Pendidikan Menghidupkan Nilai

Pendidikan Menghidupkan Nilai

Ibn Ghifarie
Karya Ibn Ghifarie Kategori Buku
dipublikasikan 11 Juni 2016
Pendidikan Menghidupkan Nilai

Diakui atau tidak, aksi kekerasan (bullying) yang menimpa siswa junior pada saat pelaksanaan Masa Orientasi Siswa (MOS) menjadi membukti nyata ihwal MOS masih menjadi ajang kekerasan (fisik) dengan melestarikan tradisi balas dendam dari senior ke junior di lingkungan sekolah.

Betapa tidak, hasil Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2012 menunjukkan 87,6 persen anak mengaku pernah mengalami tindakan kekerasan di lingkungan sekolah dalam berbagai bentuk.

Data terbaru hasil riset yang dilakukan oleh LSM Plan International dan International Center for Research on Women (ICRW) mendapati bahwa 84 persen anak di Indonesia mengalami kekerasan di sekolah. Angka ini lebih tinggi dari tren di kawasan Asia yaitu 70 persen.

Riset yang dirilis awal Maret itu dilakukan di lima negara Asia: Hanoi (Vietnam), Siem Reap (Kamboja), Distrik Sunsari (Nepal), Distrik Umerkot (Pakistan), Jakarta dan Kabupaten Serang (Indonesia). Survei dilakukan pada Oktober 2013 hingga Maret 2014 dengan melibatkan 9.000 siswa usia 12-17 tahun, guru, kepala sekolah, orang tua, dan perwakilan LSM.

Pakistan merupakan negara dengan angka kekerasan di sekolah yang paling rendah di kawasan Asia (43 persen), Indonesia (51 persen) mengaku pernah menyaksikan tindakan kekerasan di sekolah. Yang menyedihkannya, hanya 30 persen rerata siswa di Asia yang menjadi saksi kekerasan yang melaporkan aksi kekerasan atau berupaya menghentikannya. (Antara, 4/3/2015)

Dalam buku Sekolah Berbasis Nilai;7 Tahap Menghidupkan Nilai, Softskill dan Hardskill karya Mochamad Ziaulhaq dengan prolog Bambang Q-Anees (Spiritualis & CEO Values Insitute) dan Epilog Wayan Rustiasa (Co-Fouder Karuna Bali Foundation) menjelaskan anak-anak dan generasi muda di seluruh dunia mengalami masalah sama. Mereka dipengaruhi oleh kekerasan, konsumerisme dan gaya hidup bebas yang berasal dari pengaruh tayangan televisi, internet dan ruang sekolah.

Akhirnya mereka tercerabut dari masyarakat, sikap hormat menghormati satu sama lain semakin menipis, tawuran, terlibat gank motor, narkoba dan prestasi menurun. Para orang tua, pendidik dan warga di banyak negara prihatin tentang trend yang menghawatirkan ini.

Banyak dari mereka percaya, salah satu solusinya yang dapat diberikan adalah mengambalikan pendidikan pada pembiasaan nilai-nilai luhur ajaran agama, tradisi budaya dan kemanusiaan. Pendidikan harus lebih berkualitas lagi, tidak hanya dari aspek kognitif (pengetahuan, hasil UN), namun juga mulai mempromosikan pendidikan yang melibatkan ranah afektif (rasa emosi, spiritual) serta psikomotorik (kemampuan mempraktekkan).

Nilai-nilai seperti perdemain, cinta, menghargai, kesederhanaan, tanggung jawab, toleransi, kerjasama, kebebasan dan persatuan dianggap sebagai nilai-nilai universal mendasar yang dapat mendorong generasi muda mampu bertahan di tengah efek negatif globalisasi, sekaligus dapat menjadi kreatif dan inovatif.

