Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 15 Desember 2017   09:05 WIB
Perempuan dalam Femininitas dan Femininitas Baru

 

“Hey neng, anak perempuan itu jangan banyak kelayapan, diem di rumah saja. Cuci baju, cuci piring, belajar masak”. “Neng, anak perempuan itu pake rok, jangan pake celana. Apalagi ini suka naik pohon segala”. “Duduk tuh yang bener, jangan sila kayak gitu. Kamu kan perempuan”. “Bicara tuh jangan pake bahasa kasar. Masa perempuan bicaranya kayak gitu”. “Masa perempuan suka berantem”. “Jadi perempuan tuh harus bisa dandan, gimana mau ada laki-laki yang suka kalo kayak gitu?!”.

Wacana pada paragraf pertama tersebut hanya secuil dari banyaknya wacana yang ada, dan mungkin sering didengar di lingkungan masyarakat. Wacana yang menceritakan pelbagai macam aturan yang ditempelkan kepada perempuan. Di lingkungan kehidupan saya, sedari saya kecil sampai sekarang hal tersebut masih sering saya dengar.  Pada awalnya saya menganggap hal tersebut bukanlah suatu masalah, karena mungkin bagi saya hal tersebut bukanlah suatu isu yang penting untuk dibahas, dengan anggapan bahwa itu merupakan hal yang wajar dan normal. Tentang bagaimana perempuan harus ‘berlaku’, sebagaimana juga laki-laki dalam kesehariannya. Akan tetapi, beriring bertambahnya ilmu yang saya dapat, hal itu ternyata merupakan suatu bentuk ideologi. Ideologi yang dibentuk atas dasar berbagai macam ideologi yang menjadikan perempuan sebagai objek, yang menurut kajian budaya disebut sebagai femininitas.

Foucault mengibaratkan femininitas ini sebagai pendisiplinan untuk mendapatkan ‘tubuh yang patuh’. Ini merupakan suatu pembiasaan tubuh/pemaksaan tubuh terhadap tindakan yang dilakukan beserta perilaku-perilaku dalam keseharian. Salah satu bentuk aturan/pendisiplinan tubuh yang berhubungan dengen pengendalian tubuh. Pengendalian yang berhubungan dengan satu tubuh yang mengendalikan tubuh lainnya, bukan tentang setiap tubuh dapat dengan bebas melakukan apa saja menurut keinginannya. Ini adalah sebentuk kekuatan pengendalian patriarkal yang baru. Foucault yang dikutip oleh Bartky (1997) mengatakan praktik pendisiplinan ini sama seperti pengendalian siswa dan kegiatan belajarnya. Bagaimana siswa berlaku di kelas ketika belajar, kepala tegak, kaki menempel pada lantai, dan tangan di atas meja. Siswa akan terbiasa melakukan itu karena hal itu merupakan aturan pendisiplinan di sekolah tersebut.    

Foucault mengibaratkan kontrol pengendalian ini dengan metode penjara Panopticon yang dibuat oleh Jeremy Bentham’s. Panopticon dinilai sebagai sebuah bentuk penjara yang ideal. Penjara ini dibuat dengan bentuk cincin-cincin sel yang dibangun di sekitar titik pusat menara pengamatan. Di ruangan dalam menara pengamatan tersebut diberikan sebuah efek backlighting, di mana seorang pengawas dapat mengamati dari menara dengan berdiri tepat pada cahaya, dengan begitu tahanan tidak dapat melihat pengawas yang sedang mengamatinya. Tetapi sebaliknya, pengawas akan selalu dapat melihat dan mengawasi apa saja yang dilakukan oleh tahanan. Mereka tidak mengetahui siapa yang sedang mengawasi, akan tetapi para narapidana tersebut berada dalam keadaan visibilitas yang sadar bahwa mereka sedang diawasi. Sehingga menurut Bartky (1997) narapidana akan tetap merasa dirinya sedang diawasi oleh pengawas yang berada di menara, sehingga mereka akan berada dalam keadaan visibilitas yang sadar dan permanen, yang artinya adalah ketat akan kontrol disiplin tubuh sudah dan akan tertanam dalam pikiran para narapidana tersebut.

