Televisi: Ideologi dan Representasi

Gian Nova Sudrajat Nur
Karya Gian Nova Sudrajat Nur Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 20 Februari 2016
Televisi: Ideologi dan Representasi

TELEVISI:

IDEOLOGI DAN REPRESENTASI

?A.Prawacana

Televisi merupakan barang elektronik yang menggabungkan antara audio dan visual. Ini merupakan barang elektronik yang cukup menarik, berbeda dengan radio yang hanya menghadirkan audio saja. Televisi merupakan bagian dari media komunikasi layaknya radio, sebagaimana Hartley (2010: 187) mengatakan bahwa televisi adalah ?media komunikasi, karena itu merupakan sarana apa saja yang dengannya pesan bisa ditransmisikan?, juga merupakan media massa dalam peristilahan yang sempit. Televisi tidak hadir begitu saja, atau dengan perkataan lain selalu terdapat maksud dan tujuan yang ingin disampaikan olehnya melalui program-program acara yang terdapat di stasiun? televisi tersebut. Dalam hal ini, pesan-pesan yang ditransmisikan merupakan suatu kepentingan dari seseorang atau kelompok yang memiliki media komunikasi tersebut. Dengan perkataan lain, pesan-pesan yang ditransmisikan oleh televisi kepada pemirsa melalui konten-konten acaranya merupakan kepentingan dari pemilik stasiun televisi tersebut. Mereka adalah para pemilik modal, sehingga memiliki kuasa atas pesan-pesan yang ditransmisikan oleh media komunikasi tersebut.

Menurut Hall, yang dikutip oleh Barker (2004: 341) televisi adalah bagian dari ?prakondisian dan konstruksi selektif pengetahuan sosial, yang kita gunakan untuk mempersepsi ?dunia-dunia?, ?realitas? kehidupan orang lain, dan secara imajiner merekonstruksi hidup kita dan mereka menjadi semacam ?keseluruhan dunia? (world-of-the-whole) yang masuk akal bagi kita.? Pendapat tersebut seolah-olah menyatakan bahwa televisi tidak hadir dengan ?ke-natural-an?, melainkan terdapat suatu maksud, tujuan, dan kepentingan di dalamnya (program/teks yang tercipta di dalam televisi tersebut). Oleh karena itu, cukup menarik apabila melihat teks-teks televisi yang dihadirkan dan atau ditransmisikan kepada pemirsa yang menonton televisi. Hal ini dapat dikatakan sebagai sebuah fenomena yang sangat menarik, karena televisi dapat membangun kehidupan sosial budayanya sendiri meskipun itu belum tentu diterima secara instan oleh pemirsa.

Kajian mendalam mengenai televisi adalah suatu hal yang baru bagi saya, meskipun dahulu sempat terbersit bahwa televisi itu tidak baik. Oleh karena itu, berdasarkan apa yang diungkapkan Hall pada paragraf sebelumnya, maka, hendaknya televisi perlu dipahami sebagai teks-teks yang tercipta dalam program-program acaranya, hubungan antar teks dan pemirsa, politik ekomoni (dalam hal ini adalah organisasi/industri), dan pola-pola makna kultural yang tercipta di dalamnya. Televisi dan program-programnya tidak hadir dengan begitu saja, melainkan di dalamnya terdapat teks-teks yang memiliki pesan tertentu untuk disampaikan kepada pemirsanya.

Dewasa kini televisi telah menjadi ruang publik yang nyata. Terlihat dari banyaknya televisi yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia, setiap rumah sepertinya memiliki televisi. Bahkan ada yang memiliki lebih dari satu televisi di satu rumahnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwasannya televisi adalah ?makhluk? domestik, karena kehadirannya di setiap rumah. Selain itu, kini masyarakat tidak dapat terlepas dari menonton televisi dan teks-teks (program) yang ada di dalamnya.

?

B. Televisi dan Beberapa Programnya

Program-program televisi bermacam-macam, salah satunya adalah berita. Dalam program berita, televisi selalu mengangkat tagline ?fakta dan realita?. Namun, pada kenyataannya hal tersebut tidaklah selalu benar. Schlesinger, sebagaimana yang dikutip oleh Barker (2004: 342) menyatakan bahwa televisi bukanlah cerminan dunia ataupun hasil rangkaian realitas. Hal tersebut menjelaskan secara langsung bahwa berita bukanlah jendela dunia yang menghadirkan realita berdasarkan fakta, melainkan sebuah representasi yang terseleksi dan terkonstruksi yang menjadikannya sebagai bagian dan membentuk realitas itu sendiri. Stasiun televisi selalu memiliki kepentingan masing-masing, sehingga program berita yang akan ditampilkannya akan dipilih dan diseleksi untuk membangun cerita sesuai kehendak pemilik kuasa dalam stasiun berita tersebun, atau dengan perkataan lain tidak pernah netral.

