Wandi, Ini Teh Inan

Ghinan Rhinda Dewi Aini
Karya Ghinan Rhinda Dewi Aini Kategori Inspiratif
dipublikasikan 14 Juli 2016
Wandi, Ini Teh Inan

Delapan belas Juni 2012 adalah hari yang sangat bersejarah bagiku. Hari di mana Tuhan memberiku kesempatan untuk mewujudkan salah satu impian besarku; yaitu mendirikan sanggar anak jalanan yang kuberi nama 'Rumah Pelangi'. Itu berarti, sudah lebih dari empat tahun aku bergelut di dunia anak jalanan; terminal, lampu merah, supir angkutan umum, pedagang kaki lima, pedagang asongan, pengemis, preman, bahkan Pekerja Seks Komersial.

Tentu saja, perjuanganku untuk mendirikan Rumah Pelangi, terlebih mempertahankannya sungguh tak mudah. Jatuh-bangun aku mempertahankan, babak belur aku memperjuangkan. Bukan hanya fisik, terkadang hati juga merasa kepayahan. Tapi, bukan ini yang akan kuceritakan sekarang, mungkin lain kali akan kuceritakan bagaimana setiap proses yang harus aku lewati untuk bertahan, berpijak pada impian yang telah kita bangun.

Masuk ke dalam dunia jalanan seperti masuk pada cerita-cerita yang selama ini hanya aku tonton di layar televisi. Kadang aku menggeleng tak percaya, bagaimana mungkin cerita-cerita penuh kegetiran dan penderitaan itu adalah nyata. Bahkan ada di depan mata.

Kupikir, anak-anak dieksploitasi untuk kepentingan orang-orang tertentu itu hanya ada di dalam berita. Kupikir, seorang anak harus kehilangan Ibunya yang sedang sakit parah karna ditolak Rumah Sakit gara-gara tak punya biaya itu hanya fiktif belaka. Kupikir, seseorang harus kehilangan nyawa karna kelaparan itu hanya cerita yang mengada-ada. Tapi aku harus terpaksa membuka mata, bahwa semua itu nyata. Benar-benar tanpa ampun menyiksa hati nuraniku sebagai manusia.

Diantara semua anak yang ingin kuceritakan kisahnya, adalah Wandi yang ingin kuceritakan lebih dulu. Aku bertemu Wandi tiga tahun delapan bulan yang lalu di terminal Leuwi Panjang. Aku tidak mengarang, benar-benar tepat tiga tahun delapan bulan yang lalu. Karna aku punya kebiasaan mencatat setiap pertemuan pertama dengan anak-anak asuhku di Rumah Pelangi-walaupun tidak semuanya, tapi pertemuan dengan Wandi adalah salah satunya-. Wandi berasal dari Ciamis, Jawa Barat. Jauh, ya? Jangan kaget, bahkan ada beberapa anak yang 'terdampar' di sini berasal dari luar Jawa Barat. Akan kuceritakan setelah ini kenapa Wandi bisa merantau ke Bandung.

Diantara kurang lebih lima puluh anak yang aku dan kawan-kawan asuh di Terminal Leuwi Panjang, sekitar lima puluh persennya adalah anak-anak yang kecanduan menghisap lem--aku yakin kebiasaan ini sudah tidak asing lagi kita lihat pada anak-anak jalanan--. Dan diantara yang lima puluh persen itu, Wandi adalah salah satunya. Bahkan dia termasuk anak yang paling parah kecanduan lemnya. Bagaimana tidak? Dia mulai mencoba menghisap lem sejak umur tiga tahun. Dan saat aku bertemu dengan Wandi, dia sudah berumur enam belas tahun; secara angka kami seumuran, tapi secara jiwa kami sungguh jauh berbeda. Sampai sekarang, aku masih ingin mengutuk siapapun yang membiarkan anak sekecil itu menghisap lem. Apalagi ketika aku tahu, awal pertama Wandi menghisap lem itu adalah sengaja disodorkan oleh salah satu preman di tempat Wandi kecil tinggal saat itu. Menurutku itu adalah termasuk tindak kriminal yang paling kriminal. Karena itu adalah awal dari rusaknya hidup Wandi, gelapnya masa depan Wandi. Kalau aku adalah Tuhan, tak akan kumaafkan siapapun yang melakukan hal semacam itu. Bahkan mungkin akan langsung kusambar dia dengan petir. Tapi Tuhan selalu Maha Bijaksana. Dan untungnya aku hanya manusia biasa, yang tak ada hak melampaui Tuhan; jika Tuhan saja yang bisa melakukan apapun tetap Maha Pemaaf, apa hakku yang hanya manusia biasa menghakimi manusia lainnya tanpa basa-basi dan toleransi.

Maaf tadi aku emosi, karena berbicara tentang kemanusiaan terutama yang menyangkut hak anak-anak yang dirampas selalu membuatku naik darah dan ingin marah. Kau bayangkan saja, sudah serusak apa otak seorang anak yang menghisap lem selama tiga belas tahun? Kalau kita hitung sampai sekarang berarti sudah tujuh belas tahun hidup Wandi tergantung pada lem.

