Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 29 Januari 2016   09:30 WIB
Masih adakah pintu syurga untuk Perempuan "Lacur" Sepertiku?

?Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)?
(An-Nur 26)

?

Denting jarum jam semakin mendekati pukul 08:00. Hanya tinggal hitungannya jam statusku akan berubah menjadi seorang istri. Rasa sesak ini semakin memuncak. Aku tidak ingin menodai pernikahan ini. Aku mencintai mas Hasan karena ibadahnya. Aku mencintai mas Hasan karena ketundukkannya kepada ibu dan bapaknya. Ya Rabb, rasa ini berkecamuk. Apa yang harus aku lakukan? Aku bukanlah perempuan suci yang seperti ia bayangkan. Aku bukanlah perempuan yang menjaga kehormatannya hanya untuk yang halal bagiku.

Disudut kamar kumerenungkan apakah akan melanjutkan pernikahan ini atau tidak. Apa pendapat keluarga besarku setelah tau alasan pembatalan ini? Tidak! ini tidak boleh terjadi. Jalan terbaik yang bisa kuambil hanyalah berkata sejujurnya kepada Mas Hasan. Akan aku terima semua keputusannya, sesakit apapun itu.

Aku mulai memainkan touch screen handphoneku. Gamang! ya, Aku gamang dan tidak tau harus mulai dari mana. Aku harus siap dengan segala resiko. Aku memutuskan untuk menelphone mas Hasan.

" Assalamualaikum, Mas. Mas, dengarin aku. Aku mencintaimu karena ketaatanmu pada yang kuasa dan kedua orangtuamu. Banyak gadis yang tergila-gila kepadamu. Tidak ada satupun yang kurang darimu. Mas, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu. Apapun keputusanmu setelah ini akan aku terima. Mas, 2 bulan bukanlah waktu yang cukup bagimu untuk mengenalku. Aku bukanlah perempuan baik seperti yang kamu kira. Banyak kisah kelam yang sudah aku lakukan bahkan yang dilaknat Tuhan sekalipun. Banyak kisah buruk yang bahkan orangtuakupun tidak mengetahui. Mas, Aku tidak suci lagi. Mas, SEKALI LAGI, AKU TIDAK SUCI LAGI!. Aku sudah memperlihatkan bentuk tubuhku kepada banyak laki-laki sebelum aku mengenalmu. Sudah banyak laki-laki lain yang menyentuh anggota tubuhku. Sudah ada laki-laki lain yang pernah mengecup bibirku. Mas, Aku hina. Aku tidak pantas bersanding denganmu. Aku tidak pantas membangun syurga bersamamu. Mas, batalkan pernikahan ini. Kamu berhak mendapatkan yang layak". Suaraku serak beriringan dengan tangis. Disatu sisi aku lega mengatakan sebuah kejujuran kepadanya. Disisi lain aku harus bersiap-siap atas resiko terburuk yang akan ia sampaikan. Suasana seketika menjadi hening.

?

"Walaikumsalam, Adinda yang akan menjadi istriku beberapa saat lagi. Mas, sedikit terkejut ketika mendengar penjelasanmu. Mas lebih terkejut lagi kenapa baru sekarang kamu mengatakannya. Adinda yang akan menjadi istriku, Mas tidak berhak menghakimimu atas apa yang sudah kamu lakukan. Hanya Allah SWT yang akan membalas semua yang sudah pernah kamu lakukan. Tiada jalan sebaik-baiknya jalan selain bertaubat. Adindaku, semua orang memiliki masa lalunya masing-masing. Kita hidup tidak untuk masa lalu. Kita hidup hari ini dan masa depan. Aku berterimakasih atas kejujuranmu. Tetapi... tetapi". Mas Hasan menahan ucapannya "Tetapi apa Mas?"

?

"Tetapi, Apapun kamu dimasa lalu tidak akan mengubah keputusanku untuk mempersuntingmu. Akan aku terima apa adanya kamu selagi kamu mau bertaubat dan menjaga auratmu. Allah SWT itu maha pengampun. Perbanyak ibadahmu".

?

Ya Rabb, Apakah benar aku masih bisa membangun syurga itu? Apakah benar aku masih pantas mendapatkan cintanya mas Hasan? Lelaki yang rela menerima semua kekuranganku? Entahlah, Aku percaya skenariomu pasti lebih indah. Biarkanlah ia menuntunku menjadi lebih baik lagi.

?

Hari ini, Aku bahagia. Hari ini aku bebas. Hari in Tuhan membukakan pintu ampunya untukku.

Karya : Ghea Mirrela