Tak Semudah yang Terbayangkan

Gietha Wachyu
Karya Gietha Wachyu Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 September 2016
Tak Semudah yang Terbayangkan

Pagi ini sama saja dengan pagi dihari lainnya. Burung yang berkicau, semua orang yang sibuk, kendaraan yang mulai memenuhi setiap sudut jalanan Ibu Kota. Ah.. aku tak pernah menyukai keadaan ini. Begitu hiruk-pikuk dan padat. Tentu saja dengan tanpa terkecuali, bahwa macet adalah sebagian dari hiruk-pikuk keramaian Ibu Kota. Setiap pagi setiap aku berangkat sekolah melintasi jalan itu, aku melihat seorang anak laki-laki yang tengah duduk dibawah lampu merah. Aku memperkirakannya berusia sekitar 7 atau 8 tahun. Ia menunggu lampu merah itu menyala dan menunggu kendaraan-kendaraan disana berhenti. Awalnya aku tak begitu peduli dengan apa yang akan dilakukan nya. Namun saat dia mulai berdiri dan menghampiri kendaraan-kendaraan yang berhenti itu, aku tiba-tiba saja mulai sedikit tertarik untuk memperhatikannya lebih lama.

Aku memperhatikannya. Setiap kali lampu merah itu menyala dia berdiri dengan penuh semangat, dia berlari menuju salah satu mobil yang tengah berhenti dalam keramaian lalu lintas. Dia menyanyikan sebuah lagu yang tak terdengar jelas (lagu yang aku juga tak tau lagu apa itu). Mungkin saja dia menyanyikan lagu keroncong atau sebagainya. Aku tak bisa mendengarnya lebih jelas dari jarak yang tak cukup dekat, dan juga karena bercampur dengan bisingnya knalpot kendaraan disekitarnya yang meraung-raung bagai sebuah arena balap liar dan kendaraan-kendaraan itu adalah sang bintang yang siap untuk berlari mendahului yang lainnya.

Aku memperhatikan lagi dirinya dengan lebih seksama. Sambil bernyanyi dia juga menggoyang-goyangkan sebuah alat musik yang terbuat dari beberapa buah tutup botol bekas minuman yang dijadikan satu dengan cara dipipihkan. Tutup botol tersebut menancap pada kayu oleh satu buah paku karatan ukuran sedang.

Tiada rasa lelah dan letih pada dirinya. Meskipun keringat dari tubuhnya terus bercucuran tiada henti. Terik matahari pagi yang menuju siang itu mulai menyengat tubuh mungilnya serta asap-asap kendaraan yang tak pernah membuatnya patah semangat hanya untuk mencari sesuap nasi setiap harinya.

Sesekali aku melihatnya ‘ditolak’ beberapa pengendara. Dia tak pantang menyerah. Mencoba lagi dan mencoba lagi. Bahkan dia terlihat tersenyum ramah dan berucap “terimakasih” pada pengendara yang ‘menolaknya’ kasar. Aku tak bisa membayangkan semulia apa hatinya. Serta bagaimana bisa dia setiap hari menjalani hidup yang seperti itu. Dimana orang tuanya? Kenapa setega itu membiarkannya berkeliaran dibawah terik matahari dan hujan ditengah ramainya Ibu Kota ini? Ahh.. banyak sekali pertanyaan dikepala ku.

Ada rasa syukur dan haru dihati ku. Aku bersyukur pada tuhan yang maha esa karena aku masih diberikan-Nya kehidupan yang lebih layak dan berkecukupan. Aku juga merasa terharu melihat perjuangan seorang anak yang masih sangat kecil (menurutku). Karena dia tak seharusnya ada disini, dijalan raya yang penuh debu dan polusi. Dengan kebisingan dan kekacauan khas Ibu Kota. Dia seharusnya ada disekolah untuk belajar dan tertawa bersama teman-teman sebayanya. Bermain dan bersenang-senang adalah hak nya. Namun sepertinya dia kurang beruntung untuk mendapatkan itu semua. Bahkan hanya untuk sebuah mobil mainan baru pun sepertinya dia tak seberuntung anak lain diluar sana yang hanya tinggal meminta ini itu pada orang tuanya dengan mudahnya.

Aku terdiam, termenung menatapnya lebih lekat. Kembali terngiang ditelinga ku ucapan Mama kemarin malam. Saat aku meminta mereka mendaftarkan ku di Universitas yang aku impikan selama ini, salah satu Universitas terbesar yang terletak di Kota Pelajar. Namun sepertinya biaya untuk itu akan memakan banyak biaya yang besar. Mama selalu menginginkan ku untuk disini saja, kuliah dikota padat penduduk ini. Agar tetap menemaninya dan memonitor ku dengan mudah. Namun aku ingin pergi melihat lebih banyak warna diluar sana. Aku selalu ingin pergi melihat hal baru yang mungkin saja orang lain tak seberuntung aku. Aku juga dengan gampangnya meminta perlengkapan elektronik baru untuk keperluan kuliah ku nanti. Padahal jelas saja mereka tengah berpikir keras untuk semua yang terbaik bagi ku.

