Toleransi yang Kebablasan dan Fenomena Warung Tenda

Ghea Mirrela
Karya Ghea Mirrela Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 Juni 2016
Toleransi yang Kebablasan dan Fenomena Warung Tenda

Taraaa, Akirnya saya berkomentar juga terkait dagangan ibu yang di sita satpol PP beberapa hari yang lalu. Saya bukanlah orang yang ahli agama. So, please jangan dibilang ustadzah kesiangan. Saya hanya menyampaikan apa yang saya tau dan saya pahami. Tulisan ini bukan mengenai siapa yang salah dan siapa yang benar. Hanya saja jangan terlalu baperan aja dan mengabaikan hal-hal yang patut diperhatikan

Ramadhan adalah bulan yang suci yang sangat di nantikan kehadirannya bagi seluruh umat muslim di seluruh dunia. Bulan yang penuh ampunan. Berpuasa dibulan Ramadhan juga termasuk rukun islam yang ke empat. Ibarat mendirikan rumah jika satu pilar ini tidak kokoh. Maka bangunan rumahpun tidak akan bertahan lama. Didalam Al-Quran sendiri juga sudah dituliskan perintah menjalankan ibadah puasa

??? ???????? ????????? ??????? ?????? ?????????? ?????????? ????? ?????? ????? ????????? ???? ?????????? ??????????? ??????????
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)

Tertera dengan jelas WAJIB hukumnya menjalankan ibadah puasa bagi umat islam yang sudah akir baliqh kecuali bagi mereka yang dalam perjalanan jauh, orang sakit, orang tua renta, Perempuan haid/nifas, Ibu hamil/ menyusui. Inipun mereka harus menganti dengan fidyah atau menganti dihari lain.

Kembali kepada fenomena Ibu yang barang dagangannya disita. Beliau hanya salah satu contoh dari sejuta pedagang warung tenda di bulan Ramadhan

1.Mengutuk Satpol PP yang menyita. Kita yang tidak tau kondisi sebenarnya langsung mengutuk Satpol PP dengan kata "Kejam", "Bejat" dan kata-kata yang lebih miris lagi untuk saya tulis. Coba renungkan kembali maka kata "Menyita" bukan "Membuang" loh. Menyita bearti menahan sampai perkara jelas. Satpol PP melakukan tentu atas instruksi. Pastinya mereka menjalankan sesuai perintah. Pastinya ini bukan tahun pertama satpol PP melakukan razia ini, Bukan?

2. Tidak Toleransi Kepada yang tidak berpuasa.
Hey, come on. Toleransi bagi umat non muslim sah-sah saja. Alhamdulilah juga selama ini saya belum pernah menemukan teman-teman non muslim yang mau makan ditempat umum pada saat jam berpuasa. Teman-teman nonmuslim memilih makan ditempat yang tertutup. Mereka menghargai. Lah ini? Toleransi bagi mereka yang mengaku muslim sengaja tidak puasa tanpa ada alasan yang membuat mereka tidak berpuasa. Kenapa kita harus membela yang salah? Jangan-jangan jika boleh saya baper, Suatu hari nanti saya mendengar, "Woy itu suara adzan berisik amat. Suka-suka GW donk dengarin musik saat lu membaca Al-Quran".

3.Mematikan Rezeki orang lain

????? ???? ???????? ??? ??????? ???? ????? ??????? ????????? ?????????? ?????????????? ????????????????? ????? ??? ??????? ??????? (?) -
. Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa)di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (Hud-6)

Allah SWT yang menjamin rezeki setiap umatNya. Tidak ada yang mematikan rezeki disini. Pemda hanya melarang berjualan dipagi hari. Ramadhan itu penuh berkah. Berjualan makanan masih bisa dilakukan pada sore hari mulai dari lauk, aneka es dan pastinya menu takjilan. Lebih barokah rezekinya.

4. Penggalangan Dana
Saya salut ketika hati nurani langsung terpanggil untuk penggalangan dana. Sekali lagi sah-sah saja mengalang dana. Toh itu duit anda masing-masing. Pertanyaannya, lebih baik mana membantu orang tua (miskin) yang menjalankan ibadah puasa namun tetap berusaha mencari berkah dibulan ramadhan seperti menjual makanan tradisional? atau membantu anak-anak miskin? Masih ingat kasus Darsem? TKW yang bebas dari hukuman pancung di Arab? "Dia bergelimang harta dan sombong. Perhiasan emasnya sempat dipamerkan kemana-mana," kata Elyasa Budianto, dalam perbincangan dengan VIVAnews.com, Jumat 5 Agustus 2011. Jika ingin membantu, bantulah sewajarnya

5. Bagaimana dengan gerai makanan fast food?
Nah, ini juga yang membuat saya menjadi bingung hingga saat ini. Jika ingin menghormati yang berpuasa. Harus adillah dalam menegakkan keputusan. Harus ada juga dong, ya aturan yang melarang mereka berjualan di pagi hari atau hanya menjual kepada mereka yang non muslim sebelum waktu berbuka tiba?

6. Indonesia terlalu lebay beda dengan Luar Negeri
Well, 3/4 penduduk Indonesia itu beragama islam. Wajar jika disebagian besar tempat instruksi penutupan warung selama jam puasa di instruksikan. Namun apakah semua? Saya rasa tidak, sebagai contoh di Bali. Umat islam disana harus menyesuaikan dengan kondisi disana. Keponakan saya juga sudah 6 tahun tinggal di Bali. Ia menghormati aturan di Bali bahkan ketika nyepipun ia mentaati nya untuk tidak keluar rumah. Bagaimana dengan LN? Jika kita berada di negara Minoritas islam, Bearti kita yang harus menyesuaikan dengan budaya, adat dan aturan tempat itu. Wajar jika jarang mendengar suara adzan berkumandang. Wajar jika sulit mencari tempat ibadah

Ah, sudahlah. Saya rasa ini tulisan terpanjang saya sejak mengenal dunia maya. Saya yakin tulisan ini pasti menuai pro dan kontra. Pro dan kontra sah-sah saja. Hanya saja saya berharap tidak ada hal-hal aneh yang terjadi misal menghina pancasila menjadi duta pancasila. Menghina Polwan menjadi Duta Anti Narkoba dan sebagainya. Sebutkan sajalah hehehe

Jakarta, 13 Juni 2016
Ghea Mirrela

  • view 202