Penjara panopticon ini merupakan sebuah metafora dari pendiisiplinan perempuan atas tubuh mereka. Pendisiplinan ini tidak ada henti-hentinya, dan akan membuat perempuan terus merasa diawasi oleh bayangan femininitas terhadap tubuh yang ‘ideal’ dan ‘normal’. Sehingga, perempuan akan terus menerus merasakan kekuarangan terhadap tubuh yang mereka miliki. Dampaknya, mereka akan berusaha untuk mendisiplinkan tubuhnya untuk mendapatkan sebentuk tubuh yang ‘ideal’ atau perilaku yang ‘normal’ sesuai dengan praktik-praktik femininitas. Bahkan pendisiplinan ini akan terus berlangsung selama mereka hidup. Dengan kata lain, Bahwa perempuan akan selalu memantau tubuh mereka, mereka akan selalu merasa diawasi dan berada dalam visibilitas yang permanen mengenai itu. Sehingga, perempuan akan selalu merepresentasikan tubuhnya terhadap femininitas.

  • Femininitas

Femininitas merupakan praktik-praktik yang ditempelkan kepada tubuh perempuan. Sebagaimana yang saya paparkan sebelumnya, femininitas telah tertanam dan melekat di dalam akal perempuan, sehingga menjadikannya sebagai ‘tubuh yang patuh’. Terus menerus mengikuti perubahan, demi mencapai sesuatu yang ‘ideal’ dan ‘normal’. Bartky (1997, p. 95) mengatakan Bahwa femininitas adalah suatu kecerdasan dan prestasi, atau suatu cara dalam memberlakukan dan menghidupkan kembali norma-norma gender yang berterima. Pengertian ini mengatakan bahwa feminintas merupakan suatu kecerdasan dan prestasi, saya mengartikan bahwa perempuan akan dianggap atau dikatakan cerdas dan sebagai perempuan sempurna apabila dirinya dapat merepresentasikankan tubuhnya kepada tubuh yang ‘ideal’ dan perilaku-perilaku yang dikatakan ‘normal’ bagi perempuan. Sehingga perempuan tersebut telah mencapai dan berada dalam norma-norma gender yang berterima.   

Praktik femininitas ini memposisikan perempuan dan tubuhnya sebagai objek dari kekuatan patriarkal. Berlaku sebagai suatu pengendalian bagi perempuan dan tubuhnya untuk menjadi feminin. Sebagaimana Bartky (1997) mengatakan Bahwa femininitas adalah praktik-praktik yang menghasilkan tubuh perempuan berada dalam sikap dan perilaku yang dianggap feminin. Dia juga mengatakan praktik-praktik femininitas tersebut terbagi kepada tiga praktik, yang pertama adalah praktik mengenai tubuh yang ideal berdasarkan mode pada ‘kurun waktu tertentu’; yang kedua adalah sikap/tingkah laku, gestur tubuh, dan gerakan-gerakan yang dihasilkannya di dalam kesehariannya; dan yang terakhir adalah perempuan harus selalu tampil dan berpenampilan cantik, baik itu menggunakan make up ataupun melakukan made up.

Saya akan memaparkan satu persatu mengenai praktik-praktik femininitas tersebut.  Pertama, perempuan harus memiliki tubuh yang yang ideal berdasarkan ‘kurun waktu tertentu’. Tubuh yang ideal ini dibentuk berdasarkan ukuran dan konfigurasi yang umum, dan perempuan biasanya rela mendisiplinkan tubuhnya demi mendapatkan tubuh yang ideal tersebut. Akan tetapi nilai mengenai tubuh yang ideal ini selalu berubah dari masa ke masa. Mengenai hal tersebut, saya mendapatkan sebuah artikel dari www.lintas.me mengenai perubahan tren tubuh yang ideal dari masa ke masa. Tubuh ideal tersebut diantaranya:

  1. Renaissance Look (1400-1600)

Dikatakan Bahwa pada masa ini tubuh yang berisi menjadi acuan yang tubuh ideal di kalangan perempuan. Selain disukai perempuan, tubuh ini juga dikatakan disukai oleh para lelaki. Mode pakaian yang menjadi tren pada masa ini adalah gaun panjang berlapis-lapis dengan banyak perhiasan. Tren rambut pirang merupakan fashionalble bagi perempuan saat itu.