Berita dapat dikatakan sebagai versi tertentu dari suatu kejadian. Hal tersebut dibangun oleh narasi-narasi berita yang berusaha menjelaskan bagaimana kondisi sesuatu atau suatu kejadian terjadi. Salah satu contoh nyata di Indonesia adalah perbedaan stasiun televisi yang terkadang berbeda-beda dalam menampilkan sebuah realita. Perbedaan stasiun televisi tersebut dapat dilihat dalam stasiun TvOne dan MetroTv. Itu merupakan bukti nyata bahwa berita bukan merupakan cerminan dunia atau hasil rangkaian realitas, melainkan realitas-realitas yang diseleksi untuk membangun sebuah berita dengan cerita/versi tertentu. Hal tersebut sangat jelas sekali terlihat ketika pemilihan presiden tahun 2014 kemarin. Bagaimana dua kubu yang berbeda saling menyerang melalui berita di televisi. Kejadian tersebut saya kira masih berlangsung sampai saat ini, perbedaan berita yang ditampilkan kepada masyarakat sebagai pemirsa mengenai pemerintahan yang sedang berlangsung. Hal itu tentunya membuat masyarakat/pemirsa yang menonton televisi menjadi bingung dalam menentukan realita berdasarkan fakta yang sebenarnya.??? ????

Selain berita, terdapat program televisi lain yang selalu menarik perhatian pemirsanya. Program ini sangat laris di keluarga saya sedari saya kecil hingga sekarang, program tersebut yaitu sinetron. Sinetron merupakan salah satu program dari banyaknya program televisi yang ada di Indonesia. Merupakan singkatan dari sinema elektronik, yang hakikatnya adalah serial yang berjangka waktu panjang. Program ini telah banyak menjadikan masyarakat kecanduan terhadapnya. Hal tersebut saya dasarkan kepada hasil dari observasi yang saya lakukan kepada keluarga saya sendiri, dan lingkungan sekitar saya, seperti tetangga rumah dan sekolah tempat saya mengajar. Jelas, ini memudahkan bagi kepentingan tertentu untuk memasukkan kepentingannya (ideologi) ke dalam otak-otak manusia melewati program-program yang diciptakan oleh televisi, seperti dalam sinetron.

Beberapa sinetron yang telah tayang dan sukses di Indonesia adalah sinetron Tersanjung. Berdasarkan data yang didapat di beberapa situs internet, sinetron tersebut tayang dari tahun 1998-2005, begitupun dengan serialnya yang terus bersambung hingga mencapai belasan. Bahkan, baju dan aksesoris yang berhubungan dengan Tersanjung menjadi barang yang cukup di minati pada masanya. Selain sinetron itu, beberapa tahun ke belakang ada beberapa sinetron yang cukup suskes tayang di Indonesia, Tukang Bubur Naik Haji, Catatan Hati Seorang Istri, Ganteng-Ganteng Serigala, Tujuh Manusia Harimau, dan Jagoan-Jagoan Katropolitan, dan masih banyak lagi. Hampir setiap stasiun televisi di Indonesia memiliki program yang dinamakan sinetron, baik itu produksi dalam negri maupun luar negri.

Sinetron merupakan konten yang memiliki banyak teks di dalamnya. Ketertarikan saya membaca sinetron di Indonesia dikarenakan rasa penasaran terhadap sinetron. Mengapa sinetron dapat begitu populer di Indonesia dan dapat bertahan hingga beratus-ratus episode. Di luar negri, sinetron dikenal sebagi opera sabun. Amerika (Amerika Latin) sendiripun memiliki program yang serupa yang dinamakan dengan Telenovela. Beberapa ciri-ciri mengenai sinetron atau dalam kata lain opera sabun berdasarkan rangkuman Barker (2004: 350-351) dari Allen, Ang, Buckingham, Dyer, dan Gerahthy bedasarkan yang saya pahami, yaitu:

?

