Ssst, Jangan Gaduh, Ada Allah, Ibu dan Puisi.

Ghinan Rhinda Dewi Aini
Karya Ghinan Rhinda Dewi Aini Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Juli 2016
Ssst, Jangan Gaduh, Ada Allah, Ibu dan Puisi.

Ssst, Jangan Gaduh, Ada Allah, Ibu dan Puisi!

Karya: Ghinan Rhinda Dewi

 

Ini malam aku kembali bersimpuh, rapuh. Menjatuhkan hati sejatuh-jatuhnya pada pemiliknya. Akhirnya, aku menyerah. Hanya Allah yang aku percayai untuk kuserahkan seluruh perasaan. Satu-satunya hati yang aku punya nyaris kehilangan arah, hampir tersesat. Aku tak tahu harus melabuhkannya ke mana. Aku lelah terombang-ambing di lautan ketidak-pastian, tapi juga tak siap berlabuh pada pulau yang asing di dalam perasaan. 

Aku hanya makhluk kerdil yang lemah. Tak akan bisa apa-apa tanpa belas kasihan Tuhan. Aku hanya manusia yang penuh dosa, yang dengan penuh cinta Allah tutup aib-aibnya, sehingga bisa membuat banyak orang mengagumiku. Entah apa yang mereka lihat dari seonggok daging yang Allah beri ruh ini. Dengan izin Allah aku banyak dipercaya untuk mengisi beberapa acara seperti seminar, talk show, training motivasi dan lain sebagainya.

---

Tok. Tok. Tok.

"Saffa... boleh Ibu masuk?", seruan Ibu belum kujawab hingga beberapa menit, tak ada lagi ketukan. Tapi kuyakin Ibu masih menunggu di muka pintu. Aku menarik nafas, sepertinya aku tahu apa yang akan Ibu bicarakan.

"Masuk saja, Bu, gak dikunci."

"Ibu yakin kamu sedang shalat, makanya Ibu tidak mengetuk pintu terus-terusan.", kata Ibu sambil tersenyum. Ah, senyum Ibu selalu terasa khidmat.

"Bu....", aku menghambur ke dalam pelukan Ibu dan lalu menangis sejadinya. Aku selalu merasa pelukan Ibu serupa puisi; selalu membuatku nyaman untuk meluruhkan segenap perasaan.

"Nak, kamu sudah dewasa. Ibu yakin kamu sudah cukup bijak untuk mengambil keputusan. Pesan Ibu, jangan pernah merasa bisa menyelesaikannya sendirian. Jangan sombong, sudah jelas-jelas kita ini makhluk lemah. Sertakan Allah dalam setiap urusanmu, musyawarahkan semua masalahmu dengan Allah. Ibu yakin semua akan baik-baik saja selama ada Allah dalam hati, pikiran dan lisanmu."

"Saffa gak mau mematahkan lebih banyak hati lagi, Bu. Saffa merasa sangat bersalah. Apa hak Saffa menolak mereka semua? Saffa hanya wanita akhir zaman yang sudah banyak lalai menjaga kehormatan, dosa Saffa menggunung, lancang sekali Saffa menolak niat baik hamba-hamba Allah yang ingin menyempurnakan agama dan ibadahnya. Saffa merasa sangat berdosa, Bu.", patah-patah aku melanjutkan setiap kata, sesak sekali rasanya di dada. Ya, segala macam perasaan seperti berdesakkan dalam dadaku. Semua berebut minta dimenangkan. Perasaan bersalah minta ditebus, perasaan takut minta ditenangkan, perasaan cinta minta diprioritaskan, belum lagi ada rindu yang menuntut pertemuan. Rasanya aku ingin membongkar dadaku dan mengeluarkan mereka semua dari hatiku. Tapi aku sungguh tak memiliki daya.

Ibu hanya terus mengusap-usap punggungku, tapi itu sungguh membuatku jauh lebih tenang. Bersama Ibu, segala sesak di dunia ini terasa jauh lebih lapang.

