Rohis sebagai Pelopor Bangsa

Ibn Ghifarie
Karya Ibn Ghifarie Kategori Buku
dipublikasikan 10 Juni 2016
Rohis sebagai Pelopor Bangsa

Diakui atau tidak, selama ini masih ada sebagian masyarakat yang beranggapan bahwa rohaniawan Islam (rohis), aktivis mesjid di sekolah-sekolah umum (perguruan tinggi) itu belum bisa memberikan kontribusi yang jelas terhadap pembangunan karakter suatu bangsa, bahkan dikategorikan tidak ikut andil dalam mempertahankan keutuhan NKRI.

Betapak tidak, hasil penelitian Sidney Jones, Crisis Group International itu menunjukkan aktivitas rohis sangat erat dengan gerakan radikal dan pemerintah harus mulai mengawasi, mengontrol jaringan terorisme yang masuk ke wilayah SMP, SMA melalui kegiatan ekstrakurikuler rohis. Bandingkan dengan hasil survei yang dilakukan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) menyebutkan, meski ada peningkatan kecenderungan radikalisme di kalangan siswa sekolah menengah ini tidak ada keterkaitan dengan segala kegiatan rohis.

Padahal dalam buku 24 Minggu Menjadi Teladan Bangsa, Buku Agenda Pelajar Muslim  karya Irfan Amalee dkk menjelaskan rohis yang menjadi bagian dari organanisasi intra OSIS, merupakan salah satu kegiatan ekstrakulikuler yang sangat penting dalam menciptakan pelajar-pelajar muslim yang memiliki karakter kebangsaan yang kokoh, diimbangi oleh semangat keislaman yang moderat dan terbuka. (h. xvii-xviii)  

Peran rohis sebagai salah satu kegiatan ekstrakulikuler di sekolah sangatlah penting. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat membawa pengaruh yang sangat besar terhadap pola pikir dan gaya hidup para pelajar. Pengaruh perkembangan teknologi tidak hanya membawa dampak positif, tetapi juga berdampak negatif yang menyebabkan perilaku (akhlak) pelajar yang semakin jauh dari nilai-nilai agama Islam.

Memang, tak dapat dimungkiri keberadaan kegiatan rohis di sekolah-sekoah negeri menjadi elemen yang sangat penting dalam menumbuhkan semangat dan pengetahuan keislaman di kalangan pelajar. Namun demikian, penumbuhan semangat keislaman yang sudah berjalan selama ini mesti dipadukan dengan nilai-nilai dan karakter kebangsaan yang toleran dan menghargai perbedaan yang berakar dari sejarah keindonesiaan.

Dewasa ini, kita menyaksikan nilai-nilai luhur keindonesiaan sedemikian tergerus dalam kehidupan generasi muda. Ini misalnya ditandai dengan maraknya pandangan sektarianisme, intoleransi dan pandangan-pandangan yang menjurus pada munculnya fenomena kekerasan di kalangan pelajar dan remaja. Tentunya menjadi keprihatinan bersama, di tengah kondisi kebangsaan yang sekamin tidak menentu.

Dalam situasi seperti ini, penting kiranya untuk memperkuat nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil 'alamin yang dibumikan sesuai dengan kontek kebangsaan yang beragam sebagaimana yang terjadi di Indonesia. Islam sebagai sebuah tuntunan dan sumber ajaran moral perlu disandingkan dan diselaraskan dengan nilai-nilai historis keindonesiaan yang telah tertanam dalam bumi Indonesia, seperti nilai-nilai empati, kasih sayang, keramahan, kedamaian, gotong royong dan keterbukaan terhadap realitas perbedaan yang ada. (h. viii)

Disusunya buku ini, berawal dari sebuah gagasan sebagai upaya bagaimana rohis bisa menjadi pilihan kegiatan ekstrakulikuler yang menarik di kalangan para pelajar, maka buku panduan ini dapat dijadikan pedoman paraktis bagi aktivis rohis dalam menjalankan aktivitasnya. Rohis diharapkan menjadi salah satu kegiatan yang banyak diminati oleh para pelajar. Dengan demikian, akan lahir aktivitas-aktiuvitas rohis yang mampu mewarnai wajah pelajar Islam Indonesia yang memiliki wawasan keislaman yang mengakar dan karakter yang kuat dalam berdakwah sehingga bisa melahirkan sosok pemimpin ideal di masa yang akan datang. (h. vi)