  1. Bentuk narasi yang open-ended

Dikatakan bahwasannya opera sabun adalah serial yang berjangka waktu panjang, memiliki periode yang potensial dan tidak terbatas untuk menceritakan kisahnya.

  1. Lokasi-lokasi inti

Dalam hal ini, opera sabun menciptakan sensasi ruang geografis yang bisa diidentifikasi oleh pemirsa dan menempatkan di mana karakter di dalamnya berada.

  1. Tarik menarik antara konvensi realisme dan melodrama

Opera sabun memakai konvensi realisme dan melodrama, dan bisa dibeda-bedakan berdasarkan keseimbangan di antara keduanya. Realisme adalah sekumpulan konvensi di mana drama ditampilkan sebagai representasi ?dunia nyata?, dengan karakter-karakter yang bermotif, lokasi yang bisa dikenali dan permasalahan sosial yang masuk akal. Narasi yang dipakai berupaya agar ditampilkan seolah-olah nyata. Sebaliknya, melodrama terbentuk memalui sensai dramatik yang meninggi dengan fokus pada emosi ?kesengsaraan hidup?, meskipun para karakternya tidak memiliki motivasi yang menunjangnya dari sudut pandang ?realis?. Seiring diperkuat oleh teknik gaya akting tertentu, musik yang dramatis dan teknik pengambilan gambar (lebih banyak close up), dan alur cerita yang mengandung berbagai pelintiran dan belokan yang akan menjadikan narasi realisnya semakin luas, bersamaan dengan hadirnya liukan emosi penonton yang ikut naik turun.

  1. Tema-tema kunci (hubungan interpersonal):

Tema-tema yag ditampilkan oleh opera sabun tidak lebih dari perkawinan, perceraian, putus hubungan, aliansi baru, perdebatan, aksi balas dendam, dan tindakan kasih sayang, karena ini dapat membuat narasi lebih dinamis dan berdaya tarik emosi yang tinggi. Bayangan ideal tentang keluarga terus menerus digempur oleh berbagai perdebatan, perselingkuhan, dan perceraian, dan itu menjadi bagian penting dalam opera sabun.

?

Keempat gagasan tersebut ternyata dimiliki oleh hampir setiap sinetron di Indonesia (universalitas dalam judul yang berbeda), atau dengan perkataan lain gagasan-gagasan tersebut terdapat di setiap sinetron di Indonesia yang pernah saya tonton.?Tahun 2014 memiliki tiga sinetron yang ?serupa tapi tak sama?. Seni bela diri menjadi konten tambahan dalam ketiga sinetron tersebut, meski esensi ceritanya sama saja seperti yang disebut dalam point keempat. Sinetron-sinetron terebut adalah Ganteng-Ganteng Serigala, Tujuh Manusia Harimau, dan Jagoan-jagoan Katropolitan. Ketiganya ditampilkan dalam televisi-televisi swasta yang bebeda, yang pertama Ganteng-Ganteng Serigala ditampilkan dalam stasiun televisi SCTV. Kedua, Tujuh Manusia Harimau ditayangkan di dalam stasiun televisi RCTI. Terakhir, Jagoan-jagoan Katropolitan ditayangkan dalam stasiun televisi Trans TV.

Adapun tahun 2016 sekarang sedang diramaikan oleh sinetron Anak Jalanan yang tayang sejak tahun 2015. Sinetron yang tayang di stasiun televisi RCTI ini menceritakan kehidupan anak muda yang senang hidup di jalanan dengan menggunakan motor-motor besar. Beberapa portal berita online mengatakan bahwa pada tahun 2015 sinetron tersebut memiliki rating yang tinggi. Mengikuti kesuksesan RCTI, stasiun televisi SCTV tidak mau kalah. Pada awal bulan Februari ini SCTV meluncurkan sinetron tebarunya dengan judul Halilintar. Sinetron tersebut mengusung mobil sebagai objek utamanya dalam cerita yang ditampilkannya, berbeda dengan RCTI yang mengusung motor-motor besar. Akan tetapi apabila melihat konten ceritanya tidak ada sesuatu yang spesial di dalamnya dan hanya itu-itu saja, sebagaimana yang saya tampilkan pada poin keempat dari ciri-ciri sinetron.?

