Meneladani Rasul

Ibn Ghifarie
Karya Ibn Ghifarie Kategori Buku
dipublikasikan 17 Juni 2016
Meneladani Rasul

Pasca pelantikan Joko Widodo-Jusuf Kala, 20 Oktober 2014 sebagai Presiden dan Wakil Presiden di Indonesia. Ini memberikan semangat, harapan baru bagi perbaikan nasib rakyat ke depan supaya hidup lebih baik. Apalagi gaya kepemimpinan Jokowi terkenal dengan blusukannya sebagai bentuk sederhana, dekat, akrab terhadap rakyatnya. Lantas bagaimana cara kepemimpinan Rasul dalam memberikan teladan bagi kita selaku umat Islam terbesar di tengah-tengah krisis figur, idola yang melanda kaula muda ini.

Dalam buku Sirah Nabawiyah, Nabi Muhammad Saw dalam Kajian Ilmu Sosial-Humaniora karya Dr Ajid Thohir menjelaskan Rasulullah sebagai sosok teladan ini paling tidak bisa dilihat dari Muhammad sebagai tokoh sosial, pemimpin agama, pemimpin masyarakat, kepala pemerintah dan kekayaanya.

Untuk urusan kepemimpinan ini Nabi penuh dengan wibawa, sehingga membawa kepatuhan dan rasa cinta kepada sahabatnya serta rasa segan dari para musuhnya. Kepemimpinan Muhammad ditandai dengan keakraban dan penghargaan kepada para sahabatnya dan terbuka terhadap setiap saran dan kritik. Rasulullah adalah teladan dan contoh yang terbaik bagi sekalian manusia. Ini tersirat dalam Firman Allah; "Sesungguhnya Rasulullah itu adalah contoh teladan baik bagi kamu sekalian" (QS al-Ahzab [33]:21)

Keakraban itu tampak sekali dari sebutan beliau kepada para pengikutnya dengan panggilan sahabat, tanpa pandnag bulu, baik mereka itu miskin maupun kaya, bangsawan maupun rakyat biasa, mempunyai latarbelakang sebagai hamba sahaya maupun merdeka. Beliau memberikan penghargaan kepada para sahabatnya sesuai dengan kepribadian dan dedikasi mereka. (h. 186).

Nabi Muhammad yang menumbuhkan rasa kepatuhan dan kecintaan para sahabatnya, menandakan bahwa beliau memmiliki kearifan dan kebijaksanaan dalam setiap perbuatan dan permasalahan yang dihadapi dengan sikap terbuka dan toleran. Kemampuan beliau sebagai pemimpin umat didukung oleh kecerdasannya (fathonah). Beliau peka dan tanggap terhadap setiap persoalan dan mempunyai jangkaua pemikiran yang jauh ke depan. (h.187).

Mengenai keteladanan Rasulullah Saw itu, bagi Prof. Dr. Afif Muhammad, MA, dalam Kata Pengantarnya menguraikan karena sadar akan fungsinya sebagai teladan, maka Rasulullah Saw hidup menyatu dengan para sahabatnya, dekat dan akrab dengan mereka. Sebab, hanya dengan kedekatan seperti itulah seorang teladan dapat dicontoh oleh orang-orang yang harus meneladaninya. Sedemikian dekatnya hubungan Rasulullah Saw dengan para sahabatnya, sampai-sampai orang yang sehari-harinya tidak mengenal mereka, sulit membedakan mana Rasulullah Saw dan mana pula sahabatnya. Itulah yang dialami oleh salah seorang pangeran dari Persia, ketika dia bermaksud menemui Rasulullah Saw.

Karena belum pernah bertemu, pangeran dari Persia itu bertanya kepada salah seorang penduduk Madinah yang ditemuinya, “Di mana saya bisa menemui Muhammad?”
“Di dalam masjid, dia sedang berada bersama para sahabatnya”, jawab orang itu.

Sang pangeran Persia segera menuju Masjid Nabi, dan ketika dia masuk, dilihatnya sejumlah orang yang sedang duduk dan membentuk lingkaran. Lutut mereka bertemu satu sama lain. Karena pakaian mereka rata-rata tidak berbeda, maka sulit bagi sang pangeran untuk mengenali Rasulullah Saw.

Dia baru mengetahuinya ketika seseorang memperkenalkan dia dengan Rasulullah Saw. Karenanya, merupakan suatu anugerah tersendiri bagi para sahabat ketika mereka ditakdirkan menjadi orang-orang yang hidup bersama Rasulullah Saw. Cara peneladanan yang dilakukan oleh Rasulullah Saw dengan menyatu dengan para sahabatnya seperti itu, menyebabkan para sahabat dapat melihat dari dekat sosok teladannya, dapat bertanya dan melihat gerak-geriknya, bentuk tubuhnya, cara berjalan dan berbicaranya, keadaan rumahtangganya, cara beribadahnya. Pendek kata, “totalitas kehidupan sehari-hari Rasulullah Saw”.

Hasilnya, para sahabat pun menjadi mudah meneladani Rasulullah Saw dalam hal-hal yang detil. Dengan kondisi seperti itu, barangkali tingkat presisi para sahabat dalam mencontoh Rasulullah Saw bisa mencapai sembilan puluh persen. Inilah yang menyebabkan Ibn Taimiyah mengatakan bahwa para sahabat Rasulullah Saw generasi pertama adalah duplikat terbaik Rasulullah Saw. Melalui model peneladanan seperti itu, terbentuklah suatu komunitas yang, oleh Rasulullah Saw sendiri, disebut dengan “sebaik-baik kurun (generasi) adalah kurunku (bersama para sahabat)”. (h.6-7).

Dengan membaca buku Sirah Nabawiyah ini kita dapat menghadirkan kembali keteladanan Rasulullah Saw, sekalipun tidak lagi dalam bentuk nyatanya. Karena itu, bagi setiap keluarga Muslim, Sirah Nabawiyah haruslah menjadi buku wajib kedua sesudah Al-Quran al-Karim. (h. 8).

Inilah salah satu ikhtiar kita sebagai umatnya untuk menghadirkan keteladanan Rasulullah Saw di era global yang penuh tantang dan peluang ini bak oase di tengah-tengah gurun krisis kepemimpinan nasional. Semoga. Selamat membaca. [Ibn Ghifarie]

Judul : Sirah Nabawiyah, Nabi Muhammad Saw dalam Kajian Ilmu Sosial-Humaniora
Penulis : Dr. Ajid Thohir
Kata Pengantar : Prof. Afif Muhammad, MA
Penerbit : Nuansa Cendekia
Halaman : 312 hlm
Cetakan : I, Oktober 2014
ISBN : 979-24-5796-8

  • view 141