LGBTQ itu tidak untuk dihakimi tetapi dirangkul dan dibina

Ghea Mirrela
Karya Ghea Mirrela Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Februari 2016
LGBTQ itu tidak untuk dihakimi tetapi dirangkul dan dibina

?

Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender dan Queer lagi hangat-hangatnya dibicarakan. Banyak yang menghujat mereka dan mencaci dengan kata-kata yang tidak pantas untuk didengar apalagi dibaca. Saya menulis ini bukan karena pendukung LGBTQ. Tidak sama sekali. Bagi saya tetap pasangan itu laki-laki dan perempuan. Adam dan Hawa bukan Adam dan Steve. Mari kita berfikir dingin sejenak.

Saya mengenal istilah LGBTQ ini pada tahun 2010 pada saat latihan debate dengan motion THW Ban LGBTQ. Awalnya saya sependapat dengan beberapa teman-teman untuk menjauhi mereka yang mengarah kesana. Namun, rasa penasaran itu semakin menjadi apalagi di kelas kami juga belajar Teori LGBTQ meski tidak detail. Akirnya saya membuat tugas semester tentang LGBTQ

Saya mencurigai seseorang yang notabene adalah Lesbian. Mulai dari photo-photo yang ia upload di facebook. Saya menemuinya. Dan memang saya sudah lama mengenalnya. Awalnya ia menolak untuk saya tanyai. Berbagai alasan ia katakan. Hingga akirnya saya mengatakan padanya bahwa saya tidak akan menyebutkan identitasnya. Saya hanya butuh data, tidak ada record, tidak ada photo yang diblur kan. Ia setuju.

Ternyata kecurigaan saya benar. Ia lesbian dan memiliki pasangan yang juga satu kampus dengannya. ada 2 hal yang saya dapatkan

1. Lingkungan Keluarga

Sedari kecil ia tomboy. Berprilaku layaknya laki-laki. Berpakaian layaknya laki-laki. Bahkan rambutnyapun juga pendek bak brimob. Tidak ada kecemasan orangtua padanya. Orangtua dan keluarga menganggap hal yang lumrah terjadi padanya. Keluarga menanggap semua baik-baik saja. Serta kurangnya kasih sayang dan kontrol dari kedua orang tua meskipun ia berasal dari keluarga berada

2. Lingkungan Luar
ini poin yang ingin saya jelaskan. Banyak yang menganggap bahwa perempuan dan perempuan dikamar biasa mah pake baju pendek aja. Biasa mah pake Hot Pant aja. Wong kita sama-sama perempuan. Biasa mah mandi berdua cuma pake Bra dan underwear aja. Kan perempuan.

Nah, Perempuan ini awalnya juga begitu. Tinggal satu kosan dengan teman perempuan yang juga satu kampus dengannya. Awalnya bercanda biasa. Senang berpakaian minim dikosan kadang hanya 2 piece saja. Kan perempuan. Sempat terjadi pertengkaran hebat dikeluarganya. Ia butuh teman untuk curhat dan pastinya teman sekamar ini. Ia tidak menjelaskan detail. Dari sana rasa suka sesama jenis itu muncul. Ia merasa nyaman dan terlindungi saat down. Naasnya, Mereka melakukan hal-hal layaknya pasangan resmi. Innalillah.rjadi. Bukankah tugas kita saling mengingatkan tanpa harus melukai orang yang kita ingatkan. Berikan pengajaran yang baik agar ia kembali kepada kodratnya.

Untuk teman-temanku yang lain. LGBTQ lagi trending topic, berhati-hatilah dalam menshare berita. Jangan tujuannya untuk mengedukasi malah tanpa sadar kita yang menyuarakan setuju LGBTQ. Udah itu saja.

  • view 169

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    2 tahun yang lalu.
    Baru sadar ternyata jalan menjadi LGBT seperti itu yah, malah jadi bingung upaya pencegahannya kepada generasi yang berikutnya, karena tak mungkin juga berlaku aturan sesama wanita dilarang kos satu kamar, dll...