Bukan hanya Wandi yang hidupnya berantakan gara-gara lem. Seperti yang sudah kujelaskan, ada sekitar dua puluh empat anak lagi yang hidupnya rusak gara-gara lem. Alasan mereka ngelem  itu beda-beda. Ada yang seperi Wandi, dijerumuskan. Ada yang hanya coba-coba dan ikut-ikutan. Tapi yang paling dominan dan membuatku menangis, alasan mereka ngelem adalah untuk menahan lapar. Logikanya, seandainya mereka hanya punya uang tiga ribu rupiah, kalau dibelikan makanan, mereka hanya dapat tiga potong roti, dan itu hanya bisa menahan rasa lapar mereka selama beberapa jam saja. Tapi jika uang tiga ribu rupiah tadi mereka belikan lem, mereka bisa menahan lapar seharian penuh. Karna lem itu punya efek memabukkan; membuat melayang dan lupa pada apapun--termasuk rasa lapar--.

Sebetulnya kalau dicari siapa yang salah, tidak akan pernah ada habisnya. Bahkan kalau aku terus menelusuri, pada akhirnya di ujung pencarian aku menunjuk diriku sendiri sebagai tersangka. Bukankah setiap dari kita adalah saudara? Dan seorang saudara pada saudara yang lainnya punya hak dan kewajiban yang harus dipenuhi. Bukankah tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri?

Jadi aku sudah memutuskan sejak lama untuk tidak mengutuk kegelapan, tapi aku lebih memilih menyalakan cahaya sekecil apapun itu. Dan Wandi adalah salah satu cahaya yang ingin aku nyalakan.

Jika anak-anak yang lain lebih mudah aku raih, tidak dengan Wandi. Jika anak-anak yang lain sudah mau belajar, tidak dengan Wandi. Dia selalu memisahkan diri. Entah karena minder atau memang gak mau belajar. Jiwanya itu seperti terputus dari dunia nyata. Dia lebih banyak melamun, sekalinya diajak ngobrol, gak pernah nyambung dan terkadang hanya senyum-senyum. Pernah suatu hari aku dan anak-anak main "pak polisi-pak polisian", dan tidak seperti biasanya Wandi ingin ikut main. Seperti yang kubilang tadi, walaupun umurku dan Wandi sama secara angka, tapi tidak secara jiwa. Hanya main permainan sesederhana itu Wandi tertawa kegirangan seperti anak usia enam tahun. Selain itu, daya tangkap dan konsentrasi Wandi sangat rendah. Ketika tiba giliaran dia menyebutkan satu macam--misalnya buah-buahan--, dia selalu menjawab hanya dengan tawa atau cengar-cengir gak jelas. Setelah kujelaskan, dia bengong lama, dan pada akhirnya tetap tidak mengerti.

Dia seperti sangat kekurangan kasih sayang dan perhatian. Entah sejak kapan Wandi hidup sebatang kara. Benar-benar tak memiliki sanak saudara. Wandi hanya pernah bercerita, dulu dia punya Ibu. Tapi qaddarullaah Ibunya meninggal di depan sebuah ruko, katanya karna kelaparan. Dia diberitahu oleh salah satu kawannya, awalnya dia gak percaya. Tapi setelah melihat langsung mayat Ibunya yang terbujur kaku dan beku, Wandi akhirnya percaya, dan mau tak mau harus menerima satu lagi kenyataan pahit dalam hidupnya. Ini adalah pertama kalinya aku mengobrol banyak dengan Wandi, dan pertama kalinya juga aku melihat ada ekspresi yang benar-benar jujur dari matanya. Kesedihan yang teramat, dan luka yang mendalam. Karena biasanya walaupun selalu cengar-cengir, mata Wandi tetap kosong. Inilah alasan kenapa Wandi merantau dari Ciamis ke Bandung; karna dia tak ingin mengulang-ulang luka kehilangan Ibunya.

Sejak saat itu banyak yang mengira Wandi adalah orang gila. Karna memang semenjak Ibunya meninggal, Wandi semakin sering melamun, penampilannya pun semakin tak terurus. Dan tentu saja semakin banyak mengonsumsi lem. Kau bayangkan lagi, dia bisa menghabiskan sampai delapan kaleng lem ukuran kecil setiap harinya. Tapi kalaupun benar Wandi gila karena kehilangan Ibunya, itu adalah bukti betapa besarnya cinta Wandi pada Ibunya. Jika kita bilang kita tergila-gila pada kekasih kita, Wandi amat tergila-gila pada Ibunya. Ya, seberapa besar kegilaan Wandi, segila itulah dia mencintai Ibunya.

Tidak banyak yang mau mengajak Wandi mengobrol. Beberapa mungkin ada yang jijik atau bahkan merasa takut. Tak apa, itu manusiawi. Wajar saja, karna memang penampilan Wandi pun sangat jauh dari kata rapi apalagi bersih. Wandi juga sangat bau, baik badan maupun mulutnya. Jangan salah, akupun termasuk orang yang merasa jijik bahkan kadang mual. Tapi itu tidak membuatku merasa perlu untuk menjauhi Wandi. Justru aku yang harus membuat Wandi lebih bersih dan rapi. Karena ejekan dan cacian tak akan membuat Wandi menjadi wangi. Jadi, apa gunanya?

