Izinkan Aku Menjadi yang Halal Bagimu

Ghea Mirrela
Karya Ghea Mirrela Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Januari 2016
Izinkan Aku Menjadi yang Halal Bagimu

Aku tidak pernah menyangka kau akan seberani itu. Masih jelas di ingatanku beberapa bulan lalu saat tubuhku terbujur kaku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hidup jauh dari Ayah dan Ibu. Bukittinggi - Jakarta, Serasa sesak rasanya malam itu. Sesekali ada tangis yang tersimpan saat dalam kondisi sakit biasanya ibu orang yang pertama kali menjadi tempat penganduanku. Ibu yang selalu siap siaga dengan ayah untuk segera memeriksakan kesehatanku.

Kamu selalu mengatakan bahwa kamu bukanlah lelaki romantis. Dimataku, Kamu adalah laki-laki yang paling romantis yang pernah hadir dalam hidupku. Memang benar, kamu tidak memberikan setangkai bunga mawar. Kamu memberikan masa depan untukku. Saat aku mengatakan kondisi tubuhku semakin drop. Kamu mengatakan bersabar, kamu akan segera menemuiku di kontrakan esok pagi. Ya, Tepat pukul 08:00 pagi, Kamu datang mengetuk pintu kontrakanku. Tidak banyak yang kamu ucapkan. Aku hanya melihat kamu membawa sebuah bingkisan yang isinya buah-buahan dan sarapan pagi untukku.

Kamu membantuku untuk makan. Menyandarkan tubuhku ke sisi bantal yang lebih empuk. Sesekali, Kamu menyeka sisi makanan yang tersisa di bibirku seraya berkata, "Kalau sakit, Manjanya minta ampun. Giliran sehat, Galaknya seperti singa lapar". Aku hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Aku tidak bisa mengabiskan semua sarapan itu.

Kamu membawaku ke Klinik terdekat. Kamu begitu cekatan menjagaku. Kamu sangat teliti menanyakan satu per satu penyebabnya kepada Dokter yang menanganiku. Padahal aku yang sakit.

Setelah semuanya selesai. Kamu kembali membawaku pulang. Kamu membersihkan kamar yang begitu berantakan karena ketidakberdayaanku selama sakit. Selang beberapa kamu sibuk mengotak-atik handphone munggilmu. Aku tidak tau apa yang sedang kamu lakukan. Sesekali tampak raut kesal diwajahmu.

Kamu kembali melihat kewajahku seraya berkaya, "Lain kali makanannya dijaga, Jangan terlalu kecapean". Aku hanya menganggukan kepala lemas. Kamu melanjutkan membersihkan ruang tamu, sampai kamu membuka isi kulkasku. "Dek ini apa-apaan? Kamu taukan kamu tidak boleh makan makanan yang mengandung MSG ? Mau cari gara-gara?". Aku hanya menundukkan kepalaku. Aku memperhatikan semua gerak-geriknya. Ia mengambil semua makanan yang mengandung MSG itu, Ia membuangnya ke tong sampah. " Cinta, kenapa makanan itu di buang? kan belinya pake duit". "Ia belinya pake duit, tetapi bukan makanan itu yang akan membuat aku kehilangan kamu! Paham?" . Aku semakin tertunduk lemas. ini salahku!

Kamu kembali mengotak-atik Handphonemu. Aku tidak tau siapa yang ia telphone. "Alhamdulillah, Masuk.", ujarnya. Kamu duduk tidak jauh dari sisiku. Ternyata kamu menelphone ibuku. Kamu mengeraskan suara handphonemu agar aku bisa mendengar percakapan kalian. Dan percakapan ini akan aku ingat seumur hidupku

" Bu, Aku sekarang dikontrakan Adek. Ia sakit. Sudah tiga hari suhu badannya tidak turun-turun. Badannya pucat pasi. Kami hanya berdua di Jakarta dan tinggal di tempat terpisah. Aku tidak ingin hal-hal buruk terjadi kepadanya sepeninggalku. Maafkan aku, Aku bukanlah laki-laki yang terlalu pandai menyusun kata-kata manis. Aku ingin melamar anak ibu. Aku tidak sanggup melihat dia sakit tanpa ada pendamping yang halal disisinya. Aku siap menanggung semua tentangnya. Biar Ayah dan Ibu tidak risau akan keselamatnnya. Izinkan kedua orangtuaku bersilaturahmi ke rumah Ibu". Air mataku jatuh berderai saat ia dengan gagah beraninya mengucapkan kalimat-kalimat ini disaat aku sakit seperti ini.

Adakah Hal yang paling membahagiakan bagi seorang perempuan selain di lamar oleh laki-laki yang ia cintai? Bagiku, inilah hal teromantis yang pernah kamu berikan untukku. Kamu membuktikan ketulusan dan keseriusanmu kepada Ibu dan kedua orangtuaku. Apa adanya kamu lengkapi apa adanya aku. Disaat itulah hidupku sempurna

?

?

  • view 268