Entah bagaimana para lelaki itu bisa begitu yakin memilihku. Dalam satu bulan terakhir ini saja, Allah hadirkan tiga laki-laki padaku. Entah itu untuk menjawab doaku atau malah untuk mengujiku. Dua di antaranya mengutarakan niatnya langsung padaku, dan yang terakhir datang langsung menemui Ibu sore tadi.

Dengan sangat susah payah aku menolak dua laki-laki pertama, tinggal yang terakhir belum kuberi jawaban. Bukan aku tak siap menikah muda, aku bahkan sangat ingin menikah di usia muda. Setiap hari aku meminta pada Allah untuk menghadirkanku seorang pendamping, kubilang siapa saja terserah Allah. Lalu esoknya beberapa orang datang, tapi aku tak mau. Rupanya, kemarin aku hanya basa-basi saja pada Tuhan. Sebenarnya, yang aku inginkan hanya kamu.

Di antara semua yang datang, tak satupun pun yang bisa membuat dadaku berdebar. Dan satu-satunya yang bisa membuat dadaku berdebar, tak ada di antara semua yang datang. Ya, takdir selalu serumit itu. Entah apa maksudnya tapi aku merasa sangat kerepotan dengan semua ini.

Tanpa kuminta, takdir membawamu padaku. Dan lalu diam-diam menyelundupkan cinta ke dalam hatiku. Bahkan aku tak pernah tahu-menahu soal rindu yang tiba-tiba bersarang di dadaku. Semua menjalar ke seluruh sudut hati dengan liar. Satu-satunya hati yang kupunya, telah terisi penuh dengan barisan namamu.

Tapi nampaknya takdir hanya melakukan itu padaku, tidak padamu. Aku mungkin masih bisa berjalan dengan satu kaki, meski harus lompat-lompat. Aku juga mungkin masih bisa bersepeda dengan satu tangan, meski kurang seimbang. Tapi aku tak pernah tahu bagaimana caranya bertepuk dengan sebelah tangan. Sialnya, takdir tidak pernah peduli itu. Takdir tidak pernah mau tahu, kita mau atau tidak. Tidak pernah bertanya terlebih dulu apakah kita siap atau tidak. Tapi ya sudahlah, aku sedang tak ingin berdebat dengan Tuhan. Biar aku saja yang mengalah. Karena memang Tuhan selalu benar. Meskipun terkadang aku menyalahkan Tuhan atas takdir buruk yang menimpaku, selanjutnya aku selalu mengendap malu-malu dan mencium 'tangan' Tuhan, ketika aku menyadari hikmah dan maksud baik Tuhan padaku.

Kali inipun aku tak ada pilihan lain selain terus mengimani takdir apapun yang sampai padaku.

Setelah berbincang dengan Allah, dan merebah di pangkuan Ibu, kini aku tahu apa yang harus aku lakukan. Keputusan apa yang harus aku ambil.

Aku akan mengosongkan hatiku. Menghapuskan kecenderunganku pada siapapun. Aku ingin pasrah sebenar-benar pasrah. Aku akan berazzam, siapapun yang datang pertama pada orang tuaku setelah hari ini, akan aku terima. Akan aku jadikan haluan terakhirku.

Kini aku sadar, terkadang sebagai manusia kita terlalu memaksa pada Tuhan. Mendesak Tuhan agar segera mengabulkan doa kita, lalu merengek seperti anak kecil ketika doa kita tak dikabulkan. Padahal kita sama sekali tidak tahu apakah yang kita minta itu baik untuk kita atau tidak. 

Kali ini aku ingin tak hanya jiwa dan ragaku yang terjaga, tapi juga hatiku. Satu-satunya hati yang kupunya, harus aku tautkan hanya pada suamiku. Hanya pada imam pilihan Tuhanku.

Walaupun sedikit ada ketakutan, bagaimana jika yang datang bukan yang diharapkan? Namun segera kutepis, kalaupun begitu, setidaknya pasti yang terbaik.