  1. Victorian Look (1900-1837)

Pada masa ini tubuh proporsional menjadi sebuah kunci. Dikatakan Bahwa perempuan akan berkerja keras untuk mendaatkan perut yang super rata sehingga dapat menonjolkan bagian payudara dan bokong. Di setiap penampilannya, perempuan selalu menggunakan korset untuk memperlihatkan tubuh yang tipis. Disebutkan juga keinginan untuk mendapatkan bentuk perut yang tipis ini, para perempuan rela untuk tidak makan, hanya meminum air yang ditambah cuka apel. Sehingga, pada saat ini kasus anorexia mulai dikenal untuk pertama kalinya.

 

  1. Flapper Look (1920)

Bergaya seperti laki-laki menjadi tren bagi perempuan, ini dimaksudkan untuk memberi kesan lebih berani. Tren maskulin populer pada saat itu, para perempuan berusaha sedemikian mungkin untuk tidak menonjolkan payudara dan bokongnya. Disebutkan juga Bahwa banyak juga perempuan yang menggunakan kumis palsu untuk memaksimalkan penampilannya.

 

  1. The Modest Sexpot Look (1930 – 1950)

Di tahun-tahun ini, tubuh yang kurus jarang terlihat. Dikatakan bahawasannya perempuan menginginkan bentuk tubuh yang berisi dengan lekuk tubuh yang seksi. Gaun panjang sudah lagi tidak menjadi tren, karena sudah digantikan dengan pakaian ala ibu rumah tangga yang bermotif bunga-bunga dengan celemek yang menempel.

 

  1. The Twig Look (1960 – 1970)

Tubuh yang kurus dan sangat tipis, dan bahkan lebih kurus dari perempuan di tahun 1920-an menjadi tren pada masa ini. Disebutkan Bahwa semakin kurus maka semakin baik. Bahkan pada saat ini terdapat fakta yang menyedihkan, yaitu kekurangan gizi dan anorexia semakin populer karena banyak perempuan yang ingin mengikuti tren masa ini.

 

  1. The “Bigger is Better” Look (1980)

Tubuh ideal dan sempurna pada masa ini adalah perempuan yang memiliki payudara yang besar dengan pinggang yang kecil. Olahraga di gym menjadi sangat populer bagi perempuan yang ingin memiliki bentuk tubuh yang sempurna dan ideal. Ditambah apabila ingin mendapatkan kesan bahu yang tegap, digunakan juga shoulder pads (bantalan bahu).

 

  1. Fake dan Skinny (akhir 1990 – awal 2000)

Ukuran payudara yang besar adalah tren dan ideal pada masa ini, banyak dari perempuan melakukan operasi plastik untuk mendapatkan ukuran payudara yang besar. Bukan hanya pembesaran payudara, masa ini juga sedot lemak diminati oleh perempuan, dengan pakaian yang mini dan ketat, serta gaun yang berpotongan rendah. Dikatakan Bahwa yang menjadi panutan ukuran ideal akhir tahun 90-an ini adalah Pamela Anderson.

 

  1. The Unrealistic Skinny Look (akhir 2000 – sampai sekarang)

Bentuk tubuh ideal pada masa ini dapat dikatakan tidak masuk akal. Karena bentuk tubuh yang menjadi ideal adalah yang tampil berisi di bagian payudara dan bokong, akan tetapi pada saat yang sama harus berada dalam golongan tubuh yang kurus, dengan kata lain kurus namun berisi, dan ini sangat membingungkan. Dalam artikel ini disebutkan juga ada yang merepresentasikan tubuh ideal tersebut, yaitu para Victorian Secret.

