Menghidupkan Tradisi Kebijaksanaan Agama-agama

Ibn Ghifarie
Karya Ibn Ghifarie Kategori Buku
dipublikasikan 18 Februari 2016
Menghidupkan Tradisi Kebijaksanaan Agama-agama

Salah satu warisan E.F. Schumacher bagi dunia adalah keyakinannya bahwa "kita memerlukan keberaniaan untuk berkonsultasi dengan dan mengambil manfaat dari tradisi-tradisi kebijaksanaan untukmanusia."

Nilai dan tradisi-tradisi itulah yang menjadi tema utama dalam bahasan buku "Agama-agama Manusia [Edisi Bergambar]" karya Huston Smith (Desember 2015).Pasalnya, ilmu pengetahuan modern telah mengkikis kosmologi dari tradisi-tradisi tersebut, sementara kebudayaan sosial dari masa yang dicerminkan kosmologi-kosmologi tersebut--struktur kelas, relasi gender--harus ditelaah ulang berdasarkan perubahan zaman dan perjuangan terus menerus mencapai keadilan.

Namun, jika kita memilih memilah kesimpulan mereka tentang realitas dan bagaimana hidup seharusnya dijalani, nilai-nilai dan tradisi-tradisi itu mulai terlihat seperti kebijaksanaan dari umat manusia.

Di rahan etika, dekalog (dasa titah) boleh dibilang mengringkaskan itu semua. Kita tidak boleh membunuh (termasuk aksi bom bunuh diri, terorisme), mencuri, berbohong dan berzina. Ini adalah panduan minimal, tapi bukannya sia-sia bila kita menyadari setelah merenungkan betapa dunia akan jauh lebih baik jika panduan-panduan itu dihormati secara universal.

Dengan beranjak dari landasan etis ini, dalam mencari jenis manusia yang kita cita-cita, maka kita akan mencapai pada dasarnya 3 kebajikan manusia; kerendahan hati, kebaikan hati dan ketepatan. Kerendahan hati bukanlah merendahkan diri, melainkan kemampuan untuk menggapa diri sebagai satu pribadi penuh, tapi tidak lebih dari satu. Kebaikan hati memindahkan beban ke kaki lain, yaitu menggap tetangga kita sebagai pribadi yang sama penuhnya dengan kita.

Ketepatan, hal demikian meluas dan kejujuran dasar menjadi objektivitas sublim--kemampuan untuk melihat hal ihwal sebagaimana adanya, yang terbebas dari distorsi subjektif.

Tatkala keserakahan, kebencian dan khayalan itu dihapuskan, maka datanglah penyerahan diri (keredahan hati), belas kasih (kebaikan hati), dan melihat hal ihwal sebagaimana adanya (ketepatan). (hal.425-426).

Dari sudut pandang manusia murni, tradisi-tradisi kebijaksanaan adalah upaya paling panjang dan serius dari spesies manusia untuk menebak gambar bagian depan permadani kehidupan tatkala kita melihatnya dari belakang. Manakala keindahan dan keserasian rancarang permadani itu tergambar dari jejalin bagian-bagiannya, maka rancangan itu memberikan makna bagi bagian-bagian tersebut, yang tidak akan bermakna jika dilihat secara terpisah. Kita bisa mengatakan bahwa melihat diri kita berasal dari kesatuanlah, yang menjadi inti agama. Inilah upaya mendasar umat manusia untuk melakukan penyatuan dengan (nilai nilai dan) tradisi-tradisi kebijaksanaan. (hal. 426-427).

Buku ini berusaha memilah-milih yang terbaik dari sejarah agama yang penuh gejolak, dengan memfokuskan perhatianya pada berbagai klaim teologisnya saja. Dengan membatasi diri kita pada aspek-aspek ini, muncullah satu gambaran yang lebih bening mengenai agama. Mereka mulai terlihat seperti tradisi-tradisi kebijaksanaan dunia. (Di manakah pengetahuan yang hilang di dalam informasi? Di manakah kebijaksanaan yang hilang ditelan informasi? T.S. Eliot). Agama-agama tersebut tampak seperti bank data yang menyimpan nilai kebijaksanaan dari hasil keyakinan umat manusia. (hal.14).

Uniknya dalam buku ini, Huston Smith menghadirkan unsur-unsur penting sejarah dan inti-inti ajaran agama-agama besar dunia dalam bentuk ilustrasi. Ia melakukannya karena alasan sahih: di hampir sepanjang sejarahnya, umat manusia menemukan teks-teks suci mereka dalam rupa lukisan, patung, pahatan, tarian, nyanyian ... hal-hal yang bernilai seni—melebihi dalam wujud teks. Teks di buku ini berfungsi sebagai semacam komentar bagi ilustrasi dan penjabaran yang menginspirasinya. Alasan itulah yang menjadikan buku ini begitu setia pada subjek kajiannya.

Pentingnya seni dalam menyajikan ide-ide keagamaan, melalui ilustrasi-ilustrasi di buku ini—kebanyakan dari abad pertengahan—menegaskan kesadaran kita bahwa agama bukanlah genangan air keruh dan kelak akan kering, melainkan aliran air dinamis yang menjadi sumber tempat para pemeluknya melepaskan dahaga.

Dengan ilustrasi bernilai seni itu membuka mata hati kita pada transendensi dan mengajak kita masuk ke masa lalu yang lebih luas dan lebih kaya, menjadi semacam jendela, tempat kita melongok dan mencicipi keindahan dan keagungan, dan menjadi cermin yang memantulkan kondisi agama pada masa mendatang. Selamta membaca. [Ibn Ghifarie]


Judul : Agama-Agama Manusia [Edisi Bergambar]
Terjemahan : A Guide to Our Wisdom Traditions
Penulis : Huston Smith
Penerbit : Serambi
Cetakan : 1, Desember 2015
Halaman : 433
ISBN : 978-602-290-053-5

  • view 109