Teologi Teror

Ibn Ghifarie
Karya Ibn Ghifarie Kategori Agama
dipublikasikan 22 Januari 2016
Teologi Teror

Sebagian umat Islam (ISIS) berkeyakinan upaya menyebarkan risalah Tuhan itu harus dilakukan melalui aksi radikalisme, terorisme dan bunuh diri (Sarinah) dengan cara jihad (perangan) yang bersumber dari teologi teror (mati syahid) demi mendapatkan jaminan masuk surga yang dikelilingi 40 bidadari.

Menurut Delong-Bas (2004), isu terorisme erat kaitanya dengan gagasan ideologis dan teologis penganut Wahabi dan al-Qaeda melalui aski bom syahidnya. Pelaku kekerasan dan pengeboman mati syahid menyakini segala tindakan ini sebagai bukti nyata atas tindakan syahid yang akan diganjar surga dan disambut malaikat dengan 40 bidadarinya.

Doktrin Istisyhad
Doktrin mencari mati syahid (istisyhad) antara lain melalui bom bunuh diri itu memperoleh tempat bersemai dan habitatnya untuk menegakan gagasan khalifah global (Daulah Islamiyah), di tingkat lokal bersinergi dengan gerakan Daru Islam (NII) yang tidak lenyap dalam dinamika politik nasional.Pada doktrin global dibagi dua secara diametral; (hitam-putih), antara daarus-salam di satu sisi yang menjadikan syariat sebagai referensi utama dan daarul harb yang menuntut penganut syahidisme dikuasai oleh peradaban Barat.

Dalam pemahaman lebih moderat, jihad tidak hanya bisa diartikan sebagai perang melawan kekafiran, tetapi jihad adalah usaha yang sungguh-sungguh dengan segenap kemampuan untuk mencapai tujuan yang luhur di jalan Allah. Jihad dapat dilakukan dengan bekerja keras melawan hawa nafsu yang menghancurkan dan menjerumuskan manusia kepada kebinasaan. Jihad dalam bentuk perang diizinkan oleh Allah demi menjaga kehormatan, harta dan martabat manusia dan kaum muslimin. (Abas, 2009:27).

Namun, bagi syahidisme seperti Imam Samudra pengebom WTC adalah istisyhad (tindakan mencari kesyahidan). Imam Samudra menuliskan "Pembatasan bom syahid hanya boleh di Palestina, atau yang semisal menunjukkan bahwa Yusuf Qardhawi kurang memahami (menyadari) hakikat perang salib yang bersifat global. Di mana, dalam keadaan umat Islam terjajah, setiap jengka; tanah di bumi ini dapat dikatakan sebagai tempat konflik. Dengan sendirinya, segala syarat perang dalam Islam dapat diaplikasikan seseuai dengan kemampuan dan kemungkinan yang ada. Dalam menghadapi perang salib, al-Qaeda telah beberapa kali mengadakan istisyhad global (amaliyah).” (Imam Samudra,2004:185)

Aksi bom bunuh diri ini didasarkan pada prinsip tauhid yang menurut penganutnya bisa mempersatukan kaum muslimin di seluruh dunia. Suatu doktrin yanag menjadi pusat perhatian Wahabi dalam menyebarkan pengaruhnya di dunia Islam. Dari sini, doktrin mati syahid menjadi bermakna, sehingga memiliki daya panggil paling manjur bagi anak-anak muda muslim di seluruh dunia (Indonesia).

Yusuf Qardhawi yang menyatakan mati syahid hanya bisa diperoleh di medan perang, seperti Palestina ditolak para pelaku teror. Pasalnya, pelaku istisyhad, zaman sekarang ini adalah perang salib terbuka tahap ke-10. Atas alasan itu, syahid bisa dicapai di mana pun saja sepanjang memerangi kaum kafir yang diwakili Amerika dan antek-anteknya.

“Operasi tempur istisyhad, baik menggunakan bom atau tidak jelas memiliki latar belakang dan motivasi yang berbeda. Sama sekali tidak ada hubunganya dengan bunuh diri. Dalam opersi istisyhad, inti permasalahanya bukan terletak pada apakah operator terbunuh oleh senjatanya sendiri atau senjata orang lain, melainkan apa niat dan tujuan dari operasi tersebut. Jika sebuah opreasi bom syahid bertujuan untuk merobek-robek moral tempur musuh dan pada saat yang sama mengantrol semangat jihad kaum muslimin, maka operasi seperti itu sangat dianjurkan. Sebelum operasi istisyhad--baik dengan atau tanpa bom--dilakukan, si operator harus menyadari atau memiliki asumsi kuat (dzan) bahwa ia bakal terbunuh. Untuk jihad bom syahid Bali mesti terjadi sebagaimana terjadinya istisyhad Kenya dan Tanzana, Adn (Yaman), WTC dan lain-lain. Latar belakang bom syahid Bali adalah sama dengan yang telah disebutkan di atas. Bahaw ini adalah perlawanan, bahwa ini adalah pembelaan, bahwa ini adalah jihad fi-sabilillah.” (Imam Samudra,2004:182 & 188)

Bagi pelaku teror, dalam situasi demikian hanya ada dua pilihan: mati syahid (mut syahidan) atau hidup mulia (isy kariman) menang menghancurkan dajalal atau masuk surga. Musuh pelaku teror tidak terbatas orang (sistem) yang menolak kebanaran yang mereka yakini, tetapi juga pemeluk agama yang sama yang secara langsung (tidak) terlibat dalam kehidupan empirik dajjalis.