 


                Perubahan-perubahan tersebut mengindinkasikan bahwa sebenarnya tubuh yang ‘ideal’ adalah hal yang tidak pernah ajeg. Representasi tubuh yang ideal akan terus berubah seiring berubahnya jaman, dan perempuan akan terus berusaha untuk merepresentasikan dirinya terhadap tubuh yang ideal tersebut. Dari beberapa perubahan tubuh yang ideal yang telah saya paparkan, terlihat bagaimana perjuangan dan usaha perempuan untuk mencapai pengakuan bahwa dirinya adalah perempuan yang memiliki tubuh ideal. Semua yang mereka tampilkan, semata-mata hanya untuk mendapatkan pengakuan Bahwa mereka adalah perempuan yang ideal. Dengan begitu, perempuan akan selalu mengikuti tren, meskipun terkadang semua itu dapat menyakiti mereka. Seperti contoh kasus anorexia tadi, mereka berjuang mati-matian untuk memiliki perut yang rata ataupun kurus dengan berbagai cara, menggunakan cuka apel ataupun tidak makan sama sekali. Bahkan dewasa kini tercipta berbagai macam produk yang mendukung untuk mendapatkan tubuh yang langsing, seperti kozui infra merah slimming suit, atau juga kedokteran yang menyediakan jasa penyedotan lemak. Obat-obatan pelangsing tubuh, suntik silikon, catering-catering dengan program-program dietnya, dan masih banyak lagi praktik yang mendukung praktik femininitas.

Praktik femininitas yang kedua adalah sikap/tingkah laku, gestur tubuh, dan gerakan-gerakan yang dihasilkan di dalam keseharian perempuan. Praktik femininitas ini memberikan batas kepada sikap dan tingkah laku perempuan. Seperti contoh di lingkungan saya, perempuan sangat dibatasi sikap dan tingkah lakunya, seperti wacana yang diungkapkan pada awal tulisan ini. Bahwa perempuan dilarang banyak kelayapan ke luar rumah, mereka direpresentasikan sebagai makhluk domestik, yang hanya berkegiatan di dalam rumah saja dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci baju, mencuci piring, belajar memasak dan bahkan mengurus anak-anak. Mereka juga dilarang melakukan hal-hal yang dianggap tidak lembut sedari kecil seperti naik pohon, bertengkar, bermain sepeda, dan lain-lain. Tata cara bertutur juga harus sangat dijaga. Di lingkungan saya sebagai orang Sunda, seorang anak perempuan dilarang berbicara dengan bahasa yang kasar, berbeda dengan anak laki-laki. Bahkan apabila sudah menikah, ketika terjadi pertengkaran di dalam rumah tangga, perempuan tidak boleh memanggil dengan kata manéh kepada suami, meskipun si istri tersebut dalam keadaan sangat marah, berbeda dengan laki-laki yang sebaliknya. Begitupun di dalam iklan produk-produk yang saya lihat di televisi Indonesia, bagi produk-produk yang berhubungan dengan kegiatan domestik, perempuanlah yang menjadi pemeran utama iklan tersebut, seperti iklan sabun pencuci piring sunlight, iklan detergen, iklan popok bayi, dan iklan minyak goreng.

Gerakan-gerakan perempuan juga sangat dibatasi tubuhnya. Kembali, di lingkungan saya gerakan-gerakan atau gestur tubuh perempuan dan laki-laki begitu dibedakan, contohnya dari tata cara duduk. Ketika duduk dengan lesehan, perempuan dibatasi hanya boleh duduk dengan cara émok, yaitu cara duduk dengan menindihkan paha satu ke paha yang lainnya, atau juga dengan cara duduk yang lain asalkan tidak membuka lebar selangkangan. Selain daripada itu, secara lebih luas, sekarang dengan berkembangnya media maka gestur perempuan lebih mudah untuk dibatasi. Iklan memberikan pesan Bahwa gestur perempuan haruslah lembut, dari cara berjalan, cara duduk. Dalam fotografi juga seperti itu, lebih jelasnya dapat melihat foto-foto pada bagian sebelumnnya yang membahas mengenai bentuk femininitas yang pertama mengenai tubuh yang ideal. Bagaimana hubungan perempuan dengan domestiknya, dan gestur tubuhnya yang manja yang identik dengan gerakan-gerakan/gestur tubuh yang lembut dan berideologi seksis.

