DALAM SATU IKATAN

Gugum Gunawan Algifari
Karya Gugum Gunawan Algifari Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 23 Februari 2016
DALAM SATU IKATAN

DALAM SATU IKATAN

Oleh Yosi Novita Dewi

?

?Pagi, kak Novi!,? Liza temanku menyapa.

?Pagi juga, Liza. Ayo sini! Kita sarapan bareng,? ajak aku pada Liza.

Para santri memulai hari dengan sarapan.

?Kak, gimana? Jadi seminar sekarang?? tanya Liza.

?Of course, kita berangkat sekitar setengah jam lagi,? jawab aku sembari tersenyum.

?Ok, kak. Aku siap-siap, ya!? ucap Liza sambil pergi dari ruang makan.

Semua telah aku bereskan dan aku siap-siap untuk menghadiri acara seminar hari ini.

?

Di sepanjang perjalanan, tak pernah sedikit pun terbayang bisa menghadiri seminar bedah buku dan secara live bisa bertemu dengan penulisnya. ?Ini sungguh luar biasa,? pikirku. Aku benar-benar tak sabar ingin cepat-cepat mendengarkan pengetahuan dari penulis itu.

Pukul 07.00 pagi kami berada di lokasi, di gedung Yosanah GKP Kota Sukabumi.

Sungguh tak pernah ada dalam benakku bisa berada di kompleks gereja ? yang mana gedung acara tersebut tepat bersebelahan dengan gereja. Rasa kaget dan panik menyelimuti pikiranku. Entah apa yang aku rasakan, hanya rasa tak percaya yang saat ini aku rasakan. Akhirnya rasa penasaran itu pun timbul dan aku bersama Liza menghampiri gedung tersebut.

Di situ aku tercengang karena nampaknya belum terlihat peserta seminar yang datang. Aku dan Liza pun segera masuk ke dalam gedung tersebut dan menempati bangku yang telah disediakan.

Aku bersama Liza bertemu dengan seorang ibu yang mana ibu itu adalah pemilik gedung beserta gereja tersebut. Tiba-tiba rasa tidak percaya itu timbul lagi.

?Aduh! Apa yang sebenarnya terjadi? Sungguh aku tak percaya dengan semua ini.?

Kami pun ingin tahu lebih dalam tentang latar belakang ibu itu. Akhirnya aku memberanikan diri bertanya padanya.

?Ibu, boleh nanya nggak??

?Oh silakan saja,? jawab ibu itu singkat.

Aku bertanya nama, alamat dan status ibu tersebut. Ibu itu menjawab namanya ibu Nining, alamat di Kuningan dan statusnya masih single ternyata. Rasa ingin tahu aku pun tinggi, aku pun melontarkan beberapa pertanyaan yang mana pertanyaan itu sangat mudah bagi bu Nining.

?Oh iya, Neng, kalau ibu boleh tahu namanya siapa? Dari mana? Dan sekolah kelas berapa??? tanya bu Nining penasaran.

?Aku Sisi, Bu, dan ini Liza adik tingkat Sisi. Kami tinggal di Pesantren Selajambe Cisaat dan kita kuliah di sana baru semester V,?? ucapku jelas.

Kami pun berbincang-bincang cukup lama dan ternyata beliau adalah pendeta di gereja ini.

?Waw! Ini rasanya sulit ku percaya, tak pernah aku bermimpi bisa bertemu dengan pendeta perempuan!? batinku.

Aku pun bertanya tentang perbedaan protestan dan Katholik. Beliau pun menjawab sangat berbeda sekali entah itu dari kitab atau pun ajarannya. Di situ aku merasa wawasanku bertambah dan aku rasa bu Nining ini seorang pendeta yang baik hati dan lemah lembut. ?Orangnya juga sangat asik,? ucapku.

???????????????????????????????????????????????????????????????????? ***

Acara inti akan segera dimulai dan aku pun duduk manis untuk mendengarkan ulasan dari kedua penulis ini.

?Wiihhh it is very cool,? ucapku dalam hati.

Banyak hal yang dapat aku ambil dari seminar ini. Selain dapat teman baru, aku juga dapat ilmu tambahan. Dua penulis ini sangat sabar mengajari kami dari mulai penempatan kata, menulis cerita yang baik, dan uji coba menulis cerita yang berbentuk naratif. Sunguh luar biasa dua kakak penulis ini.

?Thanks for all, kak!? hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulutku.

Setelah itu? kita pun berpose untuk foto bareng bersama kakak panitia semua. Tak terasa waktu telah berlalu begitu cepat, dan itu mengakhiri acara pertemuan pada seminar kali ini.

Pengalaman kali ini cukup membuat aku happy. Tak terasa hampir 6 jam kita berada disini dan semua peserta seminar bergegas meninggalkan tempat ini dengan berbondong-bondong.

Rasa lelah bercampur dengan rasa bahagia itu menyelimuti pikiranku. Hanya orang terpilihlah yang bisa berada di tempat ini dan aku sangat bersyukur bisa meluangkan waktu untuk menghadiri tempat ini tanpa harus meninggalkan kewajibanku di pondok pesantren.

Yah bisa dibilang aku tuh hobi banget nulis. Jadi kalau ada kesempatan yang hubungannya dengan nulis, entah itu fiksi atau non-fiksi, aku pasti menyempatkan untuk hadir dan mengikuti acara dari awal sampai akhir. Karena itu cita-citaku sejak SMP, aku menyadari bahwa tak selamanya yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Namun dengan berusaha dan berdoa, semua itu akan menjadi lebih mudah bagi Allah untuk memberikan jalan keluar bagi seseorang yang ingin berusaha keras. ?Yang terpenting tidak terlepas dari kaidah hukum Islam,? ujarku.

?Aku hanya bisa menunggu kesempatan datang kepadaku, Liza. Agar suatu saat nanti aku bisa menjadi seorang penulis tanpa harus memaksakan kehendak, dan aku siap dengan semua konsekuensinya yang akan terjadi pada suatu hari nanti,? ucapku sambil memandang Liza penuh semangat.

?Aku yakin rencana Allah lebih indah....?

?Liza jadi termotivasi sekali dengan kegigihan kak Sisi. Good luck ya, kak,? ucap Liza sambil tersenyum.

Desiran angin yang mampu memberikan kedamaian kepada setiap insan yang sedang merasakan keresahan, itulah yang pernah aku alami saat merasakan kegagalan. Tak selamanya hidup kita akan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Justru banyak hambatan untuk mencapai keberhasilan itu.

?Pepatah mengatakan: semakin tinggi pohon menjulang semakin berat rintangan menghadang. Itu yang selalu aku ingat dan kujadikan motivasi untuk diriku sendiri, Liza,? ucapku meneteskan air mata. Liza pun memelukku.

Kulihat jendela kamar masih terbuka. Hujan turun dengan lebatnya dan kupandangi setiap tetesan air hujan yang menetes. Aku tersenyum sendiri membayangkan keceriaan yang telah kulalui saat berada di tempat seminar tadi. Rasanya sulit untuk aku lupakan bayangan itu. Semakin terlihat jelas di pelupuk mataku dengan canda tawa yang mengisahkan sejuta kebahagiaan.

?Biarkan perbedaan keyakinan itu menjadi suatu ikatan yang baik untuk menjalin tali silaturahmi antar-agama,?? ucapku menutup perbincangan siang tadi.

  • view 138