Memang tak banyak dipahami publik bahwa penganut teologi teror, semua selain diri dan kelompoknya adalah sah, bahkan wajib dihancurkan. Apalagi terhadap orang yang selama ini menangkapi temen-temanya. Tidak peduli tempatnya di Mesjid (aksi bom bunuh diri di Mesjid Adz-Dzikro, Polresta Cirebon) yang bisa dituduh dibangun dengan uang kafir (dajjal) yang disebut Mesjid Dhiror sebagai bagian program deradikalisasi. Logika dan keyakinan pelaku teror sama sekali berbeda dengan logika publik. Bagi mereka, siapa saja yang tidak sepaham adalah musuh yang harus dihancurkan, apalagi yang jelas-jelas menentang keyakinan mereka.

Di sini teologi teror memberi tawaran dan jalan anak-anak muda yang selama ini mmeperoleh pendidikan agama berbasis logika hitam-putih, sehingga dengan mudah dijejali konsep syahid (mati surgawi) sebagai hero. Jika menang, maka sang hero dijanjikan kemuliaan hidup duniawi dan apabila mati, dijanjikan hidup abadi di surga beserta turunannya ditemani 40 bidadari.(Bilveer Singh & Abdul Munir Mulkhan,2012:59-67).

Sumber Terorisme
Teror bom bunuh diri berlangsung sejak tahun 1980an. Robert A. Pape berbicara mengenai logika startegis, sosial dan individual dari pelaku bom bunuh diri. “Kasus teror bunuh diri sejak tahun 1980-2003, menunjukkan secara umum mereka lebih kecil dibandingkan dengan para musuhnya; komunitas nasional tertentu mendukung secara luas tujuan (taktik) politiknya; kaum militan meiliki ikatan kesetiaan yang erat dengan rekannya dan devosi kepada pemimpin; dan mereka memiliki sisten inisiasi dan ritual yang menyibolkan tingkat komitmen individu pada komunitas. Kelompok teroris bunuh diri modern boleh jadi menerima bantuan material aspirasi politik seperti mereka, namun mereka pelaku independen yang jarang mengikuti petunjuk dair yang lain secara membabi buta. Yang mungkin terpenting, aksi bunuh diri modern mematikan sekali karena tujuan penyerang bukan hanya untuk mati, tetapi menggunakan kematiannya untuk membunuh sebanyak mungkin target korban.” (Mutiara Andalas, 2010 :43).

Upaya penanggulangan terorisme menuntut sumbangan dari perspektif organisasional sebab terorisme merupakan aktivitas kelompok. Aksi bom bunuh diri memang sering dilakukan oleh individu, tetapi pasti didukung oleh jaringan aktor-aktor di belakang layar yang berperan mengatur perencanaan dan strategi. Untuk menghadapi hal demikian, intelijen dan aparat keamanan negara beetugas menguak jaringan tersebut dan membongkar modus opersinya.

Harus diingat, terorisme sering dimotivasi oleh faktor politik, sosial, ekonomi dan ideologi keagamaan. Pasalnya, terorisme sering dipicu oleh kepentingan untuk memengaruhi kebijakan politik, bahkan untuk merebut kendali kekuasaan. Kelompok teroris yang kecewa atas kondisi negara termotivasi untuk mengubah kondisi politik melalui kekuasaan. Segala bentuk kekerasan menjadi pilihan jika kelompok teroris merasa berhadapan dengan sikap represif pemerintah, kuranya kebebasan politik dan pendukungan asing.

Dalam bukunya, A World Without Islam, Fuller berandai-andai seandainya tidak ada agama Islam di muka bumi pun terorisme akan tetap terjadi. Terorisme di Timur Tengah dan di belahan bumi lain tidak ada hubungannya dengan Islam. Fenomene terorisme adalah respons terhadap kondisi geopolitik dan berbagai isu sosial yang melibatkan komunitas muslim di dunia.

Fuller menyakini bahwa Islam tidak mengajarkan terorisme dan kekerasan yang dektruktif; yang terjadi adalah Islam yang mengajarkan jihad--dengan makna yang cukup kompleks--disalahgunakan untuk menjustifikasi kepentingan politik. Dengan pernyataan itu, Ia hendak mengatakan kebijakan luar negeri Amerika dan sekutunya menjadi faktor yang memicu terorisme. (Irwan Masduqi, 2013:167-169).

Jika kita menjalankan hidup penuh dengan cinta, kasih sayang, welas asih yang bersumber dari ajaran agama, bukan sepenggal-penggal mengambil ayat jihad yang dimaknainya dengan peperangan, niscaya tak ada lagi konflik, peperangan atas nama agama (kepercayaan), radikalisme, terorisme dan aksi bom bunuh diri yang melukai hati nurani dan kemanusiaan ini.

Caranya dimulai dari diri sendiri dan saat ini kita berusaha untuk menebar benih-benih kebajikan, cinta, kasih sayang, welas asih, bukan dengan kebencian, permushan dan pertikaian. Apalagi menyamakan konsep jihad dengan perilaku terorisme dan aski bom bunuh diri.

Dengan demikian, terwujudnya kehidupan bermasyarakat, beragama yang damai, harmonis dan adil yang bersumber dari teologi cinta kasih (bukan teologi teror dengan konsep mati syahidnya) ini menjadi cita-cita bersama karena spirit kasih sayang merupakan puncak keberagamaan sejati.[]

 

 

 

  • view 275