Ketiga adalah, perempuan diharuskan untuk selalu tampil dan berpenampilan cantik. Praktik ini berhubungan dengan wajah, kulit, dan pakaian yang digunakannya. Agar terlihat cantik wajah perempuan harus ‘diserang’ dengan berbagai macam produk kosmetik, begitu pula dengan kulitnya yang harus putih , mulus, dan lain sebagainya. Bantuan media dengan gempuran iklan dan hiburannya telah menghegemonikan konstruksi femininitas. Berbagai macam produk kosmetik semakin bertambah dan berkembang dengan pesat seiring dengan pelbagai isu mengenai permasalahan wajah bagi perempuan. Sekarang, di Indonesia industri kosmetik tumbuh subur, dan ragamnya bermacam-macam. Beberapa produk kosmetik yang saya ketahui adalah ponds, nivea, citra, martha tilaar, olay,mustika ratu, oriflame, sopie paris, dan mungkin masih banyak lagi, dan itu di luar pengetahuan saya. Bahkan demi mendapatkan pasar di Indonesia, banyak yang mengatasnamakan lokalitas dengan produknya yang bersifat herbal, dan ada juga dengan menggembor-gemborkan agama Islam dengan sertifikat halalnya. Klinik-klinik perawatan juga hadir sebagai cara agar perempuan menghilangkan permasalahan-permasalahan wajah dan kulit. Contohnya klinik vidiz di Bandung, saya sering mengantar Ibu untuk ke klinik tersebut, ternyata dari sekian kali berkunjung ke sana, kebanyakan pasien-pasien yang datang berkunjung untuk berkonsultasi adalah perempuan.

Begitu pula dengan pakaian, wajah yang cantik akan selalu dibarengi dengan pakaian yang bagus dan mengikuti tren terbaru. Berbagai macam mode baju selalu berubah dari masa ke masa. Salahsatuya mengenai produk sophie paris (saya mengetahui karena pacar saya member sophie paris), katalog produknya selalu berganti di setiap bulannya, beriring dengannya produk-produk yang ada di dalam katalog tersebut ikut berganti. Begitulah media massa telah mengonstruksi praktik femininitas, di samping itu pelbagai wacana di lingkungan saya seakan memperkuat konstruksi femininitas tersebut. Di lingkungan saya, perempuan harus bisa dandan, harus tampil cantik, dengan tujuan, agar dilirik dan dipilih oleh laki-laki.

Banyak sekali praktik-praktik dengan berbagai macam ideologi yang ditempelkan kepada perempuan, praktik-praktik femininitas yang selalu membayangi dan menghantui tubuh perempuan. Perempuan dijadikan objek dalam kekuatan patriarkal dengan praktik kefemininitasannya. Pakaian yang perempuan pakai, gerakan, postur tubuh yang ditampilkan serta kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan semata-mata hanya ingin mendapatkan pengakuan bahwa mereka adalah perempuan ideal. Begitu juga ketika mereka membaca majalah fashion, pada bagian itu mereka berusaha untuk meniru mode-mode yang disajikan dalam majalah tersebut. Peniruan tersebut dilakukan untuk menampilkan sisi kefeminisan mereka. Bahkan hal-hal tersebut dapat menyakiti mereka, dengan berbagai macam produk kosmetik yang menyerang tubuh mereka, berbagai macam upaya untuk memiliki tubuh yang ideal, juga berbagai macam usaha agar selalu mengikuti mode terbaru. Mereka sendiri yang mendisiplinkan tubuh mereka karena tidak berada dalam lingkaran ideal dan normal.