Maka dengan berusaha mendobrak diriku sendiri, langkah awalku pada saat itu adalah membersihkan tangan wandi, dan sekaligus memotong kuku Wandi. Karna aku sering sekali melihat Wandi makan dengan tanganya yang super kotor.

Sejak saat itu, Wandi mulai bisa kudekati. Walaupun tetap terasa sulit, tapi setidaknya Wandi sudah mulai bisa tertawa lepas saat kuajak bercanda. Dan yang paling membuatku bahagia adalah ketika Wandi mulai mau memegang pensil, mulai mau kuajarkan menulis. Jika menurutmu ini hal yang teramat sepele, bagiku tidak. Karena untuk mencapai titik ini, aku membutuhkan banyak sekali waktu, aku melalui banyak sekali proses. Bagiku ini keajaiban. Ya, Wandi bisa menulis huruf alphabet itu bagiku adalah keajaiban; dan setidaknya menjadi bukti bahwa Tuhan itu masih ada untuk Wandi.

Namun, baru saja aku merasakan kedekatan dengan Wandi, dia tiba-tiba menghilang. Aku cari dia ke terminal biasa Wandi tidur, tidak ada. Aku bahkan sempat mencari ke Pasar--salah satu titik tinggalnya anak-anak--yang membuatku digoda banyak preman, tetap tak kutemukan. Sampai akhirnya aku dapat berita Wandi pergi ke Cirebon. Sempat ingin menyusul, tapi aku tak punya cukup informasi yang bisa mendukungku untuk menemukan Wandi.

Sampai pada akhirnya, setelah satu tahun berlalu, tepat tanggal 14 Ramadhan kemarin, ketika di Rumah Pelangi sedang ada kegiatan buka bersama, Robin--salah satu anak Rumah Pelangi--tiba-tiba mengagetkanku dengan membawa Wandi. Aku spontan berteriak.

"Wandiii!", kataku histeris. Aku nyaris menangis.

Wandi hanya bengong melihatku sambil cengengesan. Wandi menepuk paha Robin, "Saha? (siapa?)", masih dengan wajah cengengesannya.

"Wandi gak inget sama Teh Inan?", air mataku  benar-benar nyaris pecah.

Wandi menggeleng. Masih sambil cengengesan.

"Wandi ini Teh Inan. Masa Wandi lupa? Obin kasih tau Wandi ini Teh Inan!"

Wandi menatap bingung ke arah Robin. Matanya seperti meminta penjelasan.

"Si Wandi mah sama Saya juga hampir lupa, Teh. Kebanyakan ngelem."

Wandi tersenyum. Dan aku menangis.

Rasanya sakit sekali dilupakan oleh orang yang kita sayangi. Tapi aku tetap berharap, semoga suatu saat nanti aku menemukan cara untuk menjangkau dunia Wandi. Dan mengembalikannya pada dunia nyata.

Tak apa aku harus memulai dari awal. Tak apa aku kembali menjadi orang asing untuk Wandi. Tapi aku sudah bertekad, hal pertama yang aku ingin ajarkan pada Wandi adalah; "Wandi, ini Teh Inan!".

***

Bandung, 14 Juli 2016

Ghinan Rhinda


  • Intan Retma
    Intan Retma
    1 tahun yang lalu.
    Bahkan saya juga berkaca2 mba bacanya.. Bagus sekali tulisannya, ngalir mengaduk2 emosi :"D

  • Ghifari Ghifari
    Ghifari Ghifari
    1 tahun yang lalu.
    Luar biasa perjuangannya teh. Sepanjang sy membaca dari awal sampai akhir sy merinding. Jarang orang yg bisa melihat sesuatu dgn sudut pandang yg berbeda spti tth. Awalnya perspektif sy thd anak jalanan itu buruk, setelah baca tulisan tth perspektif sy berubah 180 derajat. Sy juga suka gaya bahasa tth, terasa mengalir, apa adanya dan dalam. Terasa sekali ketulusan tth thd mereka. Mabruk teh. Ttp berjuang!

    • Lihat 1 Respon

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Mbak, saya bacanya sambil berkaca-kaca. Luar biasa mbak sampai bisa seperti yang tertulis di sini. Salut mbak.. Terus sekarang Wandi tinggal dimana dan kegiatannya apa?

    • Lihat 6 Respon

  • Elfa Muhammad Ihsan Al Aufa
    Elfa Muhammad Ihsan Al Aufa
    1 tahun yang lalu.
    Semoga ada seribu pelangi lain di setiap sudut kota.. Sangat menginspirasi nan (y)

  • Rismayanti 
    Rismayanti 
    1 tahun yang lalu.
    Orang yg bisa nulis dan jago nulis itu banyak, tp org yg jujur dan tulus dgn tulisannya itu sedikit.
    Aku serasa masuk ke dlm ceritanya. Nyeseknya terasa, harunya jg terasa.