Hartley (2003) membaca televisi dan mengungkapkan beberapa pernyataan mengenai televisi, di antaranya adalah: Apa pesan yang disampaikan oleh televisi? Bagaimanakah kita berlaku sekarang? Kenapa itu dapat terjadi? Bagaimana agar pesan dalam konten (dalam televisi) dapat tersampaikan kepada pemirsa? (Encoding ? decoding). Bagaimana televisi menyampaikan kepada ?luas? berdasarkan situasi budaya dan politik yang audiens miliki? Saya tidak dapat melampirkan beberapa bentuk yang dapat dilihat secara langsung sebagai bukti, tetapi bukti-bukti yang saya gunakan adalah apa yang dialami dalam kegiatan keseharian yang saya lakukan dan apa yang saya lihat. Bahkan banyaknya fanspage dan halaman di facebook telah menarik puluhan ribu pemilik akun dunia maya tersebut untuk menyukai dan mengikutinya.?

  • Apa pesan yang disampaikan oleh beberapa sinetron di Indonesia?

Selama yang saya amati di lingkungan sekitar rumah, sekitar sekolah tempat saya mengajar, dan dunia maya (facebook), saya mengungkapkan bahwa ketiga sinetron tersebut berisikan tentang:

  1. Khayalan akan kehidupan yang serba mewah.

Ini terlihat dari apa yang dilakukan para pemeran dan ruang kehidupannya. Rumah yang digunakan sebagai latar tempat syuting adalah rumah yang besar dengan segala kemewahannya. Kendaraan-kendaraan yang mahal. Pakaian-pakaian yang glamour dan artis-artis yang tampan dan cantik dengan kulitnya yang putih.

Sehingga, pemirsa (remaja khususnya) terus bermimpi dan berkhayal akan semuanya itu. Berkhayal andaikata dapat menjadi artis tersebut dengan segala macam hal yang terdapat dalam cerita sinetron tersebut. Pada akhirnya menjadi peluang bagi banyak pemilik modal untuk menawarkan produknya dengan iming-iming dapat menjadi sama dengan artis yang memerankan sinetron tersebuta. Produk-produk yang mendukung (sponsor) program tersebut laku di pasaran karena iklannya dibintangi oleh artis dalam sinetron tersebut.

  1. Kisah cinta yang indah

Di lingkungan saya, sinetron banyak digandrungi oleh bermacam-macam usia. Akan tetapi terlihat bahwa beberapa adegan sinetron ini mengutamakan hubungan percintaan anak-anak remaja. Hal tersebut saya katakan remaja Indonesia selalu terjebak dalam bayang-bayang percintaan. Pengharapan tentang cinta yang indah dengan berbagai macam romantisme di setiap perjalanannya. Cinta seakan menjadi barang yang sangat tinggi di dalam beberapa sinetron di Indonesia, bahkan dapat menyingkirkan bagian penting lainnya di dalam kehidupan seperti halnya pendidikan. Dalam beberapa sinetron di Indonesia memang terdapat kegitan bersekolah, tetapi yang lebih ?dikuatkannya? adalah tetap tentang kisah cinta dan percintaan.

  1. Budaya Kekerasan

Terdapat beberapa adegan bertarung dalam beberapa sinetron, atau yang lebih hangat adalah sinetron Anak Jalanan dan Halilintar. Di dalam sinetron tersebut, pertarungan didasarkan karena adanya keinginan untuk balas dendam terhadap orang lain. Begitu kuat ?dilabelkan? bahwasannya selalu ada balas dendam atas setiap kesalahan yang dilakukan orang lain. Mengenai pemeran yang bertarung, banyaknya pertarungan di dalam ketiga sinetron ini dilakukan oleh laki-laki.

  1. Budaya Patriarki

Menyambung perhatian sebelumnya, terdapat budaya patriarki sebagai ideologi yang diterapkan dalam teks di ketiga sinetron ini. Televisi sepertinya menjadi jalan yang sangat mudah untuk memberikan hiptonis dengan hegemoninya tentang (kelas, usia, dan jenis kelamin). Di dalam beberapa sinetron di Indonesia, laki-laki selalu mendapatkan peran sebagai tokoh utama. Laki-laki selalu diposisikan sebagai garda depan dengan merepresentasikan bahwasannya mereka adalah kuat. Laki-laki selalu digambarkan sebagai sosok yang kaya raya, dapat bertarung, dan laki-laki merupakan penjaga perempuan. Perempuan dalam beberapa hal tidak memiliki hak untuk mengambil keputusan, dan kebanyakan beberapa keputusan diutarakan oleh laki-laki. Ketimpangan gender sangat terlihat sekali dalam beberapa sinetron di Indonesia.