Praktik-praktik femininitas terhadap perempuan yang ditampilkan oleh media massa dan budaya saya telah menjadikan persepsi Bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah. Lemah lembut dan gestur yang gemulai tersebut memposisikan perempuan dalam inferioritas, berlawanan dengan oposisinya maskulinitas laki-laki yang merasakan berada dalam posisi superioritas, karena praktik-praktiknya berhubungan dengan kekuatan. Maka bagi perempuan, untuk mendapatkan kesetaraan dengan laki-laki, mereka harus melakukan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh laki-laki, baik itu dalam praktik-praktik sosial, budaya, dan ekonominya. Akan tetapi hal tersebut tidaklah mudah. Apabila ada perempuan yang melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki, perempuan tersebut akan dianggap sebagai perempuan yang hebat sebagai seorang perempuan. Seperti sebuah program televisi olahrga ekstrim yang pernah saya tonton yaitu Xgames di channel NETtv. Kebanyakan yang melakukan olahraga ini adalah laki-laki, suatu waktu terdapat atlet yang berjenis kelamin perempuan, dan mereka melakukan trik-trik yang bagus, akan tetapi pembawa acara tersebut mengatakan bahwa hal yang dilakukan perempuan tersebut adalah sesuatu yang hebat bagi seorang yang berjenis kelamin perempuan.

Apapun yang dilakukan perempuan untuk mencapai kesetaraan dengan laki-laki adalah seperti peribahasa bagaikan pungguk merindukan bulan. Sekeras apapun perempuan berusaha untuk mencapai kesetaraan dengan laki-laki, dengan mudahnya laki-laki membantah usaha perempuan tersebut seperti contoh yang dikatakan oleh pembawa acara Xgames yang dibahas pada paragraf sebelumnya. Maka praktik gender femininitas adalah salah satu yang dijadikan isu dalam feminis, bagaimana ketimpangan, ketidakseimbangan, dan ketidakadilan dalam memposisikan manusia. Begitu pula Bartky  (1997, p. 95) menyatakan Bahwa “kita dilahirkan laki-laki atau perempuan, bukannya maskulin ataupun feminin”.    

  • Femininitas Baru

Pada awalnya saya bingung melihat judul dari jurnal yang ditulis oleh Anthea Taylor yang berjudul “What’s About ‘the New Femininity?’ Feminism, Femininity, and the Discourse of the New”. Saya menengarai, ini merupakan suatu bentuk opresi baru dari kekuatan patriarkal tentang femininitas, sehingga hadir kata femininitas baru. Akan tetapi, setelah membaca isi jurnalnya, menurut Taylor (2003, p. 182) pengertian mengenai ‘baru’ dalam ‘femininitas baru’ ini megacu kepada pergeseran sosial perempuan berpindah sebagai subjek. Di mana perempuan pada saat ini usah mempermasalahkan praktik-praktik femininitas yang menjadikan dirinya sebagai objek, melainkan perempuan harus memposisikan dirinya sebagai subjek dalam femininitas tersebut. Dengan kata lain, perempuan tidak harus memperjuangkan mati-matian dalam mencapai kesetaraan dengan laki-laki dengan pelbagai praktik-praktik femininitas.

Dalam femininitas baru, praktik femininitas tersebut dijadikan suatu bentuk perlawanan terhadap sistem patriarki. Tantangan/perlawanan terhadap kekuasaan dan sistem patriarki dilakukan dengan memperlihatkan sisi kefeminiman perempuan. Hal ini mungkin menentang para feminis yang berusa mendapatkan kesejajaran dengan laki-laki, dengan cara meniru praktik-praktik maskulinitas laki-laki. Baik itu dari segi sosial, budaya, maupun ekonomi. Femininitas baru mengajak perempuan untuk menikmati praktik femininitas ini dengan menjadikan dirinya sebagai subjek, bukan menjadikan dirinya sebagai objek dari praktik-praktik femininitas yang ada.

Rosemary Hennesy, yang dikutip oleh Taylor (2003, p. 183) mengatakan bahwa feminitas baru merupakan tantangan yang merupakan oposisional wacana yang dapat mengganggu imajiner kekuasaan dari patriarki. Femininitas baru ini dikenalkan di dalam artikel ‘Girlie Power’ yang berada dalam surat kabar The Sun Herald dari Sydney. Dalam artikel Girlie Power, femininitas direpresentasikan sebagai suatu bentuk kebebasan. Ini artinya, femininitas tidak lagi dianggap sebagai suatu kungkungan yang selalu dan harus dilakukan oleh perempuan. Menjadi cantik dan lemah lembut bukanlah dianggap sebagai bentuk kelemahan, akan tetapi hal tersebut harus dijadikan sebagai kekuatan bagi perempuan.

