Tetaplah Bernama Randi

Ghinan Rhinda Dewi Aini
Karya Ghinan Rhinda Dewi Aini Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juli 2016
Tetaplah Bernama Randi

Hujan malam ini memecahkan sunyi di kepalaku. Rintiknya mengantarkan banyak kenangan ke dalam dadaku. Rasanya sesak sekali. Dadaku yang sempit, rasanya tak mampu menampung sekian banyak kenangan yang bergerombol, saling melempar tatap, berbagi senyum, lalu berkenalan, dan kuyakin tak lama lagi mereka akan bergandengan. Tak apa jika hanya sekedar bergandengan, kini aku mulai khawatir mereka akan lompat-lompat kegirangan. Ah, bahkan sampai sekarang kenangan tentangmu selalu membuat jiwaku berguncang tak karuan.

Ingatanku masih sangat lekat bagaimana hari itu kau menatapku. Katamu, maukah esok hari aku memuisikan senja bersamamu. Aku tersipu, mau.

Besoknya kau datang menemuiku lagi. Kita bertemu di sebuah taman yang luas, langsung menghadap ufuk di mana matahari akan tenggelam. Aku bergumam, semoga hari ini matahari masih tenggelam di ufuk yang sama, amin.

Meskipun terlambat lima belas menit dari waktu yang telah kau janjikan, tak masalah bagiku. Karena menunggumu tidak pernah terasa membosankan. Aku selalu suka.

Sore itu kau memakai kemeja putih dengan sedikit corak di bagian kerahnya. Kau sampai padaku dengan membawa sekantung keteduhan. Tapi saat itu kau tak banyak bicara. Kau hanya duduk di sampingku, melamun menatap senja, sesekali menatap ke arahku dan lalu terseyum.

Tapi aku tak pernah merasa bosan. Aku selalu betah walaupun kau hanya diam. Aku selalu suka walaupun kita tak melakukan apa-apa. Asal di sisimu, aku tak takut walaupun harus kehilangan seluruh lelucon di dunia ini. Karena kamu selalu bisa membuatku bahagia bahkan dengan cara paling sederhana di dunia ini.

Kau terus menatap senja yang semakin memerah, sambil meminta maaf karena datang terlambat. Aku memaafkanmu. Lalu kau meminta maaf sekali lagi, kali ini karena dari tadi kau hanya diam. Aku juga memaafkanmu, tak ada masalah.

Kau terus menatap senja yang semakin memerah, katamu, Tuhan menciptakan banyak sekali keindahan di dunia ini. Kau selalu kagum dengan apapun yang diciptakan Tuhan. Terakhir kau bilang, kau penasaran, jika ciptaannya saja seindah yang ada di dunia ini,  bagaimana Dzat yang menciptakannya. Kamu penasaran, ingin bertemu Tuhan.

Katamu, senja, pantai dan aku adalah mahakarya Tuhan yang paling indah. Hanya bedanya, ketika melihat senja kamu bertasbih. Ketika melihat pantai kamu bertahmid. Tapi ketika melihatku, kami malah beristighfar. Aku tertawa, sekaligus kesal. Aku pukul pelan pundakmu dengan tasku. Kau juga tertawa, lalu menatapku. Dan berkata pelan, katamu, aku adalah satu-satunya keindahan yang bisa membuatmu berdosa. Melihat senja, kau masih bisa bertahan. Melihat pantai, kau masih terkendali. Tapi melihatku, rasanya kau ingin memberikan seluruh duniamu padaku. Makanya menurutmu, aku adalah satu-satunya keindahan yang harus kau istighfari.

Aku tak marah kau berbicara seperti itu. Aku malah semakin suka. Aku suka kejujuranmu. Dan kurasa wajar jika laki-laki memiliki perasaan seperti itu ketika melihat perempuan yang menurutnya menarik. Yang terpenting adalah bagaimana ia mengontrol nafsunya. Dan kamu, kamu adalah salah satu laki-laki yang selalu berusaha menjaga kehormatanku. Kamu sama sekali tak pernah menyentuh kulitku. Duduk pun, kau selalu menjaga jarak. Sekali-kalinya kau berdiri dekat denganku saat kau ingin menjaga kerudungku dari angin. Ah, lagi-lagi itu untuk menjaga kesucianku.

Bahkan, selesai menjelaskan semuanya, kamu benar-benar beristighfar pelan. Aku tertawa. Kau hanya tersenyum.

