Kusebut dirimu, embun.

Kusebut dirimu, embun.

Ganang Hadi Prasetyo
Karya Ganang Hadi Prasetyo Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Mei 2018
Kusebut dirimu, embun.

Pada kehidupan seorang pecundang. Yang kosong dari bisik lembut suara harapan, berteman senyap abadi yang keras kepala tak mau pergi. Engkau datang tanpa permisi, tanpa mengetuk engkau tergesa-gesa masuk.
Sipecundang lantas tertegun, ada tamu yang sudi melangkah masuk pada gubuk reot yang sudah lama tak diziarahi. Kau datang kenalkan terang lewat mimpi-mimpi yang kau bawa masuk. Kau sampaikan padanya bahwa kehidupan bukan tentang siapa kita bermula, bahwa menjadi siapa kita pada akhirnya. Si pecundang lantas terkagum dengan kesederhanaan dan keindahan yang kau sampaikan. Perlahan dia mulai mengenal mimpi, lambat laun dia memimpikan sesuatu tentang sebuah masa depan bahagia dan engkau ada didalamnya. Namun seperti embun, kau datang mengisi pagi dengan sejuk yang kau bawa, namun hanya sanggup bertahan beberapa detik sebelum fajar tiba. Kau pergi dan hilang tersapu udara yang beranjak siang. Sama seperti saat kau datang, hilangmu pun sama membuatnya terkejut. Pada tiap pagi sipecundang keluar dari gubuk reotnya, berharap bisa temukan embun yang pernah buat dia mengenal warna dalam hidupnya, tinggalkan gelap dan kesenyapan yang hanya ada dalam gubuk tua. Puluhan musim dia lewati dan dia tetap mencarimu, bertanya pada langit atau dedaunan, kau tak ada. Hingga pada suatu masa dia temukan kamu pada persimpangan jalan, dia masih melihatmu seperti dahulu, penuh warna dan benderang. Pecundang bilang "kemana saja selama ini? kenapa tak tinggal dan menetap saja, temaniku dan bermimpi bersama". Engkau berkata,"kau bilang aku embun, maka adaku singkat untukmu. Aku tak bisa berlama-lama bersamamu, sebab aku bukan milikmu, aku milik pagi". Ditemani rindu yang selama ini menguatkannya, sipecundang mencoba bertahan, butuh beberapa waktu sebelum ia mampu menjawab, "Maka pergilah bersama pagimu, setelah ini aku takkan mencarimu lagi. Terimakasih sudah hadir pada tiap fajarku, dengan terang yang kau bawa bersamamu, dengan sejuk yang ada pada tiap hadirmu."
Sipecundang pun kembali pada gubuk reot miliknya, dengan kepergianmu dia mungkin patah hati, tapi dengannya dia semakin tangguh dan tak lagi mengeluh. Dan dengan mimpi yang kau ajarakan, setidaknya ada alasan untuk apa dia hidup.

  • view 47