?

  • Bagaimana kita berlaku sekarang?

Maksud pertanyaan ini adalah, apa efeknya kita sebagai penonton yang menonton sinetron tersebut?. Saya berpendapat bahwasannya efek yang terjadi setelah populernya sinetron-sinetron tersebut di Indonesia penonton menjadi seorang konsumtif. Selain itu, efek lainnya saya banyak melihat anak-anak banyak yang melakukan pacaran. Tidak ada batasan usia untuk menjadi penonton dalam ketiga sinetron ini, sehingga terdapat beberapa anak kecil yang meniru beberapa perilaku mereka yang bermain peran di dalam sinetron.

Secara tidak langsung tertanam dalam otak anak laki-laki tersebut bahwasannya lelaki adalah kuat (dengan berbagai macam adegan di dalamnya). Kita juga selalu melihat, menjadi putih dan memiliki badan proporsional adalah sempurna, karena artis-artis yang berperan dalam sinetron tersebut berkulit putih dan bersih (putih di sini adalah dalam perspektif Indonesia) dan berbadan proporsional, sehingga kita berbondong-bondong membeli produk pemutih kulit dan berusaha untuk memiliki badan yang proporsional.

  • Kenapa itu dapat terjadi?

Di sini ada dua hal yang dimaksudkan. Pertama mengapa hadirnya sinetron tersebut? Ini berkaitan dengan budaya populer yang erat dengan menjual kesenangan demi mendapatkan keuntungan kelompok tertentu, ini terjadi dan dapat dilihat dengan banyaknya penyuka ketiga sinetron tersebut.? Bukan hanya dari sinetronnya, tetapi banyaknya produk yang mendukung sinetron tersebut (iklan-iklan yang banyak mengisi jeda dalam setiap bagian dalam episodenya).

Kedua, adanya kepentingan ideologi tertentu untuk tetap melanggengkan ideologinya seperti halnya ideologi patriarki, dan ideologi putih adalah superior. Dalam hal ini, meskipun tidak melihat secara langsung sinetronnya, tetapi dengan melihat cover ketiga sinetron tersebut, laki-laki selalu tampil di depan dengan pose-pose yang tampil macho dan kesemua artisnya berkulit putih (kuning langsat Indonesia).

  • Bagaimana pesan dalam konten (dalam televisi) diterima oleh pemirsa? (Encoding ? decoding).

Berbicara mengenai encoding dan decoding berkitan dengan teks-teks televisi dan pemirsa. Encoding adalah proses menanamkan kode-kode ke dalam teks (dalam hal ini adalah program yang dibuat oleh? televisi), dan decoding adalah proses penerimaan makna yang dihasilkan oleh pemirsa. Televisi menginginkan pemirsa untuk sama menafsirkan makna dalam teks-teks (program) yang dibuat oleh televisi. Tetapi kekinian menyatakan bahwasannya terdapat pemisa aktif di dalam budaya menonton.

"Paradigma pemirsa aktif ini berkembang sebagai reaksi terhadap begitu banyaknya kajian pemirsa yang mengasumsikan bahwsa menonton televisi adalah sesuatu yang pasif dengan makna dan pesan dari televisi secara gampang diterima oleh pemirsanya; contohny adalah sejumlah penelitian yang memahami tindakan menonton dalam kerangka bahavioral, yang menganggap pemirsa meniru kekerasan televisi, atau yang memakai korelasi statistik untuk ?membuktikan? bahwa menonton televisi mempunya pengaruh tertentu pada pemirsa. Paradigma pemirsa aktif juga merupakan reaksi terhadap kecerendungan tekstual dalam kajian budaya yang menanggap bahwa kita bisa ?membaca? pemahaman pemirsa lewat pemeriksaan yang mendalam atas makna yang dikandung teks televisi. (Barker, 2004: 354)."?

Ini diartikan bawa pesan-pesan televisi membawa beragam makna dan bisa ditafsirkan secara berbeda-beda. Pemirsa dilihat sebagai individu-individu dalam situasi sosial tertentu. Pemirsa yng memiliki kode-kode kultural yang serupa dengan ?pembuat kode? akan melakkan penafsiran pesan-pesan yang sama yang disampakan dengan kerangka yang sama. Tetapi apabila pemirsa berada pada posisi sosial-budaya yang berbeda, maka pengambilan kode atau makna oleh pemirsanya akan berbeda. Dalam hal ini pemirsa akan mengolah kembali pesan-pesan dengan jalan alternatif yag lain.?????

