Hilang Kendali

Ghinan Rhinda Dewi Aini
Karya Ghinan Rhinda Dewi Aini Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Juli 2016
Hilang Kendali

Hhhhh..... Aku menjatuhkan tubuhku ke atas ranjang tidurku. Kini kornea mataku menatap lurus ke atas, terbatas. Langit-langit kamarku membatasi penglihatanku dengan langit yang sebenarnya. Tak ada taburan bintang, tak ada cahaya purnama. Hanya ada lampu neon yang menyala. Aku menatapnya, ia juga seperti sedang menatapku. Ada banyak pikiran yang berputar-putar di kepalaku. Tapi semuanya berotasi pada satu nama, satu rupa dan satu aroma. Kamu.

Kuputar pandanganku ke arah handphone yang beberapa menit yang lalu menyala. Memberitahuku bahwa ada pesan masuk lewat BBM.

Tahan, Saffa, tahan! Kamu pasti bisa mengabaikan pesan itu, kamu pasti bisa mengabaikannya.

Kualihkan perhatianku pada jendela kamarku, aku bisa menikmati hujan menjaring bumi. Serdadu itu dijatuhkan langit tanpa ampun. Aku tertawa. Entah menertawakan hujan atau diriku sendiri. Kupikir, hujan dan aku sama-sama bodoh. Hujan mencintai langit tanpa pernah menaruh curiga bahwa langit bisa kapan saja menjatuhkannya, seperti aku yang mencintaimu tanpa pernah menaruh curiga bahwa kau bisa mematahkan hatiku kapan saja. Sudah tau begitu, kami masih saja mau kembali. Masih saja mau mencintai.

Aku mendengus, kesal. Kesal pada diriku sendiri. Kenapa aku harus segelisah ini? Kenapa hanya karena satu pesan aku harus merasa segusar ini? Kutarik nafas sedalam yang aku bisa. Aku tak tahan lagi. Kini handphoneku sudah ada dalam genggamanku, tak ada lagi yang bisa menghalangiku. Aku harus membuka pesan ini. Toh, aku hanya penasaran saja alpa isi pesannya. Hanya itu. Tidak lebih.

"Assalaamu'alaykum..", bibirku begitu saja tersenyum, padahal aku tidak pernah merasa otakku menyuruhnya tersenyum, lebar. Sekarang mataku yang berbinar. Setengah detik kemudian dadaku yang berdebar. Ah, ini bukan salahku. Mereka semua bergerak tanpa pernah aku suruh. Sungguh!

Jangan dibalas, Saffa! Ini terlalu beresiko!

Ah, tapi kan hanya dibalas seperlunya saja tak apa! Lagi pula, menjawab salam itu hukumnya wajib. Ya, aku membalas hanya sebatas menggugurkan kewajibanku sebagai seorang muslim. Hanya itu. Tidak lebih.

"Wa'alaykumussalaam..", pesan terikirim. Jantungku berdetak semakin cepat, lebih cepat dari biasanya. Ah, debar ini masih sama.

"Apa kabar, Saffa? Lama ya gak ngobrol. Kuliahnya gimana? Lancar?", sekarang, segala jenis kupu-kupu seperti sedang berterbangan di dadaku, berpindah dari satu bunga ke bunga yang lainnya. Jantungku benar-benar hilang kendali.

Sadar, Saffa! Basa-basi macam itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Sama sekali tak memiliki arti! Kemudikan perasaanmu sebelum ia hilang kendali!

Aku menggeleng. Apa salahnya saling bertukar kabar? Kurasa wajar saja. Tak ada yang berlebihan. Menyambungkan tali silaturahmi itu kan sangat dianjurkan agama, bahkan wajib. Kumohon, hanya malam ini saja biarkan aku menikmati semua ini. Biarkan rindu-rinduku kembali pada tuannya, setelah sekian lama mereka luntang-lantung seperti anak yatim piatu. Aku yakin Tuhan akan mengerti, Ibu pun pasti akan memaklumi. Aku hanya ingin menjalin silaturahmi. Hanya itu. Tidak lebih.

Kubalas pesan darimu dengan segenap perasaan yang entah. Baru saja suara notifikasi BBMku berbunyi setengah jalan, aku sudah buru-buru meraihnya dan membuka pesanmu. Tak kualihkan perhatianku dari layar kotak panjang ini. Aku tak ingin membuatmu menunggu lama. Rasanya, malam ini aku ingin terus terjaga. Aku tak ingin kehabisan malam. Aku tak ingin kecolongan karena aku terlelap. Aku tak ingin tiba-tiba pagi. Aku takut ini hanya mimpi. Aku takut besok pagi ketika aku bangun, semua percakapan kita malam ini ternyata tak ada di layar handphoneku. Aku, takut kehilanganmu. Lagi.