Berbagai praktik pendisiplinan tubuh yang ada di dalam femininitas yang disebutkan oleh Bartky (1997) tidak lagi dianggap sebagai pendisiplinan yang menyakiti perempuan. Gerakan yang lembut dengan gestur yang feminin bukan lagi dianggap sebagai pembatasan, perempuan tidak lagi harus merasakan pembatasan di dalam ruang gerak pada diri mereka. Akan tetapi, perempuan dapat merasakan dan menikmati gerakan-gerakan tersebut sebagai ‘perempuan’. Mereka juga dapat melakukan diet tanpa ada tujuan mencapai sebuah prestasi untuk mengikuti konfigurasi ukuran tubuh secara umum, yang dianggap sebagai ukuran tubuh yang normal. Kini hasil diet itu dapat dinikmati sebagai sebuah bentuk kepuasan, seperti bentuk kepuasan ketika mereka berpakaian karena mereka akan merasa pantas ketika menggunakan pakaian tersebut. Begitu juga dengan balutan busana, berbagai tata rias, serta berbagai ornamen dan pernak-pernik yang mendukung agar perempuan terlihat lebih cantik. Femininitas baru mengatakan Bahwa perempuan harus dapat menampilkan kekuatan melalui kelembutan dan kecantikan mereka. Sehingga tidak lagi harus meniru maskuliitas untuk mendapatkan kesejajaran.    

Praktik-praktik pendisiplinan bukan lagi menjadi sebuah bentuk pendisiplinan yang menyakiti perempuan. Perempuan melakukan banyak hal didasarkan kepada kesadaran sendiri, karena femininitas baru menganggap femininitas bukan lagi suatu kungkungan yang harus dilakukan oleh mereka. Berbuat atas kesadaran diri adalah memposisikan perempuan sebagai objek. Seperti yang telah saya paparkan sebelumnya mengenai diet yang dilakukan, begitu juga pakaian yang digunakan. Pada femininitas baru ini, perempuan diarahkan untuk dapat ‘menikmati tubuhnya’, maksudnya perempuan bebas melakukan apa saja terhadap tubuhnya sesuai keinginan dan kesadarannya sendiri. Hal yang dilakukan perempuan bukan lagi didasarkan atas praktik-praktik femininitas yang memposisiskan sebagai objek, melainkan mereka melakukan berbagai macam hal didasarkan pada dirinya sendiri, sehingga mereka berperan dan berada di posisi sebagai subjek. Artikel A Vogue yang dikutip oleh Susan Hopkins yang berjudul “The Politics of Pretty: Feminine vs. Femininity” menyebutkan bahwa perempuan memperlihatkan kepercayaan diri yang merangkul ornamen femininitas, (Taylor, 2003, p. 189). Perempuan diarahkan untuk percaya diri terhadap dirinya sendiri, tubuhnya, dan terhadap hal-hal yang dilakukannya.

  • Femininitas dan Femininitas Baru

Pemaparan mengenai femininitas dan femininitas baru membuat saya mengetahui bahwa terdapat perbedaan di antara keduanya. Pada poin ini saya akan membahas mengenai perbedaan antara femininitas dan femininitas baru. Karena dengan melihat perbedaan ini maka akan diketahui bagaimana proses kerja perempuan dan tubuhnya. Perbedaan antara femininitas dan femininitas baru adalah; pertama, di dalam femininitas, perempuan merepresentasikan dirinya kepada femininitas (tubuh) yang ideal untuk dapat menjadi perempuan. Dengan kata lain, perempuan selalu berusaha untuk menjadi perempuan yang ideal berdasarkan praktik-praktik pendisiplinan tubuh (yang sudah saya paparkan pada poin-poin sebelumnya). Tetapi dalam femininitas baru, menurut Taylor (2003) perempuan merepresentasikan dirinya berdasarkan keinginannya sendiri. Perempuan yang tampil sebagai feminin bukanlah berarti sekedar ingin mendapatkan pengakuan sebagai perempuan yang ideal, melainkan menjadi feminin yang mereka lakukan adalah ekspresi dari diri mereka sendiri yang ingin ditampilkan di ranah publik.