Melalui Buku ini Maarif Insitute telah berupaya kuat untuk memadukan nila-nilai universal keislaman di satu pihak, namun di pihak lain tidak tercerabut dari akar-akar keindonesiaan yang menjadi pedoman dalam penghayatan para pendiri bangsa ini. Di dalamnya tidak hanya berisi nila-nilai yang memadukan antara wawasan keislaman dan kebangsaan, tapi dilengkapi dengan teladan-teladan terbaik bagaimana nilai-nilai tersebut diperaktekkan oleh para pendiri bangsa kita. Di setiap bab pada buku ini juga dilengkapi oleh tips-tips dan panduan paraktis agar nilai-nilai itu dapat diimplementasikan oleh pembacanya. Sedangkan di bagian terakhir setiap bab dalam buku ini, pembaca akan dituntun untuk melaksanakan langkah-langkah yang telah dituntunkan bagian untuk merealisasikan nilai-nilai yang menjadi pedoman dalam buku ini. (h. viii-ix)

Buku ini merupakan wujud komitmen bersama pelbagai pihak untuk memberikan panduan wawasan kebangsaan kepada para pelajar yang aktif di organisasi keislaman (rohis). Kami percaya bahwa kepemimpinan bangsa di masa mendatang akan berasal dari para pelajar Muslim, kami percaya bahwa kepemimpinan bangsa yang mengayomi kebhinekaan dan menghargai perbedaan adalah kemutlakan di Negara Pancasila ini. (xviii)

Mengenai isi buku ini: Pertama, dengan merangkum berbagai gagsan yang muncul, maka lahirlah 12 nilai yang merupakan rangkuman dari semua gagasan tersebut. Kedua, melalui pemahaman, penghayatan serta pengalaman nilai-nilai ini diharapkan aktivis rohis memiliki wawasan keislaman yang kuat serta wawasan kebangsaan yang mengakar. Ketiga, bukan berisi wawasan (informasi), tapi juga berisi panduan aksi nyata untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut. (h. xx)

Uniknya, dalam buku ini, setiap bab terdiri dari Hikmah, Nilai Inti, Qudwah Tokoh Bangsa, Tips Praktis dan Misi Minggu ini. Tiga bagian pertama cukup dibaca dan dihayati. Bagian keempat (tips) berisi panduan praktis untuk mengimplementasikan nilai-nilai tersebut. Pada bagian terakhir, Misi Minggu ini, pemilik buku diharapkan untuk menjalankan misi tersebut selama seminggu. Pembaca bisa masuk ke materi berikutnya jika misi pada minggu sebelumnya telah dilaksanakan.

Total 24 misi yang harus dilaksanakan selama enam bulan. Setiap misi yang telah dilaksanakan akan dicatat pada lembaran yang tersedia. Maarif akan memberikan penilaian dan penghargaan pada peserta yang menjalankan semua misinya dengan baik. (h. xxii)

Ihwal 12 Nilai Rohis Pelopor Kebangsaan ini; Pertama, Taqwa: Memahami Islam dan Menjalankan Syariat-Nya. Kedua, Thalabul Ilmi: Menuntut Ilmu. Ketiga, Shiddiq : Jujur. Keempat, Adil: Bersikap Adil. Kelima, Husnudzan : Berbaik Sangka. Keenam, Taaruf: Bersahabat. Ketujuh, Tafahum : Empati. Kedelapan, Taawun: Peduli dan Tolong Menolong. Kesembilan, Tasamuh : Toleran. Kesepuluh, Musyawarah : Bermusyawarah. Kesebelas, Hubbul Wathan : Cinta Tanah Air. Keduabelas, Amar Makruf Nahi Munkar : Mengajak Kepada Kebaikan dan Mencegah Kemunkaran.

Bagi Ahmad Safii Maarif, mudah-mudahan dengan hadirnya buku ini menjadi bukti atas berhasilnya memadukan pesan universal Islam dan kemanusiaan seperti empati, kepedulian, toleransi dan cinta tanah air dalam konteks semangat keindonesiaan yang diteladankan dalam praktek oleh para tokoh bangsa. Ditulis secara ringan dengan  daya populer, buku ini berupaya menghadirkan nilai-nilai keislaman, keindonesiaan dan kemanusiaan dalam satu tarikan nafas. Sangat penting dibaca oleh generasi muda Muslim Indonesia. Selamat membaca.[Ibn Ghifarie]  


Judul : 24 Minggu Menjadi Teladan Bangsa, Buku Agenda Pelajar Muslim
Penulis : Irfan Amalee, Bambang Q-Annes, Muhd. Abdullah Darraz
Pembaca Ahli : Ahmad Safii Maarif, Amin Haedari, Irfan Abu Bakar, Fajar Riza Ul   Haq
Kontributor : Tim Guru dan Siswa
Cetakan : 1, 2014
Halaman : 168
ISBN : 978-602-97198-7-1

  • view 160