Kurindu ITD - Tentang Identitas yang Dicemoohkan : Menjadi Waria

Ghea Cahya Yulitha
Karya Ghea Cahya Yulitha Kategori Renungan
dipublikasikan 20 November 2016
Kurindu ITD - Tentang Identitas yang Dicemoohkan : Menjadi Waria

Ada satu hal yang sering kali terlupakan oleh kita. Bukan hanya tentang agama, suku-budaya, atau pun tentang warna kulit saja, melainkan berperilaku menyimpang juga kerap kali menjadi sasaran empuk untuk dijadikan bahan diskriminasi. Salah satunya adalah dengan menjadi seorang waria.

Waria merupakan sebutan bagi para lelaki yang berpenampilan dan berperilaku layaknya seorang wanita. Kata waria sendiri, bukanlah sesuatu yang baru bagi Bangsa Indonesia. Sejak beratus-ratus tahun yang lalu, kalangan waria sebetulnya telah dikenal secara luas. Bahkan, pada survey yang dilakukan tahun 2008 lalu, ada sekitar tujuh juta kaum waria yang berada di Indonesia. Dengan jumlah yang sebanyak itu, kaum waria masih dianggap sebagai suatu hal yang tabu oleh masyarakat.

Secara umum ada dua macam cara masyarakat memandang seorang waria : jijik dan takut. Jijik, ketika kalangan masyarakat tersebut merasa dirinya adalah manusia yang paling normal, sehingga melihat suatu yang menyimpang membuatnya menjadi merasa kegelian. Sementara takut, karena mungkin saja di detik ini para waria itu berjoget-joget ria, namun di detik berikutnya mereka justru melakukan serangan. Terlebih ketika saweran yang diberikan hanya sebesar lima ratus rupiah. Sejauh ini, setidaknya itu lah yang masih berada dalam pikiran masyarakat.

Jujur saja, meski telah dua puluh tahun hidup sebagai Bangsa Indonesia, saya harus mengatakan bahwa Bangsa Indonesia ini membosankan. Bangsa Indonesia terlalu sibuk hidup dengan prinsip-prinsip kenormalan yang diciptakan olehnya sendiri. Karena, laki-laki tidak seharusnya mengenakan rok. Laki-laki tidak seharusnya berdandan. Dan, laki-laki tidak seharusnya melambai.

Saya tidak mengatakan bahwa prinsip-prinsip tersebut adalah salah.

Tapi, pernahkah terpikirkan oleh kita, apakah menjadi waria adalah sesuatu yang pernah mereka minta dalam hidupnya? Ketika terbangun di pagi hari, dan perilaku tiba-tiba saja menjadi membelok. Ketika menyimpang menjadi satu-satunya hal yang harus dilakukan. Apakah kita masih menyalahkan mereka akan sesuatu yang sebetulnya juga tidak pernah mereka inginkan?

Ya, tidak pernah mereka inginkan. Yulianus Rettoblaut, selaku Ketua Forum Komunikasi Waria, pernah mengatakan bahwa “waria itu adalah wanita yang terperangkap dalam tubuh lelaki dan sebenarnya kita juga tidak mau seperti ini”. Mereka juga tidak menyenangi hidupnya dengan menjadi seorang waria. Mereka juga menyesalinya. Itulah sebabnya, mengapa menyalahkan mereka karena menjadi seorang waria bukanlah suatu tindakan yang tepat.

Setelah mengetahui ketidakmampuan mereka untuk menolak menjadi seorang waria, saya yakin masih banyak yang belum dapat merubah pandangannya terhadap waria. Untuk itu, saya akan membeberkan satu alasan lagi mengapa waria kerap kali dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Yaitu, mengenai pekerjaan yang paling melekat dengan diri mereka, menjadi pekerja seks komersial.

Di jalanan, selain sering menemukan para waria tersebut mengamen, kita juga pasti tidak jarang melihatnya berperilaku menggoda ketika malam tiba. Atau jika tidak pernah melihatnya secara langsung, berita tentang para waria yang dikejar Satpol PP tentu bukan menjadi kabar yang asing untuk didengar. Hal-hal ini lah yang kemudian membuat masyarakat selalu berpikiran buruk tentang waria. Tapi, tahukah kita bahwa sebetulnya kita lah penyebab dari mereka yang akhirnya mau tidak mau harus memilih pekerjaan tersebut?

Menurut Yulianus Rettoblaut, para waria yang berada di daerah sering kali tidak diterima oleh lingkungan sekitar. Bahkan ada yang sampai diusir dari rumahnya sendiri karena tidak diterima keluarga, dan membuat mereka terpaksa bermigrasi ke kota. Para waria yang sebelumnya telah mendapatkan pekerjaan yang layak pun juga harus rela kehilangan pekerjaan ketika identitasnya sebagai seorang waria diketahui.

Kita yang telah merebut pekerjaannya dengan perlakuan diskriminasi yang secara tidak adil mereka terima. Kita yang telah merenggut kesempatannya, dan sekarang kita masih menyalahkan mereka dan pekerjaannya yang penuh dosa?

Saya tahu menjadi waria merupakan perilaku menyimpang yang seharusnya memang tidak dilakukan. Terlebih di negara kita yang berbudaya timur dan beragama. Dan, saya sangat paham, bahwa ketakutan terbesar masyarakat menerima waria adalah karena tidak ingin membuat populasi mereka menjadi kian bertambah.

Untuk membuatnya menjadi lebih adil, saya akan memberitahukan apa-apa saja yang seharusnya dapat kita lakukan, selain melakukan diskriminasi terhadap mereka. Anggap saja mereka adalah bagian dari sekian banyak orang yang kurang beruntung yang berada di Indonesia.

Satu, kita dapat menerima mereka dengan bekerja bersama kita, seperti kita membiarkan orang-orang berkebutuhan khusus memiliki pekerjaan yang normal tanpa membeda-bedakan. Kedua, kita dapat menolong mereka dengan mendirikan rumah sakit kejiwaan khusus para waria, seperti kita mendirikan rumah sakit khusus bagi penderita kanker. Ketiga, kita dapat mensejahterakan mereka dengan memberikan pelatihan bekerja atau pemberian modal, sama seperti kita mensejahterakan masyarakat pedalaman yang tidak bersekolah. Atau cara yang paling sederhananya adalah dengan menerima keberadaan mereka sebagai bagian dari Bangsa Indonesia. Bagaimana pun, waria masih tetaplah merupakan Warga Negara Indonesia.

Saya merindukan Indonesia tanpa diskriminasi. Tidak ada yang membeda-bedakan, baik itu identitas sekali pun. Saya merindukan Indonesia yang hidup saling berdampingan dan bergotong royong tanpa memilih. Saya merindukan senyum Indonesia dalam damai dan tanpa perbedaan.

Mungkin tidak akan banyak yang menyetujui, namun saya harus tetap menyampaikannya. Seperti pesan yang ingin disampaikan dari kisah “Mimpi Sepeda Ontel” buatan Denny J.A., bahwa apapun yang kita lakukan, dunia akan selalu menyalahkan, tapi yang paling penting dari itu semua adalah untuk berani menjadi berbeda. Burung harus terus berkicau, tak peduli siapa pun yang meracau. Dan itu lah, apa yang sedang saya lakukan sekarang.

Sumber gambar : [Disini]

  • view 193