Puasa Itu Momentum Menahan Diri

Ibn Ghifarie
Karya Ibn Ghifarie Kategori Agama
dipublikasikan 10 Juni 2016
Puasa Itu Momentum Menahan Diri

Sejatinya, kehadiran puasa di bulan ramadhan ini harus menjadi kawah candradimuka (madrasah ruhaniyah) yang dapat melahirkan peradaban Islam Nusantara berbasis keimanan yang kukuh dan tidak menciderai kemanusiaan dengan tidak melakukan perbuatan tak terpuji, kotor, lalim dan berdosa.

Pasalnya, puasa tidak hanya bersifat ritual personal (hablu minallah) semata, tetapi memberikan dimensi kemanusiaan (hablu minnas), mulai dari peduli terhadap fakir, miskin, gerakan perubahan sosial, solidaritas sampai kesinambungan ajaran agama-agama.

Menurut Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Guru Besar UIN SGD Bandung menjelaskan puasa itu intinya akan melatih kita mengendalikan angan-angan dan khayalan. Pengendalian ini sangat sangat tidak mudah karena ia sering aktif tanpa disengaja. Tidaklah sembarangan puasa mampu memberikan tempat seperti itu.

Puasa Ramadhan dan puasa pada umumnya, adalah “pelengkap”, “penyempurna” usaha-usaha pada maqom sebelumnya (syahadat, shalat, zakat). Tujuan besar yang hendak dicapai dengan melaksanakan puasa Ramadhan ialah agar kita benar-benar dapat mengandalikan diri. Ini sungguh penting dalam kehidupan ini. Banyak kejadian yang sangat merugikan kita gara-gara kita kurang mampu mengendalikan diri.

Sebenarnya orang yang sungguh-sungguh mampu mengandalikan diri adalah mereka yang telah mencapai tingkat tinggi dalam penyucian diri. Agar puasa itu dapat memberikan dampak kemampuan pengendalian diri, puasa itu mesti ditunaikan dengan penuh kesabaran. (Prof. Dr. Ahmad Tafsir, 2012: 71&73)

Umat Islam menyakini orang yang berpuasa tidak boleh mempunyai pikiran jahat. Orang berpuasa harus menjaga hati dari sifat dengki, hasud, benci tanpa alasan yang dibenarkan syari dan dendam; menatap mata dari pandangan yang dilarang oleh agama.

Seperti pertunjukan yang merangsang hawa nafsu;  menjaga lidah dari perbuatan yang jorok, gibah, tidak mengadu domba (namimah). Jadi pada hakikatnya puasa sebagimana tersirat dalam makna kata dasar ash-shiyam, pengendalian diri (self control).

Bagi Nurcholish Madjid menahan diri menjadi inti ajaran puasa, ternyata merupakan masalah mendasar dan klasik dalam problematik kemanusiaan secara umum, bahkan pada zaman modern sekalipun. Masalah ketidakmampuan menahan diri, sebagaimana diilustrasikan Al-Quran, juga menjadi titik permulaan terjadinya drama kosmis (kejatuhan manusia) dari surga ke bumi ini.

Dalam idiom Al-Quran disebut drama al-hubûth dan dalam bahasa Inggris disebut doctrine of fall. Nabi Adam dan Hawa, sebagai simbol nenek moyang manusia, terbukti tidak mampu menahan dan mengendalikan dirinya dari godaan setan sehingga akhirnya mereka digelincirkan ke dalam perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt.

Sumber segala potensi yang mendorong manusia melakukan pelanggaran adalah godaan berupa makan, minum, dan seks. Ketiga masalah itu disimbolisasikan dalam ajaran berpuasa sebagai hal-hal yang harus ditahan atau dinyatakan dapat membatalkan puasa, sebagaimana sudah menjadi kesepakatan para ulama fiqih.

Pada kenyataannya hampir seluruh masalah kemanusiaan yang ada sekarang pun terjadi akibat ketidakmampuan manusia menahan diri dari ketiga godaan tersebut. Sumber lain, kalau kita mau telusuri, sebagaimana disebutkan dalam lanjutan ayat yang memerintahkan berpuasa, adalah ketidakmampuan manusia menahan diri dari dorongan dan godaan harta.

Itulah sebabnya, barangkali, masalah puasa dikatakan sebagai masalah, gerakan back to basic. Sebab ini menyangkut masalah menahan dan mengendalikan diri dari potensi-potensi yang akan dapat menggelincirkan manusia pada kejatuhan moral dan spiritual. (Ensiklopedi Nurcholish Madjid Jilid III, 2006:2780-2781).

Kiranya, petuah Rasulullah tentang pentingnya menjaga (mengendalikan, menahan) diri saat shaum ini,“Barang siapa tidak mampu meninggalkan dengki (perkataan kotor) dan mengerjakannya, maka sesungguhnya Allah Swt. tidak memiliki kepentingan baginya untuk meninggalkan makanan dan minumannya; “Banyak orang berpuasa, tetapi dari puasanya ia tidak mendapatkan sesuatu, kecuali rasa lapar dan dahaga.” Semoga.[Ibn Ghifarie]

  • view 135