Pendidikan karakter merupakan salah satu tenggapan positif di dunia pendidikan Indonesia untuk mengatasi masalah bersama ini. Program Pendidikan Menghidupkan Nilai (Living Value Education Program-LVEP) memberikan pendekatan alternatif penerapan pendidikan karakter di ruang kelas dan budaya sekolah, bahkan dalam lingkungan komunitas masyarakat. Hingga penerapan pendidikan karakter buan hanya pada tataran administratid, tetapi mampu menjadi sebuah model dengan tngkat keberhasilan yang nyata dan terukur.

Pendidikan menghidupkan nilai (LVE) dapat mewakili tanggung jawab orang tua dalam memastikan anak-anaknya memiliki kepribadian yang berbasis nilai luhur agama dan budaya. Pasalnya, pendidikan menghidupkan nilai dapat berlaku efektif terutama didasarkan pada keyakinan mendasar; Pertama, semua orang telah memiliki nilai kebaikan, baik dari Tuhan dan dari pengalaman sosial. Atas dasar ini, proses pendidikan tidak dilakukan dengan "memaksa" anak-anak untuk bernilai, melainkan mendorong setiap anak untuk mengapresiasi "nilai baik" pada dirinya, merefleksikannya, kemudian melahirkan nilai sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Kedua, nilai tidak bisa diajarkan, nilai hanya bisa diteladani. Melalui keyakinan ini LVEP terliih hadulu membantu para pendidik untuk melahirkan nilai dirinya (kesadaran nilai), kemudia dilengkapi keterampilan-keterampilan agara nilai-nilai itu bisa dinikmati bersama orang lain, khususnya anak didiknya. (h. 2-3)

Menurut Bambang Q-Anees, selama ini falsafah pendidikan itu hanya digunakan sebagai pedoman cara mendidik bahwa guru harus menjadi teladan, pemberi semangat dan pemberdaya. Padahal dalam paradigma pendidikan karakter, falsafah itu adalah tujuan ideal sumber daya manusia yang dihasilkan dari sistem pendidikan Indonesia. Pertama, falsafah ing ngarso sung tulodo dapat berarti ketika menjadi pemimpin, manusia Indonesia seharusnya menjadi teladan bagi yang lainnya bukanlah hal yang mudah. Tujuan dasar dari falsafah pertama ini adalah setiap manusia terdidik harus menjadi pemimpin dan pemberi teladan, untuk mencapai peran itu dibutuhkan pribadi yang benar-benar memiliki karakter yang baik. Seharusnya kurikulum dan kultur akademik pendidikan Indonesia mengarahkan pada tujuan ideal ini.

Kedua, ing madyo mangun karso adalah tujuan tetap memberikan manfaat bahkan jika hanya menjadi pelaksana dari kegiatan tertentu, atau manajer tengah, dengan cara membangun karsa sehingga terjadi perubahan. Ketiga, tut wuri handayani, manusia Indonesia harus rela tidak terlibat dalam pengaturan negara, sebagai rakyat biasa, dengan ikhtiar memberi semangat yang memberdayakan.

Ketiga falsafah pendidikan Ki Hajar ini, sekali lagi, adalah falsafah pendidikan karakter manusia Indonesia yang tetap memberikan kebaktian bagi kemaslahatan bersama dalam posisi apapun. Bila saja falsafah ini telah menjadi keyakinan dan kebiasaan manusia Indonesia tentu semua orang akan bertanggung jawab, malu korupsi dan berprestasi ketika menjadi pemimpin, rela dan ikhlas menjadi rakyat biasa sekaligus menjadi penyemangat perubahan, dan menjadi bagian dari tim pemerdekaan masyarakat dengan kemampuannya masing-masing. (h.xxv-xxvi)

Buku ini menawarkan sisi lain dari pendidikan karakter yang mungkin diabaikan selama ini, yakni nilai. Pendidikan karakter pada buku ini dapat disamakan sebagai “pendidikan menghidupkan nilai”. Asumsinya hampir mirip dengan Lickona, yakni pada diri setiap manusia sudah ada modal dasar, yakni virtue yang tinggal ditumbuhkan melalui proses pendidikan yang benar agar menghasilkan tindakan-tindakan yang berbasis value (nilai). Perbedaannya dengan Lickona ada pada pilihan istilah antara value dan moral. Lickona lebih memilih istilah moral, sementara buku ini sebagaimana dikembangkan oleh Living Values Education Program memilih kata value (nilai). (h. xxx).

