Anak Penjaja Air di kota Bukittinggi, Lulus Beasiswa di Universitas Indonesia

Ghea Mirrela
Karya Ghea Mirrela Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 26 Januari 2016
Anak Penjaja Air di kota Bukittinggi, Lulus Beasiswa  di Universitas Indonesia

Siapa yang tidak tau dengan Universitas Indonesia. Banyak orangtua yang bangga jika anaknya bisa menjadi bagian dari kampus ini. Meski sejatinya, dimanapun kita kuliah akan tetap sama. Semua tergantung usaha kita selaku mahasiswa. Ini tulisan mengenai kekecewaan saya terhadap streotype dari sebagian masyarakat bahwa yang berhak lulus di UI hanya mereka dari kalangan "the have" atau yang sudah jelas babat, bibit, bebet,dan bobot dari keturunan yang katanya "pintar".

Seperti yang sering saya tulis sebelumnya, saya bukanlah berasal dari keluarga berada. Ayah saya hanyalah seorang penjaja air di Terminal air kuning. Bukittinggi. Beliau dikarunia 9 orang anak. 4 laki-laki dan 5 perempuan. Dari 9 orang anak beliau, cuma 3 orang yang bisa mengenyam bangku perkuliahan. Saya dan kedua orang adik saya Sadar akan kondisi keluarga yang bisa dipastikan tidak bisa melanjutkan perkuliahan jika masuk jalur biasa apalagi jalur mandiri. Sejak kelas 1 SMA, si bungsu sudah memiliki tekad, ia harus bisa masuk di Universitas Favorit karena itu hak setiap orang. Ia berjuang keras belajar, aktif di organisasi dan kegiatan sosial. Ia gigih bertanya kepada saya dan teman-teman saya mengenai bangku perkuliahan. Si bungsu, Alhamdulillah, selalu membawa angka 1, 2 atau 3 dalam penerimaan rapor hingga kelas 3. Ia membuktikan tekadnya yang kuat tak peduli apa kata orang. Ia hanya tau UI, UI dan UI. Itu saja! Bahkan kamarpun ia coret-coret. Si bungsu percaya, satu bangku untuknya! Saat perjalanan semakin dekat. Ia mengurus beasiswa Bidikmisi. Beasiswa, dimana semua biaya ditanggung oleh pemerintah. Tentu, dengan syarat dan ketentuan berlaku.

?

Proses panjang ia lewati. Alhamdulillah, ia lulus di FISIP UI. Jurusan kesejahteraan sosial. Si bungsu hanya satu-satunya siswa yang lulus. Dan cuma ada 3 orang angkatan 2015 yang lulus di UI. Kami sekeluarga bahagia. Satu mimpinya terwujud. Perjuangannya tak sia-sia. Tentu, berkat doa kedua orangtua dan ikhtiarnya. Keluarga berusaha tak mengumbar kabar gembira ini. Sampai datang beberapa orang datang ke rumah untuk berbagai hal dan keperluan. Para tetanggapun mulai bertanya. Kalimat inipun mulai muncul. "OOO Lulus di UI, hebat dong? Tapi apa yakin bisa bertahan?". "Ha? Lulus di UI? Kok bisa?" " Oo pantas aja lulus, jurusan yang diambil Kesejahteraan Sosial yang sedikit peminatnya". "Bagus sih, Lulus di UI, tetapi yakin biaya cukup untuk kuliah?" Jujur, saya berusaha menahan tangis saat si Bungsu menceritakan komentar masyarakat tentang kelulusannya. Apa yang salah dengan keluarga kami? Apa orangtua kami tidak berhak bahagia? Apa UI hanya untuk orang the have? Toh, siapapun berhak mendapatkan pendidikan yang layak bukan? Si bungsu mendapatkan ini semua bukan dengan cara yang mudah. 3 tahun ia memperjuangkannya. Tiga tahun ia melakukan ikhtiarnya. Sekeras apapun kalian merendahkan, maka akan kukali duakan untuk menyemangatinya.

?

Teruntukmu si Bungsu. Jangan bangga masuk UI, tetapi buatlah UI bangga menerimamu. Perjalananmu baru dimulai. Akan ada batu terjal, bukit berduri yang akan kau tempuh. Kau adalah perahu tanpa pendayung. Tetapi, kau harus sampai ditujuan. 8 Agustus lalu, Saya menulis tulisan ini. Satu semester telah ia lewati. Alhamdulilah si Bungsu bisa mendapatkan IP diatas 3,5. Remember the best way membalas orang yang menghina, merendahkan, mencacimu adalah dengan bekarya. Berubah menjadi pribadi yang lebih baik tanpa merendahkan orang lain. Apapun itu melangkahlah lurus kedepan. Abaikan suara sumbang. Anggap saja mereka orang yang mengagumimu tetapi caranya penyampaiannya yang salah. *Sebuah tulisan dari seorang kakak. Saya yakin bukan saya satu-satunya kakak yang merasakan hal ini

  • view 187