?

  • Bagaimana televisi menyampaikan kepada ?luas? berdasarkan situasi budaya dan politik yang audiens miliki?

Begitu hebatnya ketiga sinetron ini, sehingga dapat menarik banyak pemirsa berdsarkan faktor sosial-budaya (kelas, usia, dan jenis kelamin). Seperti yang disinggung pada pembahasan sebelumnya mengenai encoding-decding, televisi selalu memposisikan dirinya sebagaimana situasi sosial-budaya daerah tertentu.

Hal lain mengenai ketiga sinetron ini adalah tidak adanya batasan bagi anak-anak ataupun remaja dalam hal menonton televisi, keluarga seakan membebaskan apa yang anak mereka tonton dalam televisi, karena anggapan bahwasannya pemerintah berperan penuh dalam ijin dan sensor dalam tayangan program-program dari sekian banyaknya stasiun televisi di Indonesia. Dalam hal ini, seakan pemerintah tidak peduli terhadap esensi yang diusung oleh beberapa sintron di Indonesia

?

Hal-hal tersebut berkesimpulan bahwa televisi (sinetron) lebih banyak menjadikan pemirsa menjadi seseorang yang negatif dan tidak baik, pemirsa seakan diharuskan menjadi seseorang yang diinginkan oleh kekuasaan tertentu melalui televisi. Mengenai hal ini Hartley (2003: xvi) mengatakan bahwasannya televisi datang dan berkembang dengan maksud dan tujuan:

  1. Pemborosan waktu, karena televisi kini menjadi budaya popular sehinngga banyak waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi. Golongan kelas atas menjadi sedikit saingan terutama dalam hal ekonomi dikarenakan golongan kelas bawah sudah terhipnotis oleh televisi.
  2. Daya tarik yang memiliki kekuatan yang besar, dengan berbagai macam program dengan dalih sebagai hiburan. Bagi Hartley (2010: 104) ?hiburan adalah rezim yang secara universal bisa dipahami sebagai hasil arus utama dari industri konten dan waktu senggang. Hiburan tampak sebagai istilah umum yang dipahami oleh banyak orang, tetapi sebagai penyebaran dalam media kontemporer, ia terdiri atas kondensasi kompleks dari kepuasan individu, bentuk tekstual, dan organisasi industri?. Ini berkaitan dengan ideologi-ideologi dan kepentingan syang dimasukkan ke dalam teks-teks program televisi tersebut. Bagaimana reallitas dalam televisi adalah indah, tidak seperti kenyataan yang sesungguhnya dalam keseharian.
  3. Datang dengan kelembutan. Televisi seakan menjadi penjajahan secara halus, di mana hegemoni budaya diciptakan, seperti contohnya jarang sekali adanya kulit hitam yang tampil di media televisi, adapun jika ada mereka hanya menjadi bagian yang berkaitan dengan hal yang negatif. Jelas di sini terdapat ideologi rasis, tetapi kita tidak menyadarinya karena televisi bekerja dengan dalih sebagai hiburan.
  4. Membutakan mata. Beberapa sinetron yang terdapat di Indonesia dapat membutakan mata akan kehidupan yang sesungguhnya. Selalu berharap dapat hidup seperti apa yang ada di dalam sinetron tersebut, ini sangat berbahaya bagi anak-anak yang menonton sinetron tersebut, karena lebih menyerang kepada ideologi yang akan tertanam dalam pola pikir anak tersebut.
  5. Menjadi candu dan membawakan pada kelalaian. Diartikan bahwasannya televisi dengan segala programnya dapat menjadikan pemirsa menjad candu terhadap kegiatan menonton televisi.
  6. Mengotori cara pikir ? memiliki tujuan yang rendah atau bahkan tidak memiliki tujuan sama sekali (hanya sebagai pemimpi). Ini menjadi hal yang sangat jelas, ketika melihat artis yang cantik dan memiliki badan yang proporsional dalam sinetron, pemirsa tersebut akan selalu bermimpi untuk menjadi seperti artis tersebut. Melakukan banyak cara dengan membeli dan menggunakan berbagai produk yang menawarkan cara agar dapat mirip seperti artis dalam sinetron tersebut.
  7. ?Isitilah pembodohan (dumbing down) digunakan oleh elite budaya sebagai tanda intelektual ?JANGAN MENDEKAT?. Tanda ini digunakan ketika sebuah konsep, peristiwa, atau isu terbuka untuk audiens yang lebih luas dengan mempresentasikan budaya secara berbeda atau secara lebih sederhana? Hartley (2010: 223). Saya menangkap hal ini sebagai naturalisme, suatu sinonim dari realisme yang disebut dalam paragraf sebelumnya sebagi suatu ke-natural-an. Pemirsa harus menangkap apa yang ada di dalam sinetron tersebut merupakan hal yang wajar.