Kedua, fashion bagi femininitas adalah sesuatu yang dikodifikasikan melalui bentuk budaya konsumen, seperti motif pakaian yang berbunga-bunga dengan renda-renda, aksesoris dan lain-lain yang menempel pada pakaian di tubuh perempuan tersebut. Sehingga ketika perempuan membaca majalah fashion, perempuan akan berusaha untuk meniru mode yang ditampilkan dalam majalah tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan kefemininitasan untuk ditampilkan. Maka tren akan selalu diikuti oleh perempuan, walaupun hal tersebut terkadang menyakiti mereka sendiri. Lain halnya dengan femininitas baru, Taylor (2003) menyatakan Bahwa femininitas baru tidak memiliki bentuk fashion yang baru, akan tetapi mereka memiliki fashion yang mereka gunakan. Dalam menampilkan sisi femininin mereka memiliki mode tersendiri, dan mode tersebut merupakan hal yang menjadikan mereka lebih nyaman ketika menggunakannya.

Ketiga, dalam femininitas “teori feminis dianggap sebagai tampilan femininitas untuk meredakan ketakutan kekuatan patriarkal tentang kehadiran perempuan di ranah publik”, Joan Rivers (dikutip oleh Taylor, 2003). Teori feminis dijadikan sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya patriarkal. Sedangkan Taylor, mengatakan Bahwa femininitas baru menganggap perempuan tidak ada bedanya dengan laki-laki, perempuan adalah setara dengan laki-laki. Sehingga teori feminis tersebut oleh femininitas baru tidak lagi dijadikan bentuk perlawanan terhadap budaya patriarkal. Femininitas baru juga merepresentasikan fashion yang digunakan oleh perempuan bukan ditujukan untuk menentang maskulinitas, melainkan merupakan citra dari diri mereka sendiri. Bagi femininitas baru untuk menyampaikan perlawanan, perempuan tidak harus berperilaku ataupun berpenampilan layaknya laki-laki. Dewasa kini perempuan dapat bekerja di kantoran dengan menggunakan rok dan mereka masih memiliki sisi kefemininam mereka. Pembatasan-pembatasan gerak tubuh dan gestur perempuan juga merupakan kekuatan bagi mereka, inilah yang menjadikan mereka berbeda dan merupakan kekuatan sebaga perempuan.

Femininitas kini harus dianggap sebagai suatu bentuk kenyamanan perempuan dalam mengekpresikan dirinya. Berbagai praktik yang ditempelkan kepada perempuan dan tubuhnya bukan lagi dianggap sebagai bentuk penyiksaan kepada mereka, melainkan hal tersebut diharapkan menjadi sebuah kenikmatan perempuan untuk bereksplorasi terhadap tubuhnya, ini yang dikatakan Taylor sebagai ‘menikmati tubuhnya’. Maka bagi Taylor (2003) citra femininitas harus dipulihkan, tidak lagi boleh diremehkan, dan menjadikan investasi feminis menjadi suatu aktivitas yang legal. Dalam mendapatkan kesejajaran dengan laki-laki, peempuan tidak harus memaksakan dirinya untuk menjadi seperti laki-laki, karena perempuan memiliki kekuatan yang berbeda dengan kekuatan yang dimiliki oleh laki-laki.

 

Daftar Bacaan

Bartky, S. L. (1997). “Foucault, Femininity, and the Modernization of Patriarchal Power”. Feminist Social Thought: A reader, Routledge, pp. 93-111.

Taylor, A. (2003). “What’s New about ‘the New Femininity’ Feminism, Femininity, and the Discourse of the New”. Hecate, Vol 23(2), pp, 182-198.

www.lintas.me/woman/beauty/editor/perubahan-tren-bentuk-tubuh-ideal-dari-masa-ke-masa

 

Karya : Gian Nova Sudrajat Nur