“Tha, kamu sudah besar sekarang. Kamu harus mulai bersikap dewasa. Jangan terlalu memaksakan kehendak mu sendiri. Apa yang akan terjadi nanti jika Mama dan Papa sudah tidak ada? Siapa nanti yang akan menuruti semua keinginan mu itu?” Suaranya lembut namun tegas. Itulah Mama.

Aku hanya menunduk mendengar ucapan Mama. Aku sadar bahwa hidup ini tak mudah seperti yang aku bayangkan. Aku memang egois. Setiap yang aku inginkan harus terpenuhi saat itu juga. Karena memang sejak awal sikap Papa yang selalu memanjakan ku dan apapun yang aku mau pasti Papa kabulkan.

Papa termenung. Raut dimuka nya kini lebih terlihat jelas.

“Meskipun suatu hari kamu akan menemukan penganti Papa pada pendamping mu kelak, Papa tetap akan menganggap mu putri kecil Papa yang cantik dan lucu. Belajarlah sayang.. meskipun terkadang kau harus menekankan ego mu untuk orang lain atau sesuatu yang kau inginkan, tapi belajarlah untuk berhenti memaksakan diri, dan berhenti terlalu banyak berkehendak. Papa tau itu tak mudah, tapi seorang gadis yang menawan iyalah seseorang yang memiliki rasa sabar terhadap kemauan ego nya sendiri. Namun Papa tak ingin menghentikan mimpi mu, Papa akan mengusahakannya apapun yang terbaik untuk mu.” Ucap Papa dengan gelas kopi ditangan nya. Namun aku lebih memperhatikan matanya yang indah dan teduh saat berbicara dengan ku. Dia memang selalu seperti itu. Tidak hanya terhadap kami, tapi semua orang.

Saat itu aku menyadari beberapa hal yang tak ku tau selama ini. Aku tak pernah menyadari bagaimana susahnya Papa mencari nafkah dibawah terik matahari maupun hujan. Dan aku tak pernah menyadari bagaimana susah nya Mama mengatur semua pengeluaran dengan hanya bermodalkan anggaran yang dianggarkan oleh Papa setiap bulannya untuk kita.

Aku tak sekuat anak kecil dilampu merah itu. Dia begitu tabah, kuat, dan sabar dalam menjalani kehidupan ini.Terlebih dia hanya seorang anak kecil di kejamnya Ibu Kota tanpa orang dewasa yang mengawasi dan menjaganya dari berbagai ancaman yang mungkin tak terduga.

Maafkan aku Mama, Maafkan aku Papa..

Aku janji, aku akan berubah menjadi lebih baik mulai dari sekarang. Menjadi apa yang Mama dan Papa inginkan. Dan aku harap aku bisa sekuat dan setabah anak kecil dilampu merah itu. Untuk dapat mensyukuri apa yang aku punya saat ini. Tanpa memaksakan kehendak ku lagi. Agar bisa menjalani kehidupan yang lebih baik dari ini, untuk sekarang dan nanti.

Banyak hal indah yang ku dapatkan dari Mama dan Papa sedari aku masih kecil sampai saat ini. Aku banyak belajar dari mereka. Mama yang mengajari ku menyayangi orang lain dengan tulus tanpa memandang dia siapa dan dari mana. Papa? Papa adalah laki-laki pertama yang aku sayangi. Dia akan selalu disamping ku sampai aku berkata “bisa”. Dia juga yang mengajari ku cara pantang menyerah menggapai impian ku dan tidak menyerah pada keadaan yang membuat ku putus asa. Tentu saja mereka juga yang mecintai ku lebih dari apapun yang mereka punya. Namun sepertinya aku tak cukup baik sebagai putri kecil mu. Maafkan aku.

Karena sejatinya keluarga adalah tempat kita pulang. Bahkan terkadang pepatah mengatakan bahwa cinta orang tua itu sepanjang jalan. Tiada akhirnya. Dan tentu saja seperti hal nya Mama dan Papa, sehidup sesurga ku adalah keluarga ku sendiri. Tempat ku kembali dan pulang sejauh apapun aku pergi kelak.

***

(cerpen ini ditulis untuk mengikuti Writing Challenge #SehidupSesurga dari Redaksi Pandamedia)

  • view 319