada ku, tapi sepertinya hanya untuk menjadi sahabat bukan? atau sebatas "kakak" yang ku kenal setelah dewasa? aku tak tau dan tak ingin tau perihal itu.

Hingga suatu hari kau berkata tak lagi bersama kekasih mu yang 2 tahun itu menemani suka duka mu. Senang? tentu. Ah tapi aku terlihat jahat saat itu. Hingga aku hanya diam seribu bahasa tak tau harus bagaimana padahal jelas saja saat itu kau tengah terluka dalam. Kau bercerita dia pergi meninggalkan mu hanya karena kau tak pernah memberikan waktu lebih banyak untuk nya lagi seperti dahulu. Bodoh! Aku ingin berkata dia sangat bodoh melepaskan mu. Dia tak pernah tau berapa banyak orang yang menginginkan mu diluar sana. Aku tak ingin mengakui nya, namun aku pun begitu. Menginginkan mu.

Dalam kehampaan mu aku selalu ada. Menemani mu apapun luka yang tengah kau lewati saat itu. Hingga pada akhirnya semesta berkata dan mengijin kan kita bersama. Aku bersyukur untuk itu, terlebih untuk memiliki mu. Bukan hanya menjadi sahabat atau adik kecil mu lagi. 2 tahun berlalu begitu cepat ditengah semua yang kita jalani bersama, suka duka.. ah entah apalagi yang kita lewati tapi kita tetap bertahan saling memperjuangkan.

Namun dipenghujung tahun sore itu, aku menerima pesan (yang entah dari siapa aku tak tau) untuk mu. Dia berngucapkan selamat ulang tahun pada mu yang saat itu tengah merayakan bertambahnya umur. Pesan itu berisi kata-kata romanis yang indah, namun aku tak menyukai nya sekecil apapun. Saat kau tengah sibuk dengan teman-teman mu aku menghapal nomor itu dan meminjam salah satu handphone teman mu untuk mencari tau siapa kah pemilik nomor itu. Setelah aku mengetikan nomor itu di handphone teman mu aku memencet tombol call, dan kamu tau siapa nama atas nomor tersebut? ya.. nama mantan mu. Mantan mu yang cantik yang ku temui di Rumah Sakit saat kau disana. Aku tak marah, hanya saja ada sedikit luka didada menandakan aku tak bisa lagi banyak bicara pada mu seperti biasanya.

Hari-hari selanjutnya aku tau mantan mu lebih sering mengabari mu tentang apa-apa saja yang sedang dia lakukan disetiap harinya dan aku tau kau pun merespon nya, merespon nya dengan ramah dan bersahabat layaknya sahabat dekat. Sekali lagi aku tak pernah marah pada sifat mu yang ramah itu, hanya saja aku tak pernah menyukai mantan kekasih mu itu. Lalu siapa seseorang yang akan menyukai wanita mantan kekasih pria nya? meskipun mereka tak pernah saling kenal sekali pun.
Kepercayaan ku terhadap mu pun hilang sedikit demi sedikit meskipun kau kerap kali berkata aku lah yang terbaik.

Hingga akhirnya aku harus pergi meninggalkan mu dan kota ini. Kota tempat ku besar dan menjadi gadis remaja yang tak lagi manja. Aku pergi untuk menggapai cita-cita dan impian ku di Kota Pelajar yang ku pikir agak jauh dan kau akan lebih sulit menggapai ku. Dan benar saja, kau tak pernah mengijinkan nya. Dirimu berdalih bahwa kita tak akan lebih sering lagi menghabiskan waktu bersama seperti saat ini. Namun aku tetap pada kehendak ku untuk pergi dan kau tetap pada kehendak mu berkata "jangan". Saat itulah kita memutuskan untuk tak lagi bersama. Menjadi diri masing-masing yang lebih dewasa di tengah ke egoisan masing-masing.

Semenjak saat itu aku tak pernah tau lagi kabar mu. Dimana? dan Bersama siapa saat ini kau berbagi luka mu. Aku tak pernah tau lagi. Mungkin kembali dengan mantan kekasih mu? Atau orang baru yang lebih mencintai mu dari pada aku?

Namun dikala senja dan hujan saling berganti menemani ku, aku mengingat mu. Dan tentu saja doa ku akan selalu sama, semoga kau selalu sehat dan bahagia disana. Tanpa diriku memang, tapi aku tau kebahagiaan mu bukan hanya perihal aku dan ke egoisan ku.

NB : tulisan ini dibuat untuk #kuisromeo buku @romeogadungan

2012

  • view 569