Perselingkuhanmu adalah obat patah hati bagiku

Ghea Mirrela
Karya Ghea Mirrela Kategori Inspiratif
dipublikasikan 25 Oktober 2016
Perselingkuhanmu adalah obat patah hati bagiku

Saat aku menulis tulisan ini, hatiku benar-benar sudah ku tata serapi mungkin. Hatiku benar-benar sudah ikhlas melepaskan kepergianmu bersama orang baru yang ku sebut orang ketiga.

Orang banyak mengatakan banyak sekali cobaan menjelang hari pernikahan. Ada yang di uji dengan kedatangan orang dimasa lalu dan tak sedikit juga di uji dengan kehadiran orang baru. Tanggal pernikahan kita sudah ditentukan bertepatan dengan hari kelahiranku. Aku berharap tahun ini adalah tahun yang paling membahagiakan sepanjang hidupku. Semua telah kupersiapkan dengan sangat matang. Kamu tau aku adalah perempuan yang suka memberikan kejutan. Aku sudah menyiapkan video sejak pertama kali aku berjumpa denganmu hingga hari pertunangan kita. Aku sudah menyiapkan semuanya serapi mungkin sebagai hadiah di hari pernikahan kita kelak.

Dulu aku pernah mengantungkan sebuah harapan kepadamu. 4 tahun 3 bulan bukanlah waktu yang sebentar bagi kita untuk saling mengenal hingga kamu memutuskan untuk bertunangan denganku. Aku tak sabar menanti hari istimewa itu datang. Sudah kubayangkan akan menjadi perempuan paling cantik dihadapanmu ketika hari itu tiba. Pertunangan kita berlangsung dan tanggal pernikahan kita juga sudah di tentukan. Aku kembali memutar kembali bagaimana perjuangan kita dulu. Bagaimana mana perjuangan kita bisa menghadapi ucapan temanku yang mengatakan kamu tak sepadan denganku karena aku seorang sarjana dan engkau lulusan SMP. Kamu yang dulunya seorang karyawan dengan gaji Rp 500.000/bulan sekarang sudah bisa membuka usaha sendiri. Bulir-bulir kristal jatuh di bola mataku. Tuhan aku bahagia!

Hari demi hari aku berharap setelah pertunangan kamu menjadi lebih sayang kepadaku. Ternyata aku salah. Kamu menjadi sangat kaku dan sama sekali tak perduli. Aku bingung. Hingga suatu hari terjadi pertengkaran hebat diantara kita. Ini kali pertamanya kita bertengkar hebat. Kamu menjauh dan akupun mulai menjauh. Aku hanya ingin tau alasan apa yang membuatmu berubah. Malah kamu mengatakan aku tidak ada dalam istikharahmu. Hancurnya hatiku. Bagaimana mungkin kalimat itu bisa kamu lontarkan?

Semakin hari keadaan hubungan kita semakin memburuk. Aku menghukum diriku sendiri. Mungkin ada ucapanku yang tak pada tempatnya terucap kepadamu. Aku merusak diriku sendiri dengan tak lagi fokus pada apapun yang aku kerjakan. Semua kegiatan bahkan karirku nyaris hancur. Andai pertengkaran itu tak pernah terjadi. Kata seandainya muncul di benakku. Berkali-kali aku meminta maaf kepadamu. Jawabanmu tetap sama. Kita sudah tak bisa lagi bersama.

 

Pertengkaran yang selama ini asing bagi kita, kini menjadi sebuah rutinitas. Hingga kata pisahpun pernah terucap untuk pertama kalinya. Akupun pernah meminta maaf, tetapi hatimu membatu. Kamu mengatakan tidak akan pernah bisa kembali lagi. Pihak keluarga memintamu untuk berfikir ulang. Akupun bersabar. Perlahan tapi pasti, ada rasa sesak yang kurasakan saat tanpa sepengetahuanmu. Aku mengetahui kamu sedang dekat dengan seorang perempuan melalui dunia maya yang notabene belum pernah kamu lihat wujud aslinya. Tanpa sepengetahuanmu. Aku sudah memperingatkan perempuan itu untuk tidak bermain api. Aku masih tunangan sahmu hingga detik itu.