Aku masih terjaga memandangi layar handphoneku. Kutekan tombol pembuka kunci, masih belum ada balasan darimu. Aku masih betah menunggu. Kutekan sekali lagi, kau masih belum membalas pesan terakhirku. Aku tertawa dalam hati. Konyol sekali aku ini. Sudah jelas-jelas tak ada suara notifikasi, masih saja aku penasaran dan merasa perlu memeriksa. Beginilah aku padamu, Dimas. Aku selalu berusaha mencari kemungkinan tentangmu, sekecil apapun itu, aku tak akan sanggup menyia-nyiakannya. Beginilah aku padamu, Dimas. Selalu tampak tak berdaya dan menyedihkan. Bagaimana? kau puas?

Seketika seperti ada petir menyambar kepalaku. Dan itu membuat otakku kembali berfungsi. Benar, sepertinya sejak kubaca pesan pertamamu, otakku berhenti berfungsi. Aku seperti kehilangan kendali. Tanpa sadar kujatuhkan hatiku lagi.

Benteng yang sejak lama aku bangun sedemikian rupa di muka pintu hatiku, runtuh begitu saja dengan satu ketukan tanganmu. Parahnya, aku kembali luluh saat kau mengucap salam. Sial! Bisa-bisanya aku kembali jatuh hanya dengan satu doa; assalaamu'alaykum. Sedangkan aku, setiap malam aku bersimpuh, mengidungkan semua doa yang aku hafal, demi untuk memintamu. Tapi kamu tak kunjung jatuh ke dalam jebakan doaku.

Jadi, mantra apa yang kau gunakan untuk mengendalikan hati dan diriku? Sehingga aku selalu tiba-tiba tak berdaya di hadapanmu. Semua janji aku ingkari, semua ikrar aku khianati, hanya karenamu.

Aku tak lagi memandangi layar handphoneku. Aku sungguh kesal pada diriku sendiri. Aku menangis, memaki perbuatanku tadi. Di mana aku taruh harga diriku sebagai seorang wanita? Kutatap jendela kamarku sekali lagi, hujan belum benar-benar reda. Sisa-sisa tetes hujan itu mengantarkanku ke dalam kegelapan. Semakin lama semakin gelap. Dan aku sudah terlelap. Dengan mata yang sembab.

***

Malam sudah bertukar ranjang dengan fajar. Pagi-pagi sekali aku sudah repot merapikan perasaanku yang berserakan. Tuhan, aku malu sekali. Kubilang padaMu aku ingin menjadi wanita terhormat dengan menjaga diri dan hati. Tapi lagi-lagi aku lalai menjaga hati. Aku abai menjaga kehormatan diri.

Suara notifikasi BBMku berbunyi, memecahkan lamunanku. Kulirik ragu layar handphoneku, ada namamu di sana. Hhhh, aku menarik nafas. Bismillaahirrahmaanirrahiim, aku harus kuat. Aku harus istiqamah dengan keputusan yang aku pilih. Ada amanah Tuhan, kepercayaan Ibu, dan perasaan para lelaki yang ingin melamarku yang ikut aku libatkan di sini.

Sudah kuputuskan tak akan kubalas pesan darimu, Dim. Bukan aku membencimu, sama sekali tak ada amarah untukmu, hanya saja, selama tak ada kepastian yang bisa kamu berikan padaku, aku tak ingin mengizinkanmu masuk lagi. Itu terlalu beresiko, hatiku terlalu rapuh. Nanti, kamu jatuh, dan aku yang percucuran peluh.

Maafkan aku mengabaikanmu, aku hanya tak ingin merepotkanmu dengan perasaanku yang semakin sulit kukendalikan. Aku takut kau kemari hanya ingin singgah, hanya ingin istirahat sebelum kamu melanjutkan perjalananmu. Bukan aku takut kamu pergi, justru aku khawatir pada diriku sendiri. Aku takut aku memaksamu tinggal, dan itu malah membebanimu. Aku takut kau direpotkan dengan rindu-rinduku yang selalu menuntut pertemuan. Bahkan terkadang mereka tak tahu waktu, bagaimana jika tengah malam hujan deras mereka merengek minta kau kunjungi? Aku yakin itu hanya akan membuatmu kesal.

Dim, sejujurnya ini berat untukku. Menahan diri untuk tak membalas pesanmu sungguh membuatku tersiksa. Tapi membiarkanmu masuk ke dalam hatiku tanpa kepastian kau tak akan pergi juga hanya membuat sesak di dada. Jadi, maafkan aku...

Aku bukan akan melupakanmu. Karena aku tahu, melupakan hanya akan menghidupkan kenangan-kenangan. Aku sadar aku tak akan pernah benar-benar bisa lupa pada sesuatu. Makanya aku lebih memilih tidak mengingat-ingat, daripada melupakan. Aku hanya ingin menjadikan Tuhan sebagai tumpuan segenap perasaan. Aku hanya ingin mengikuti gravitasi hati tanpa harus diperbudak perasaan. Hanya itu. Tidak lebih.

.

Bandung, 17 Juli 2016, 00.01am

Ghinan Rhinda