Ada tiga aspek utama yang digagas oleh buku ini: Pertama, karena masing-masing manusia telah memiliki value atau virtue maka hal terdasar dalam pendidikan karakter adalah mendorong masing-masing pelaku pendidikan untuk menyadari nilai/virtue yang sudah ada dalam dirinya. Guru adalah subyek pertama yang harus menyadari nilai atau virtue yang ada dalam dirinya, yang diyakininya selama ini, dan yang “diam-diam” –tanpa sadar—dijadikan rujukan bagi tindakan, pikiran, dan ucapannya. Inilah tahap menghidupkan yang pertama. Tahap ini seperti menegaskan “masing-masing orang sudah memiliki benih virtue atau value, akui benih itu, olahlah, sehingga tumbuh menjadi karakter baik”.

Kedua, setelah guru bertindak berdasarkan kesadaran akan nilai dirinya maka ia secara otomatis menjadikan dirinya “teladan” yang memancing murid-muridnya mengolah dan melahirkan “benih nilai” yang juga sudah ada dalam dirinya masing-masing. Ketiga, tidak hanya guru yang menjadi pusat pengolahan dan penumbuhan nilai namun dibutuhkan juga “budaya sekolah” yang dibangun dengan spirit “mengolah dan menumbuhkan” nilai.

Secara teknis buku ini menunjukkan sejumlah cara agar guru dapat mengelola kelasnya menjadi berbasis nilai. Pada buku ini misalnya dikemukakan bagaimana cara mengajukan kontrak belajar, membuat aturan disiplin, cara mendengarkan dan mengapresiasi siswa, cara melerai konflik, cara mengkondisikan, dan sejumlah cara lain yang mendorong semua aktivitas mengajar dapat menumbuhkan nilai. (h. xxxiii-xxxiv)

Dengan hadirnya buku ini, mudah-mudahan dapat menginspirasi setiap orang untuk menghidupkan nilai-nilai kebaikan agar bisa dinikmati bersama. Menjadi rujukan para praktisi pendidikan untuk kreatif memberi pelayanan professional kepada anak dengan mengutamakan nilai-nilai (values), softskill, dan hardskill anak. Membantu orangtua untuk meningkatkan komunikasi keluarga yang menstimulus anak agar menjadi insan yang memiliki kesadaran intelektual, fisik, emosional, dan spiritual yang berkualitas, memiliki kepercayaan diri dan arah tujuan hidup.

Mendorong lembaga pendidikan, lembaga sosial, komunitas, lembaga filantropi, pemerintah, dan masyarakat luas untuk berperan menghidupkan karakter (akhlaqul karimah) generasi muda saat ini. Menuju lingkungan yang lebih baik, saling menghargai, dan mampu hidup berdampingan dengan orang lain. Semoga.[Ibn Ghifarie]

Judul : Sekolah Berbasis Nilai, 7 Tahap Menghidupkan Nilai, Softskill dan Hardskill
Penulis : Mochamad Ziaulhaq
Prolog : Dr. Bambang Q-Anees, M.Ag (Spiritualis & CEO Values Insitute)
Epilog : Wayan Rustiasa (Co-Fouder Karuna Bali Foundation)
Cetak : 1, Mei 2015
Penerbit : Ihsan Press bekerjasama dengan Values Insitute
Halaman : 163 + xIii
ISBN : 978-602-96949-1-8

  • view 381