Bulan demi bulan aku menjalani hari-hari tanpa ketidak pastian. Aku berharap pernikahan ini masih bisa di selamatkan karena aku dan kamu mencapai semua ini sama-sama dari nol. Aku ingin kesuksesan ini juga kita lewati bersama hingga akir hayat kita. Aku gundah hingga kuberanikan diri menanyakan langsung kepadamu tentang orang ketiga itu. Kamu bersikeras mengatakan tidak ada apa-apa

"Sayang, tulisan yang ditulis oleh perempuan ini sama persis dengan yang kutulis 4 tahun lalu saat aku menerima cintamu". Ada hubungan apa antara kalian berdua? Jika ia yang terbaik, Aku ikhlaskan semua perjuanganku. Percepatlah kepulanganmu agar tidak terlalu lama rasa sakit ini aku bawa"

Berkali-kali aku bertanya pada bulan Agustus lalu. Berkali kali juga kamu mengatakan tidak ada hubungan apa-apa. Aku mencoba bersabar dalam ketidak pastian ini meski sudah banyak yang menyarankan aku untuk menyudahi. Maafkan aku. Aku lebih memilih memperbaiki yang rusak dari pada harus memulai dengan orang yang baru.

Lagi dan lagi, Kamu membiarkanku terombang ambing dalam ketidak pastian ini. Aku gamang kala itu. Pertanyaaan KAPAN MENIKAH mulai membuatku bosan. Aku harus tersenyum dalam tangis. Aku harus tersenyum dalam duka ketika aku harus dihadapkan pada sebuah projek sosial yang berlokasi hanya 300 meter dari rumah kedua orangtuamu. Aku harus pura-pura. Aku bermuka dua dihadapan mereka seolah semua baik-baik saja bahkan ibumu pun masih mengatakan bahwa aku calon istrimu pada awal Oktober lalu. Ah, Aku buyar!!!

Apa yang harus aku lakukan selain berdoa dan berharap semua hanya fikiran negatifku saja? Perlahan tapi pasti. Satu persatu permainanmu mulai terbuka. Kamu yang secara adat masih sah tunanganku mulai terang-terangan mengakui orang ketiga itu sebagai penganti diriku. Aku mengira kala itu aku akan patah hati, ternyata itulah kekuatan terbesar bagiku untuk menjadikanmu hanya sebagai sejarah dalam hidupku. Akupun dengan berani menemuimu untuk mengucapkan kata selamat. Tak lama setelah kata itu terucap kamu dan orang ketiga itu secara serentak memblokir semua akun sosial mediaku. Aku ucapkan terimakasih.

Untukmu orang ketiga. Aku menganggap kamu adalah malaikat yang dikirimkan oleh Tuhan untuk membuka mataku agar aku tau siapa yang pantas aku perjuangkan. Setidaknya jikapun kalian disatukan menikah, kamu hanya mendapatkan sisa-sisa kasih sayang. Sisa kasih sayang darinya. Sisa kasih sayang dari kedua oranguanya. Sisa kasih sayang dari keluarganya karena akulah perempuan pertama yang ia kenalkan kepada mereka semua. Sekarang, hatiku benar-benar telah kokoh setelah melewati bulan demi bulan yang penuh tanda tanya. Aku percaya, di luar sana ada laki-laki yang benar-benar setia menungguku. Bisa jadi ia adalah orang yang selama ini memperhatikanku dalam diam. Bisa jadi ia sahabatku atau rekan kerjaku.

Untukmu yang 4 tahun lebih menemaniku. Tidak ada yang aku sesali. Inilah yang kusebut dengan takdir. Aku dengan nafas lega menatap hariku menjadi lebih baik selepas kepergianmu. Ini aku yang sekarang menjadi lebih tegar. Terimakasih sudah membukakan mata hatiku bahwa ada cinta yang tulus yang lebih pantas untuk aku perjuangkan kelak

Menikah bukanlah perkara huru hara belaka tetapi tentang istikharah cinta yang akan membawaku kepada keabadian nan hakiki.

 

Cara Terbaik membalas perselingkuhanmu adalah dengan terus bekarya bukan berlomba-lomba mencari penganti dirimu.