Aku sepenuhnya yakin, kalau bukan jodoh, sesiap apapun, secepat apapun, pasti akan Allah atur semuanya. Bisa saja, dia siap-siap lebih dulu, tapi siapa yang tabu di jalan tiba-tiba macet total karena ada perbaikan jalan. Atau di daerahnya langit tiba-tiba hujan. Atau bisa jadi dia tiba-tiba mimisan.

Dan sebaliknya, yang tadinya tidak memungkinkan datang, jika Allah ridha, bagaimanapun rintangannya, sekalipun tiba-tiba ada perang dunia ketiga di hadapannya, ia akan tetap sampai. Maka istilah gunung pun kan didaki, laut pun akan ia sebrangi, tak berlebihan bagi Allah. Karena apapun, segalanya menjadi mungkin bersama Allah.

---

Ibu sudah keluar kamarku lima menit yang lalu, setelah kuutarakan keputusan yang aku ambil. Ibu mengusap kepalaku, Ibu bilang, keputusanku adalah yang paling bijak. Ibu mendukungku.

Aku beranjak dari tempat tidurku, kulipat mukena yang sedari tadi tak kulepaskan. Lalu aku duduk di depan meja kerjaku. Aku ingin menulis. Karena setelah Allah dan Ibu, puisi adalah teman yang paling setia dan bisa jaga rahasia. Dalam hidupku, aku hanya percaya pada mereka bertiga.

-------------------------

Padamu, Lelaki yang kelak berada pada satu pagi denganku....

Aku merapal do'a dalam sujud tumaninah di haluan malam. Dengan hati yang bergedup, ingin tahu siapa namamu dan seperti apa rupamu...

Namun, di manapun parumu menghela, aku harap kau selalu baik-baik saja, sebab akupun di sini sedang berpayah-payah menjaga harga diri untukmu. Dan sedang apapun kamu, semoga kau tidak sedang bermain-main dengan wanita lain, karena akupun di sini sedang babak belur menjaga kehormatanku sebagai wanitamu. Aku bahkan rela mengurangi jatah bermainku dan bergumul dengan buku-buku tebal demi mencerdaskan anak-anakmu. Aku juga terkadang merasa pening dan kelelahan demi mengejar cita-citaku, agar kualitas diriku setara denganmu.

Maafkan aku yang pernah lalai mematahkan hatiku sendiri. Jatuh. Patah. Jatuh. Lalu aku patah lagi.

Maafkan aku yang pernah sejatuh cinta itu pada selainmu, sebab aku mengira telah menemukanmu...

Maafkan aku yang pernah menangis sejadinya, mengurung diri di sudut kamar, menangisi yang bukan kamu, sebab aku pikir itu adalah kamu.

Maafkan aku yang pernah nyaris menyerah pada yang belum tentu kamu, sebab Tuhan tak kunjung mempertemukan kita.

Bisakah kau berdiam diri saja di dekatku dari semenjak aku lahir, supaya aku tak perlu repot-repot mencintai orang lain dulu? Aku lelah... menjadi wanita akhir zaman itu sungguh tak mudah. Menjaga mahkota untuk tidak jatuh sebagai pertanda kehormatan itu sungguh membuatku payah.

Semoga kita dipertemukan dalam keadaan paling pantas. Dengan iman yang paling berkualitas.

7 Juli 2016, 10.18pm

Saffanah, wanita yang kelak berada pada satu pagi denganmu.


  • Ani Disa
    Ani Disa
    1 tahun yang lalu.
    Nyentuh banget mbak

  • Pras Har Adi
    Pras Har Adi
    1 tahun yang lalu.
    tulisannya bagus mbak...bisa menambah pemahaman saya terhadap perempuan..

  • Harmawati 
    Harmawati 
    1 tahun yang lalu.
    Keren kak,. Kyk bukan fiksi yah. Nyata gtu. Isin share yh kak

    • Lihat 7 Respon

  • Sabeena Naya
    Sabeena Naya
    1 tahun yang lalu.
    Wanita tetap dengan fitrahnya, menerima dan menolak. Keep fighting teteh..

  • Ghifari Ghifari
    Ghifari Ghifari
    1 tahun yang lalu.
    Btw kayanya ini pengalaman pribadi ya teh? Hehe