Jadilah Duta Perdamaian di Internet

Ibn Ghifarie
Karya Ibn Ghifarie Kategori Agama
dipublikasikan 09 Juni 2016
Jadilah Duta Perdamaian di Internet

Dunia maya telah menjadi bagian penting dalam membentuk pemikiran, perilaku, perbuatan sekaligus kebutuhan dasar (gaya) hidup manusia kini. Saking pentingnya dunia maya ini, aksi terorisme, radikalisme dan bom bunuh diri kerap menggunakan teknologi mutakhir lengkap dengan berbagai jejaring soasialnya. Pada kasus bom bunuh diri Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Sepunton Solo, pelaku Pino Damayanto (Ahmad Urip), anggota Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) Cirebon sempat browsing di Warnet Solonet.

Greg Fealy dan Anthony Bubalo mengakui kuatnya pengaruh radikalisme Timur Tengah--dari Ikhwanul Muslimin hingga Al-Qaeda--di Indonesia dari bacaan buku ke publikasi internet.Pentingnya internet sebagai alat untuk tansmisi dan diseminasi ide-ide terutama sangat kuat di kalangan kelompok salafi Indonesia. Lepas dari konservatisme sosial mereka yang khas, justru menggunakan internet karena media itu menawarkan kesempatan untuk menciptakan identitas islam yang generik (de-culturated) dengan melahirkan situs-situs www.salafi.net, www.salafipublications.com. (Greg Fealy dan Anthony Bubalo, 2007:101-104)

Diakui atau tidak, kekuatan internet terletak pada keparadokskan dan kekontradiksinya. Pasalnya, cyberspace merupakan ruang maya yang dibentuk melalui jaringan antarkomputer. Ketika mengembara di dalamnya kita akan menemukan berbagai panorama yang penuh paradoks dan kontrdiksi; kesenangan-ketakutan, kebaikan-keburukan, keaslian-kepalsuan. Paradoks cyberspace memang sama saja dengan paradoks di dalam dunia nyata, tetapi ia bersifat ekstrem, kuat, langsung, intens.

Jeff Zaleski menyajikan sebuah peta pemikiran di balik cyberspace dengan menampikan berbagai gagasan, termasuk paradoknya dari berbagai cyberist, cyberreligionistis, cyberprogrammers. Mereka optimis terhadap realitas baru cyberspace yang dianggap akan dapat menggantikan realitas yang ada dan dapat menjadi semacam agama baru, spiritualitas baru, Tuhan baru. Di samping itu Zaleski menggambarkan bagaimana sikap fatalis mereka dalam menghadapi berbagai sisi buruk dan menakutkan dari dunia baru.

Pada sisi lain, Zeleski menampilkan peta pengguna cyberspace oleh berbagai kelompok real religionist (Hindu, Buddha, Yahudi, Kristen, Islam) bagaimana dunia baru ini digunakan sebagai sarana penyebaran ajaran agama, komunikasi antarumat beragama, bahkan sebagai penyalur energi spiritual. Bagaimana cyberspace menjadi sarana yang positif dan efektif bagi realitas keberagamaan di dalam masyarakat global ini.

Mark Slouka, kritikus budaya Amerika sangat sinis terhadap orang di balik teknologi informasi dengan melontarkan kritik pedas terhadap para filsuf dan ideologi yang ada di balik teknologi cyberspace yang menanamkan diri net religionists, orang-orang yang mempunyai obsesi ingin menjadi Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang percaya dunia pikiran dapat dimuat (dibuatkan simulasinya) dalam komputer. Juga percaya masa depan manusia tidak berada di RL (Real Life) tetapi dalam berbagai bentuk VR (Virtual Reality). Pun menyakini cyberspace adalah sebuah bentuk lebih tinggi daripada spiritualitas. Mereka melalui teknologi komputer seakan-akan menciptakan semacam gerakan kenabian menurut versi mereka.

Dalam kondisi demikian, sebagimana yang dikatakan oleh Hakim Bey di dalam The Information War, Media (cyberspace) mengambil alih peran agama (pendeta). Dalam tugasnya memberi manusia petunjuk jalan keluar dari tubuh dengan cara mendefinisikan ulang ruh sebagai informasi. Padahal hakikatnya informasi di dalam cyberspace merupakan image yang wujud abstraknya merampas keutamaan prinsip tubuh dan menghentikannya dengan prinsip ekstasi tanpa tubuh. (Yasraf Amir Piliang, 2011:255-266 dan 278).

Menyikapi kuatnya keberadaan internet yang dijadikan alat sebagai proses belajar radikalisme, terorisme, aksi bom bunuh diri, seperti hasil studi yang dilakukan bersama Brooking Institution dan Google Web, yang dipublikasikan New York Times ada 46 ribu akun twitter untuk propaganda ISIS, maka pihak twitter memblokir 125000 akun berbau ISIS.

Caranya dengan menampilkan konten-konten yang mengajak setiap pengunjung untuk mempraktikkan toleransi, dialog antaragama, semangat pluralisme, hidup berdampingan, kerukunan, perdamaian, menjunjung tinggi hak asasi manusia, dan demokrasi sebagai upaya menanggulangi konflik horizontal dan vertikal.

Kehadirkan tulisan yang teduh pada website pribadi (blog), catatan di jejaring sosial, situs komunitas, kejoyokan, portal menjadi bagian penting untuk menangkal penyebarluas benih-benih kebencian berbau SARA, ajakan untuk melakukan tindakan radikalisme, aksi terorisme, hingga rekrutmen pengantin bom bunuh diri.

Inilah pentingnya menjadi duta perdamaian di internet (media sososial). Mudah-mudahan keberadaan internet ini tidak dijadikan alat sebagai proses belajar radikalisme, terorisme, aksi bom bunuh diri. Terwujudnya generasi pengguna internet sehat di Indonesia yang menjadi cita-cita bersama-sama. Semoga. [Ibn Ghifarie]  

  • view 79