?

Sinetron telah menghipnotis masyarakat, dari jenjang usia anak-anak hingga dewasa dan lanjut usia. Ia meracuni pikiran masyarakat dengan kode-kode kultural yang disampaikannya yang tidak memiliki bobot, atau dapat dikatakan tontonan itu tidak menjadi tuntunan. Sinetron-sinetron tersebut saya anggap berperan sebagai hipnotis dalam sosial ? budaya (kelas, usia, dan jenis kelamin) di Indonesia. Sinetron telah meng-hegemoni-kan ideologi rezim tertentu. Sebagaimana Hartley (2010: 106) mengatakan:

?Ideologi adalah pengetahuan dengan karakteristik ide dari atau dalam kepentingan kelas. Lebih jauh lagi, ideologi dapat mengacu pada? ide mengenai kelompok selain kelas ? terentang mulai dari gender (ideologi laki-laki) hingga pekerjaan (ideologi pekerjaan). Ideologi dipandang sebagai pengetahuan yang diposisikan sebagai hal alami atau secara general dapat dipakai, khususnya ketika asal muasal sosialnya ditindas, tidak bernama (lihat eks-nominasi) atau dianggap menyimpang.

Sinetron seakan tidak ada habisnya, selalu ada dan apabila akan berakhir maka akan ditawarkan kembali sinetron yang lainnya. Seperti pernyataan yang diungkapkan Hartley (2003) yaitu ?Plus Ca Change?. Pernyataan ini diartikan bahwasannya televisi selalu menghadirkan program-program baru, padahal yang pada intinya merupakan program lama, hanya latar dan artisnya saja yang berbeda, ataupun program yang berbeda dalam setiap stasiun televisi. Selalu ada judul sinetron baru dan berganti di setiap masanya, dan beberapa sinetron tersebut selalu mengatakan bahwa mereka selalu membawa hal yang berbeda dalam kisah-kisah ceritanya. Mereka mengatakan bahwa setiap dari mereka adalah berbeda dengan yang lainnya, akan tetapi pada kenyataannya inti ceritanya adalah sama begitupun dengan maksud, tujuan, dan kepentingannya.

Nilai penting televisi dalam hal ini sinetron dan program berita tidak dapat dibatasi pada makna-makna tekstual semata, karena televisi ditempatkan dan dialami dalam aktifitas hidup sehari-hari. Meski ekonomi, politik dan arus program menjadi penting dalam televisi, aktifitas menonton telah menjadi praktik domestik sehari-hari, sehingga sulit untuk menghindari hal-hal negatif dari apa yang ditransmisikan oleh televisi. Sehingga perlunya menjadi cerdas untuk mendidik anak dari tontonan yang mereka tonton, karena rumah merupakan tempat terbangunnya identitas kultural, selain lingkungan luar yang merupakan tempat identitas-identitas kultural yang lebih luas dan saling bersinggungan. Mulailah dari sekarang untuk menjadi pemirsa aktif, atau dengan perkataan lain pemirsa yang tidak begitu saja menerima pesan-pesan yang ditransmisikan oleh program-program yang ditonton di televisi. Peran aktif berbagai pihak sangat penting dalam hal ini, khususnya keluarga. Jadilah penonton yang cerdas.?

?

SUMBER BACAAN:

Barker, Chris. 2004. Cultural Studies: teori & praktik. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Fiske, J., Hartley. 2003. Reading Television: with a new foreword by John Hartley. London: Routledge.

Hartley, John. 2010. Communication, Cultural, & Media Studies:Konsep Kunci. Yogyakarta: Jalasutra

?

  • view 672