Senja mulai bertukar ranjang dengan malam. Sudah waktunya kita pulang, katamu. Ah, aku selalu kesal, kenapa harus ada malam di hari seindah ini? Rasanya aku tak ingin beranjak, aku tak ingin kemana-mana. Bahkan jika bisa, aku ingin memberitahu masa depan, tak perlulah repot-repot datang ke sini. Karena aku sudah bahagia, di sini.

Tapi aku hidup dalam dimensi yang tak pernah berhenti berjalan ke depan. Kita beranjak pulang.

Di ujung jalan, kau tiba-tiba berhenti, menatapku lamat-lamat. Aku menginjak kakimu.

"Beristighfarlah! Huh!", kataku pura-pura marah sambil beranjak meninggalkanmu.

Kau menarik tasku, "Tak apa, setelah ini aku akan langsung minta ampun pada Tuhan. Sekalian aku mau bilang makasih karena sudah menciptakanmu dan mempertemukanku denganmu."

Aku tersenyum.

"Mau titip pesan apa sama Tuhan?", katamu sambil tersenyum.

"Bilangin ke Tuhan, aku mau kamu."

"Gak boleh, aku punya Tuhan." katamu sambil menggeleng. Minta yang lain!

"Makanya, karena kamu punya Tuhan, aku minta kamu ke Tuhan. Tuhan kan sudah punya milyaran manusia yang lebih ganteng dari kamu. Satu saja untukku kan gak ngaruh."

Kamu tertawa, menuntunku. Menuntut tasku lebih tepatnya.

"Berdoalah yang khusyuk. Minta aku pada Tuhan dengan serius. Aku juga akan berdoa semoga doamu dikabulkan."

Itulah, itulah percakapan terakhir kita. Sudah sembilan puluh tiga hari semenjak kepergianmu. Aku selalu tersenyum lirih setiap mengingat ambisimu untuk bertemu Tuhan. Rupanya, kau benar-benar penasaran bagaimana keindahan Tuhan.

Sayang, aku tahu, hanya Tuhan yang mampu mencabut nyawa seseorang. Makanya aku tak pernah khawatir. Karena kau hamba yang baik, aku pikir Tuhan akan memberimu umur yang panjang. Tapi ternyata takdir Tuhan tak pernah ada yang tau. Dengan menumbuhkan kanker di kepalamu, Tuhan mengambilmu dariku. Ah, betapa naifnya aku. Tuhan tak pernah mengambilmu dariku, seperti katamu, kau memang milik Tuhan. Bukan punyaku, walaupun aku sangat ingin kamu.

Sayang, temuilah Tuhanmu. Aku ikhlas. Tak usah mengkhawatirkanku, aku akan segera menyusulmu. Walaupun entah kapan. Tapi mudah-mudahan ketika aku datang, kau masih ingat padaku. Dan semoga namamu masih Randi. Supaya aku tak bingung mencarimu, nanti. Tetaplah bernama Randi.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Atmosfir senang dan sedih bercampur secara apik dalam karya pilihan redaksi ini. Transisi dari rasa bahagia dan pilu secara mulus tersampaikan dengan sangat bagus berkat cara penuturan kreator yang oke. Kisah cinta seperti ini, yang tidak terlalu bombastis, yang justru menghadirkan kesan sangat mendalam. Kedalaman perasaan kedua tokoh bisa tertangkap cukup baik, apalagi mengutip perkataan sang gadis bahwa ia berharap bisa bertemu dengan Randi di alam berikutnya. Ada kegetiran menyesakkan dada dalam kalimat-kalimat akhir yang tidak berlebihan. Sangat menyentuh, Ghinan.

  • Ghifari Ghifari
    Ghifari Ghifari
    1 tahun yang lalu.
    Jd byk bekal untuk gombalin istri nanti hihihi.
    Btw, endingnya mantap. Tak terduga.

  • Ghifari Ghifari
    Ghifari Ghifari
    1 tahun yang lalu.
    Diksinya luar biasa!

  • Raja Cahaya
    Raja Cahaya
    1 tahun yang lalu.
    Mantap nan, sepertinya kita mesti berbagi 'muntahan otak' (Ide-ide) kita. Teruslah berkarya, jangan lupa baca juga cerpen raja, terus komentari.

    Komentar: Entah lebay, entah 'baperan', pas paragraf-paragraf akhir perasaan raja ikut membaca